Tahapan Diwajibkannya Puasa Bagi Ummat Islam

8 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tahapan Diwajibkannya Puasa Bagi Ummat Islam

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan dalam Kitabnya Al Hadyii,

كان فرضه فى السنة الثانية من الهجرة، فتوفِّى رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وقد صامَ تِسع رمضانات، وفُرِضَ أولاً على وجه التخيير بينه وبين أن يُطعِم عن كُلِّ يوم مسكيناً، ثم نُقِلَ مِن ذلك التخيير إلى تحتُّم الصومِ، وجعل الإطعام للشيخ الكبير والمرأة إذا لم يُطيقا الصيامَ، فإنهما يُفطِران ويُطعمان عن كُلِّ يوم مسكيناً، ورخَّص للمريض والمسافِر أن يُفطرا ويقضيا، ولِلحامِل والْمُرضِعِ إذا خافتا على أنفسهما كَذَلِكَ، فإن خافتا على ولديهما، زادتا مع القضاء إطعام مِسكين لِكُلِّ يوم، فإن فطرهما لم يكن لِخوف مرض، وإنما كان مع الصِّحة، فجُبِر بإطعام المسكين كفطر الصحيح فى أوَّل الإسلام.

وكان للصوم رُتَبٌ ثلاث، إحداها: إيجابُه بوصف التخيير.

والثانية تحتُّمه، لكن كان الصائمُ إذا نام قبل أن يَطْعَمَ حَرُمَ عليه الطعامُ والشرابُ إلى الليلة القابلة، فنُسِخ ذلك بالرتبة الثالثة، وهى التى استقر عليها الشرعُ إلى يوم القيامة.

“Puasa diwajibkan pada tahun ke dua setelah peristiwa hijroh[1]. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan telah melaksanakan sembilan kali Puasa Romadhon[2]. Puasa Romadhon pertama kali diwajibkan dalam bentuk pilihan, antara melaksanakan puasa atau memberi makan setiap harinya satu orang miskin.

Kemudian dirubah menjadi penetapan puasa. Sedangkan kewajiban memberi makan setiap harinya satu orang miskin bagi orang yang sudah lanjut usia yang tidak sanggup puasa dan perempuan yang tidak lagi sanggup berpuasa. Maka untuk kedua golongan orang ini boleh tidak berpuasa namun dengan memberi makan setiap hari yang ditinggalkan untuk satu orang miskin[3]. Sedangkan bagi orang yang sakit, musafir wajib bagi mereka mengganti di hari yang lain. Sedangkan bagi orang yang hamil dan menyusui jika mereka takut akan jiwanya dan anaknya maka selain mengganti mereka juga harus menambahnya dengan memberi makan setiap hari yang ditinggalkan satu orang miskin karena mereka tidak berpuasa bukan karena sakit. Maka diwajibkan juga bagi mereka memberi makan 1 orang miskin setiap hari yang mereka tidak berpuasa[4] sebagaimana diwajibkan puasa pertama sekali.

Ringkasnya proses pewajiban Puasa Romadhon melalui tiga fase.

Pertama diwajibkan dalam bentuk pilihan.

Kedua diwajibkan dalam bentuk puasa saja namun jika orang yang berpuasa tertidur sebelum makan (ketika telah masuk waktu berbuka) maka ia tidak boleh makan dan minum hingga hari berikutnya (tidak ada sahur baginya sebelum subuh).

Tahap Ketiga[5] rincian ini dihapus sebagaimana puasa yang kita lakukan sekarang dan tahap ini berlaku hingga hari qiyamat”.

 

Syiakh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Hikmah diwajibkannya puasa melalui tahap pilihan ini adalah adanya pentahapan dalam pensyari’atan agar lebih mudah diterima sebagaimana pengharaman khomer”[6].

Mudah-mudahn bermanfaat.

[Diterjemahkan dari Kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyii Khoiril ‘Ibaad oleh Ibnu Qoyyim hal. 29-30 dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qodir Al Arnauth terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.]

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Hal ini diklaim ijma’ oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin Rohimahullah sebagaimana beliau katakan di Syarhul Mumthi’ hal. 164/III terbitan Al Maktab Al ‘Alimi Li Nasyri terbitan Beirut.

[2] Idem.

[3] Imam Bukhori Rohimahullah dalam kitab Shahihnya no. 4505 meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhu tentang tafir firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

 “Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (QS. Al Baqoroh [2] : 184)

Ayat ini tidaklah dimansukh/hapus, yaitu yang dimaksud adalah orang yang tua renta baik laki-laki dan perempuan yang tidak mampu lagi berpuasa. Maka wajib bagi mereka memberi makan orang miskin sebanyak hari yang mereka tinggalkan.

[4] Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya no. 2408 dan Tirmidzi no. 715. Namun apa yang disampaikan Ibnul Qoyyim di sini merupakan perkara yang diperselisihkan pada ulama Rohimahumullah, yaitu apakah ada tambahan wajib memberi makan orang miskin pada setiap hari yang ditinggalkan. Pendapat yang dipilih Ibnul Qoyyim di sini diriwayatkan merupakan pendapatnya Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas, Mujahid, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang wajib hanyalah menggantinya di hari yang lain sebagaimana orang yang sakit. Inilah pendapatnya Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, An Nakho’i, Az Zuhri, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsauri dan Ashabu Ro’yi. Imam Malik mengatakan, ‘Orang yang hamil wajib mengganti puasanya di hari yang lain dan tidak wajib memberi makan orang miskin. Karena jika ia berpuasa maka dapat membahayakan jiwanya sebagaimana orang yang sakit. Sedangkan orang yang menyusui maka wajib baginya mengganti puasa dan memberi makan satu orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkannya.

[5] Imam Al Bukhori mengeluarkan dalam Kitab Shahihnya no. 1915, demikian juga Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 18611, dari Baro’ bin ‘Azib Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Dahulu para Shahabat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam jika seorang laki-laki berpuasa kemudian tibalah saat berbuka. Lalu ia tertidur sebelum makan dan minum maka ia tidak boleh makan pada malam harinya hingga keesokan harinya (waktu maghrib tiba).  Sesungguhnya Qois bin Shirmah Al Anshori Rodhiyallahu ‘anhu berpuasa, kemudian tibalah waktu berbuka. Ia lantas menemui istrinya dan bertanya, ‘Adakah makanan ?’ istrinya menjawab, ‘Tidak’, namun aku akan mencarikan makanan untukmu’. Qois bin Shirmah pada siang harinya bekerja hingga lelah dan ia pun tertidur. Lalu datanglah istrinya, ketika ia melihat Qois maka ia mengatakan, ‘Celakalah engkau’. Ketika tengah hari tiba ia kemudian pingsan. Hal ini disampaikan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian turunlah ayat,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

 “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu”. (QS. Al Baqoroh [2] : 187)

Maka para sahabatpun gembira sekali. Kemudian turunlah ayat,

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ

“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al Baqoroh [2] : 187).

[6] Lihat Syarhul Mumthi’ hal. 164/III.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply