Tafsir Surat Al Kahfi (19)

3 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (19)

 

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 23-24]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, “Sesungguhnya aku mengerjakan ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS. Al Kahfi [18] : 23-24).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-a

“Disebutkan (para ahli tafsir) bahwasanya orang Quraisy diutus menuju orang Yahudi di Kota Madinah. mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya ada seorang pria yang diutus di tengah-tengah kami dan mengatakan bahwasanya dia adalah seorang Nabi. Lantas orang-orang Yahudi berkata, ‘Tanyakanlah kepadanya 3 perkara :

Pertama, tentang pemuda yang keluar dari kota mereka dan menetap di gua. Bagaimana perihal mereka ?

Kedua, tentang seorang pria yang menguasai bumi bagian Timur dan Barat.

Ketika, tentang ruh.

Lantas merekapun menanyakan hal tersebut kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tentang Ashhabul Kahfi”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-b

“Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab, “Besok pasti akan aku ceritakan kepada kalian”. Namun wahyu pun terhenti sekitar 15 hari. Beliau tidak mendapatkan wahyu. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengetahui tentang kisah-kisah orang terdahulu sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan engkau tidak pernah membaca sebelum (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu. Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis) benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)”. (QS. Al Ankabut [29] : 48).

Bahkan Allah menguji beliau. Dia menahan wahyu selama sekitar 15 hari sebagaimana Dia menguji Sulaiman ‘’alaihissalam ketika beliau mengatakan[1], “Sungguh benar-benar aku akan mengelilingi 90 orang wanita yang akan melahirkan masing-masingnya 1 orang anak yang kelak akan berperang di jalan Allah. Salah seorang malaikat berucap, “Katakanlah Insya Allah”. Namun Nabi Sulaiman ‘’alaihissalam tidak mengucapkannya. Beliaupun mengelilingi 90 orang wanita dan berjima’ dengan mereka. Lantas apa yang terjadi ? Yang menghasilkan hanya 1 orang dari wanita-wanita tersebut namun anaknya cacat/tidak normal. Allah Ta’ala memperlihatkan kepada para hamba Nya bahwasanya penentu segala urusan hanyalah Dia dan manusia setinggi apapun kedudukannya serta kemuliaannya di sisi Allah Ta’ala, sesungguhnya mereka tidak dapat menghindar/lari dari ketentuan/takdir Allah”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-c

“Wahyu pun terhenti selam 15 hari. Merupakan sebuah hal yang diketahui bersama bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sedih dikarenakan penundaan jawaban atas pertanyaan mereka tersebut akan menjadi jalan bagi mereka untuk mendustakan beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Padahal sebenarnya hal tersebut bukanlah jalan bagi mereka untuk mendustakan beliau. Tepatnya boleh jadi mereka akan mengatakan, ‘Muhammad menjanjikan kepada kami bahwa dia akan mengabarkan hal tersebut besok namun dia tidak mengabarkannya. Lantas dimana wahyu yang dia klaim diturunkan atasnya ?’ Bahkan kita katakan bahwa sesungguhnya penundaan wahyu dan penundaan jawaban dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut merupakan bukti yang menunjukkan kejujuran beliau. Sebab jika beliau memang pendusta maka tentulah beliau akan membuat-buat kisah yang mereka tanyakan pada waktu dhuha dan malam harinya. Kemudian mengatakan kepada mereka, “Demikianlah kisahnya”. Maka penundaan wahyu dan jawaban Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menunjukkan kejujuran beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang sempurna”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-d

“Firman Allah Ta’ala

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi”.

Kecuali dikaitkan dengan kehendak Allah (Insya Allah). Pengkaitan hal tersebut dengan kehendak Allah memberikan setidaknya 2 faidah bagi orang yang mengatakannya :

Pertama, Allah akan memudahkan urusan baginya sebab dia menggantungkannya kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.

Kedua, Jika toh dia tidak dapat melakukannya maka dia tidak akan terbebani dengan kafaroh sumpah”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-e

“Faidah yang dapat dipetik dari potongan firman Allah Ta’ala,

إِنِّي فَاعِلٌ

“Sesungguhnya aku mengerjakan”.

Seandainya ada yang mengatakan, “Aku akan melakukan ini” dalam artian mengabarkan keinginannya dan bukan dalam rangka memastikan terjadinya suatu perbuatan maka hal tersebut tidak harus dikaitkan dengan kehendak Allah (ucapan insya Allah –pen). Maksudnya seandainya shahabat anda bertanya kepada anda, “Apakah engkau akan pergi bersamaku besok ?” Kemudian anda jawab, “Iya”. Dan anda tidak mengaitkannya dengan ucapan insya Allah maka hal tersebut tidak mengapa (boleh). Karena ucapan tersebut merupakan pengabaran tentang keinginan hati anda sedangkan sesuatu yang ada di hati anda maka itu telah sejalan dengan kehendak Allah. Sehingga tidak ada lagi tuntutan untuk mengaitkannya dengan kehendak Allah (ucapan Insya Allah -pen)”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-f

“Adapun jika yang anda maksudkan sesungguhnya hal tersebut pasti akan terjadi maka ucapkanlah insya Allah. Penjelasannya kasus pertama merupakan bentuk pengabaran apa yang ada di hati anda. Sedangkan apa yang ada di hati anda sudah ada pada saat anda mengucapkannya. Adapun jika maksudnya bahwa anda akan melakukan hal tersebut di masa yang akan datang maka ini merupakan kabar tentang hal yang anda tidak tahu terjadi atau tidaknya. Perhatikan bedanya.

Jika seseorang mengucapkan, “Aku akan safar/pergi besok”. Jika yang dimaksudkannya adalah mengabarkan apa yang ada di hatinya maka dia tidak harus mengucapkan Insya Allah. Mengapa ? Sebab hal tersebut merupakan pengabaran tentang hal yang sudah terjadi. Sedangkan jika ada yang mengucapkan, “Aku akan safar/pergi, sesungguhnya aku akan benar-benar pergi”. Nah, dalam kasus ini dia harus mengucapkan insya Allah”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-g

“Oleh sebab itulah redaksi ayat yang mulia,

إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا

“Sesungguhnya aku mengerjakan ini besok pagi”.

bukan

إِنِّي سَأَفْعَلُ

“Sesungguhnya aku akan melakukan …..”.

bahkan redaksi ayat adalah

إِنِّي فَاعِلٌ

“Sesungguhnya aku mengerjakan”.

Maka janganlah ucapkan sesuatu yang berkaitan dengan masa yang akan datang dengan ucapan aku (pasti) mengerjakan kecuali dikaitkan dengan kehendak Allah (ucapan insya Allah –pen)”.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-h

“Firman Allah Ta’ala,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ

“Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa”. (QS. Al Kahfi [18] : 24).

Maksudnya ingatlah perintah Robbmu yaitu dengan anda mengatakan insya Allah ketika anda lupa mengatakannya. Karena manusia dapat saja lupa. Apabila dia lupa maka Allah Ta’ala telah berfirman tentangnya,

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Robb kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami meninggalkan kebenaran bukan karena kesengajaan”. (QS. Al Baqoroh [2] : 286).

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda,

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang ketiduran dari suatu sholat (ketiduran) atau lupa maka sholatlah dia ketika dia telah mengingatnya”[2].

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-i

“Firman Allah Ta’ala,

وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS. Al Kahfi [18] : 24).

(عَسَى) jika dari makhluk maka maknanya harapan/mudah-mudahan. Namun jika dari Sang Pencipta (Allah) maka maknanya menunjukkan kepastian. Firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا (98) فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا (99)

“Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.

(QS. An Nisaa’ [4] : 98-99).

Maka kita katakan bahwa (عَسَى) pada ayat ini artinya pasti.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-j

“Demikian juga firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang pasti termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

(QS. At Taubah [9] : 19).

Adapun jika dari manusia maka maknanya adalah harapan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي

“Dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk”. (QS. Al Kahfi [18] : 24).

Maka makna (عَسَى) dalam ayat ini adalah harapan atau mudah-mudahan.

tafsir-surat-al-kahfi-ayat-23-24-k

“Firman Allah Ta’ala,

لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (QS. Al Kahfi [18] : 24).

Yaitu berupa hidayah dan taufiq. Dan Allah pun telah memenuhinya, maka Diapun memberikan hidayah/petunjuk kepada para penghuni gua (Ashabul Kahfi)”.

 

[diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 44-49 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya

[1] Kisah Nabi Sulaiman ‘’alaihissalam ini diriwayatkan oleh Bukhori no. 6639 dan Muslim no. 25 dan 1654.

[2] HR. Bukhori no. 597, Muslim no. 684.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply