Tips Jitu Berumah Tangga

30 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tips Jitu Berumah Tangga

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Rumah tangga tak selalu penuh dengan manisnya madu. Terkadang tak seindah cerita roman. Tak sesyahdu bulan pertama pernikahan. Lambat laun akan muncul berbagai gesekan yang mengakibatkan dinding rumah mulai terasa sempit, lantai yang mulai bergetar serasa gempa. Namun itulah rumah tangga. Siapapun dia yang sudah menikah pasti pernah mengalami manisnya dan ketirnya kehidupan berumah tangga.

Nah, berikut ada sebuah tips bagi saya dan anda sebagai suami agar ketika badai mulai mengancam bahtera rumah tangga, kita dapat mengambil sikap yang hikmah.

Tips yang kumaksudkan terambil dari sebuah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari istri tercinta beliau ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنِّى لأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّى رَاضِيَةً وَإِذَا كُنْتِ عَلَىَّ غَضْبَى. قَالَتْ فَقُلْتُ وَمِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ قَالَ أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّى رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِينَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ.

Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berkata kepadaku (‘Aisyah –pen), “Sesungguhnya aku (Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam -pen) benar-benar tahu jika engkau (‘Aisyah –pen) sedang ridho kepadaku dan ketika engkau sedang marah kepadaku”. Aku (‘Aisyah –pen) bertanya, ‘Darimana engkau tahu hal tersebut ?’ Lantas beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Jika engkau sedang ridho kepadaku maka engkau akan mengatakan, ‘Tidak, Demi Robb Muhammad’. Sedangkan bila engkau sedang marah kepadaku maka engkau akan mengatakan, ‘Tidak, demi Robb Ibrohim”. Lalu aku (‘Aisyah –pen) pun berkata, ‘Demi Allah wahai Rosulullah, memang yang tidak aku sebut ketika marah hanyalah namamu (artinya ‘Aisyah sebenarnya hanya marah kepada nama beliau saja -pen)”[1].

Ibnu Hajar Al Asqolaniy Rohimahullah mengatakan,

 

“Dari hadits ini dapat dipetik faidah (seyogyanya -pen) seorang suami meneliti dengan seksama keadaan istrinya ketika marah, baik perbuatan yang dilakukannya atau ucapan yang diucapkannya kapan ada dan tidak ada. Kesimpulannya dapat ditetapkan dari indikator tersebut. Karena beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menegaskan saat ridhonya ‘Aisyah dan marahnya hanya dengan melihat penyebutan nama beliau atau tidak. Ketika demikian maka jelaslah bagi beliau perubahan keadaan ‘Aisyah apakah dia sedang ridho atau marah. Namun dimungkinkan juga digabungkan dengan indikator lainnya yang lebih jelas namun tidak ternukilkan di hadits ini”[2].

Artinya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar memperhatikan gerak-gerik istri beliau, ketika marah atau senang. Demikian juga ucapannya. Diantara faidahnya Allahu a’lam, ketika kita mampu mengenali kebiasaan ekspresi istri kita ketika marah atau tidak maka kita dapat menempatkan diri kita secara hikmah. Misalnya ketika istri benar-benar ‘mangkel’ kepada kita maka janganlah kita acukan namun sikapilah dengan sikap yang menenangkan dan lembut. Jangan segan untuk meminta maaf atau memaafkan lebih dahulu. Karena istri anda tentu lebih layak untuk anda sikapi dengan baik dari pada pembantu.

Telah sah hadits dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ نَعْفُو عَنِ الْخَادِمِ فَصَمَتَ ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ الْكَلاَمَ فَصَمَتَ فَلَمَّا كَانَ فِى الثَّالِثَةِ قَالَ اعْفُوا عَنْهُ فِى كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً .

‘Seorang laki-laki datang menemui Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata, “Wahai Rosulullah berapa kali kita memaafkan pembantu kita ?” Kemudian Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun diam. Orang tersebut mengulangi pertanyaannya namun Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun tetap diam. Kemudian orang tersebut mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali maka Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun mengatakan, “Maafkan/berikan maaf kepadanya dalam sehari 70 kali[3].

Jika demikian besarnya maaf yang seharusnya anda berikan kepada pembantu maka tentulah istri lebih layak lagi.

Faidah lainnya dari hadits ini yang berkaitan dengan tema kita adalah sebagaimana disampaikan Ustadz Firanda Andirja, MA Hafizhahullah,

 

“Hadits ini menunjukkan bagaimana cara Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memberi nasihat dan arahan kepada istrinya, dimana beliau ingin agar ‘Aisyah merasa bahwa ia tahu kapan ‘Aisyah ridho dan marah kepadanya. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan ini ketika ‘Aisyah dalam keadaan tenang. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ingin menunjukkan kepada ‘Aisyah bahwa ia sangat sayang dan memperhatikannya bahkan ketika ‘Aisyah sedang marah kepadanya. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan hal ini dengan cara canda agar membuat ‘Aisyah senang dan menjawab Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan penuh adab yang disertai canda juga”[4].

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat untuk menggugah diri kita agar kembali menjadikan istri kita sebagai permaisuri di rumah kita.

NB : Istri juga sangat layak melakukan yang demikian.

 

Setelah Isya, ketika Hudzaifah sakit

16 Dzul Hijjah 1436 H / 29 September 2015 M.

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

[1] HR. Bukhori no. 5228, Muslim no. 4469.

[2] Lihat Fathul Bari hal. 678/XI terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[3] HR. Abu Dawud no. 5164. Hadits ini dishohihkan Al Albani Rohimahullah. Simak penjelasan hadits ini di sini

[4] Lihat Kiat-kiat Membahagiakan Istri Menjadi Suami idaman hal. 69 terbitan Naashirus Sunnah.

Tulisan Terkait

Leave a Reply