Tanda Bahagia dan Sengsara

18 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tanda Bahagia dan Sengsara

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Bahagia dan sengsara merupakan dua buah kata yang saling bertentangan. Kedua kata ini merupakan kata yang diidam-idamkan seseorang dan ditakuti pada saat yang bersamaan. Namun tak jarang kita temukan pada diri kita sendiri. Ketika melakukan sesuatu jelas yang kita inginkan adalah meraih kebahagiaan namun sayang ternyata yang kita kerjakan adalah pengantar menuju kesengsaraan.

Sudah kita singgung sedikit tentang bagaimana meraih kebahagiaan pada artikel sebelumnya. Silakan klik di sini. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kita hanya menukil sebuah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى

“Thoohaa . Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. (QS. Thoohaa [20] : 1-2).

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan[1],

Tanda Bahagia dan Sengsara 1

“Firman Allah Ta’ala,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. (QS. Thoohaa [20] : 2).

Juwaibir mengatakan dari Adh Dhohak, ‘Ketika Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rosul Nya Shollalahu ‘alaihi wa Sallam, Beliau dan para shahabat menunaikan isi Al Qur’an. Maka orang-orang musyrik dari Quroisy pun mengatakan, ‘Tidaklah Al Qur’an ini diturunkan kepada Muhammad melainkan agar dia susah dan sengsara’. Maka Allah Ta’ala pun berfirman,

طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى

“Thoohaa . Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. (QS. Thoohaa [20] : 1-2).

Maka keadaan sebenarnya bukanlah sebagaimana yang dibayangkan orang-orang yang bathil. Bahkan barangsiapa yang Allah anugrahi ilmu maka sungguh berarti Allah menginginkan kebaikan yang sangat banyak untuk orang tersebut. Sebagaimana tercantum dalam Kitab Shohihain dari Mu’awiyah, dia mengatakan, ‘Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan yang sangat banyak untuknya maka Dia akan pahamkan kepada orang tersebut urusan agama”[2].

Singkatnya, Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dan untuk ummatnya hanya untuk membuat merek bahagia. Oleh sebab itu siapa yang ingin benar-benar memperoleh kebahagiaan maka carilah di kitab yang memuat kebahagiaan yaitu Al Qur’an Al Karim.

Masalahnya, seperti yang kami ungkap di atas. Bagaimana kita tahu bahwa yang sedang kita kerjakan, lakukan, cari adalah jalan menuju kebahagiaan ?? Atau jangan-jangan kita sedang meniti jalan menuju kesengsaraan. Oleh karena itu sangat penting mengetahui ciri, tanda-tanda kebahagiaan dan kesengsaraan.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan[3],

Tanda Bahagia dan Sengsara 2

Diantara tanda kebahagiaan dan keberhasilan/keberuntungan adalah ketika seorang hamba ditambahkan Allah ilmu kepadanya maka bertambah pula ketawadhu’an/rendah diri dan kasih sayangnya. Semakin bertambah amalnya semakin bertambah pula rasa takutnya kepada Allah dan kehati-hatiannya. Semakin bertambah umurnya semakin berkurang rasa inginnya/tamaknya kepada (kenikmatan dunia). Semakin bertambah hartanya semakin bertambah pula sikap pemurah dan dermawannya. Semakin bertambah tinggi kedudukannya semakin bertambah dekat dengan orang lain, masyarakat dan semakin bertambah ingin untuk menunaikan kebutuhan mereka dan semakin rendah hati kepada mereka”.

Tanda Bahagia dan Sengsara 3

“Sedangkan tanda, ciri kesengsaraan adalah ketika semakin bertambah ilmunya semakin bertambah sombong, merasa besar dan takabbur. Semakin bertambah amalnya semakin sombong, merasa lebih baik, meremehkan orang lain dan semakin mengira baik dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya semakin bertambah tamak, rakus terhadap dunia. Semakin bertambah hartanya semakin bertambah bakhil, pelit dan enggan memberi. Semakin bertambah kedudukan dan status sosialnya semakin sombong dan angkuh”.

Pertanyaannya :

Apakah tambahan ilmu kita mampu membuat kita semakin rendah hati dan menginginkan kebaikan untuk orang lain ?? Ataukah semakin sombong dan takabbur ???!!

 

Apakah tambahan amal kita mampu membuat kita semakin takut kepada Allah ?? Atau malah semakin membuat kita meremehkan orang lain dan menganggap diri sendiri baik ??!!

 

Apakah tambahan umur kita mampu mengurangi tamak kita kepada harta, kedudukan, wanita ??? Atau malah semakin bertambah umur semakin bertambah pula tamak kita terhadap dunia ??!!!

 

Apakah tambahan harta kita membuat kita semakin dermawan dan semakin pemurah pada orang lain ??? Atau malah semakin bertambah harta membuat kita semakin bakhil dan pelit ??

 

Apakah semakin tinggi kedudukan kita membuat kita semakin rendah hati kepada orang lain, semakin gampang orang lain berurusan dengan kita ??? Atau malah semakin tinggi kedudukan kita semakin sombong dan angkuh pula kita ??!!

Mari lihat diri kita dicermin. Ada dimana diri kita masing-masing ??!!

 

Allahu a’lam

#marinilaidirimasing-masing

Selesai ‘Isya, 26 Sya’ban 1436 H, 13 Juni 2015 M

 

Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim hal. 272/V Terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[2] HR. Bukhori no. 71, Muslim no. 1037.

[3] Lihat Fawaidul Fawaid hal. 357 cet. Tahun 1429 H terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply