Su’ul Khotimah

15 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Su’ul Khotimah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Su’ul khotimah atau husnul khotimah……

Anda yakin dengan diri anda ? Apakah kita yakin dengan diri kita ? Pertanyaan simpel namun sangat sulit dijawab dan dipastikan jawabannya. Dimana posisi kita ?

Mari simak hadits berikut ini yang diriwayatkan dari shahabat Sahl bin Sa’ad As Sa’idi Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّهُ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَمَّا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sungguh ada seorang hamba yang beramal dengan amalan yang menurut pandangan manusia merupakan amalan penghuni surga, padahal sebenarnya orang tersebut adalah ahli neraka. Sungguh ada seorang hamba yang beramal dengan amalan yang menurut pandangan manusia merupakan amalan penghuni neraka, padahal sebenarnya orang tersebut adalah ahli surga. Hanyalah amal itu tergantung pada amalan penutupnya”[1].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

Su’ul Khotimah 1

Ibnu Baththol Rohimahullah mengatakan. “Dirahasiakanya akhir amalan seorang hamba terkandung padanya hikmah yang besar dan merupakan sebuah pengaturan yang sarat hikmah. Sebab, jika seseorang telah mengetahui bahwa dia adalah orang yang berhasil, selamat maka dia akan menjadi ujub dan malas. Sebaliknya jika dia telah mengetahui bahwa dia adalah orang yang celaka maka dia akan tambah membangkang. Oleh karena itulah dirahasiakan agar seseorang berada pada kondisi diantara takut dan harap[2].

Tak ada dari kita yang tahu apa akhir amalannya. Apakah iman ini masih ada pada hati kita di akhir perjalanan hidup ini ??!!

Su’ul Khotimah 2

Abu Darda’ Rodhiyallahu ‘anhu bertutur, “Tidak ada seorangpun yang merasa aman atas imannya tidak tercabut ketika (diujung –pen) maut melainkan imannya akan tercabut”[3].

Ini dia kisah yang mengharu biru,

Su’ul Khotimah 3a

Ketika menjelang wafatnya Sufyan Ats Tsauriy Rohimahullah, beliau menangis. Lalu ada seorang pria yang bertanya, “Apakah engkau demikian karena memandang banyaknya dosa ?” Kemudian beliau mengangkat sesuatu dari tanah dan berkata, “Demi Allah dosa-dosaku masih lebih ringan bagiku daripada ini. Bahkan yang membuatku demikian adalah aku takut jika imanku tercabut sebelum kematianku[4].

Lihatlah betapa khawatirnya beliau tercabutnya iman karena maksiat ketika malaikat maut menjemput.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

Su’ul Khotimah 3b

“Dari ini, jelaslah kekhwatiran generasi utama terdahulu terhadap dosa-dosa yang akan menjadi penghalang antara diri mereka dengan husnul khotimah”.

Beliau juga mengatakan,

Su’ul Khotimah 4

“Ini merupakan pemahaman tentang agama/fikih yang sangat agung, dimana seseorang takut dosa-dosanya akan mencelakakannya di saat-saat kematian. Sehingga akhirnya dia terhalang dari husnul khotimah[5].

Al Hafizh ‘Abdul Haq Al Isybiliy Rohimahullah mengatakan,

Su’ul Khotimah 5

“Ketahuilah bahwasanya su’ul khotimah –mudah-mudahan Allah menjauhkan kita darinya- memiliki sebab, jalan-jalan dan berbagai pintu. Yang terbesarnya adalah :

[1] tenggelam dalam meraih dunia, [2] berpaling dari mengingat kehidupan akhirat, [3] mengedapankan dan memberanikan diri bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla[6].

Al Hafizh ‘Abdul Haq Al Isybiliy Rohimahullah juga mengatakan sebuah perkataan yang layak kita tempel di kepala kita,

Su’ul Khotimah 6

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya su’ul khotimah –mudah-mudahan Allah Ta’ala menjauhkan kita darinya- tidak akan terjadi pada orang yang zhohir dan bathinnya betul-betul sholeh dan istiqomah. Hal itu tidak pernah terjadi sepengetahuan kami alhamdulillah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang yang rusak aqidahnya, terus menerus melakukan dosa-dosa besar dan memberanikan diri melakukan dosa besar. Hingga tidak menutup kemungkinan dia dikalahkan oleh hal-hal tesebut sampai datanglah maut sebelum dia bertaubat, sehingga nyawanya diambil sebelum dia memperbaiki kematiannya, nyawanya dicabut sebelum kembali kepada keridhoan Allah[7].

Ringkasnya, secara umum penyebab utama su’ul khotimah ada 2 :

[1]. Menunda-nunda taubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menunda-nunda hijroh

menuju keridhoan Allah Ta’ala.

[2]. Mencintai, menyukai, gemar maksiat terutama dosa-dosa besar.

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Su’ul Khotimah 7

Dosa-dosa, maksiat dan syahwat kelak akan menghianati pemiliknya ketika maut datang bersamaan dengan penghiatan syaithon kepadanya. Sehingga berkumpullah pada diri orang tersebut 2 penghiatan plus lemahnya iman. Sehingga jatuhlah dia pada su’ul khotimah”[8].

Demi Allah, mari renungkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari shahabat Jabir Rodhiyallahu ‘anhu,

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan dengan kondisi yang dia mati di atasnya”[9].

Setiap hamba wahai saudaraku !!!!

Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rohimahullah mengatakan,

Su’ul Khotimah 8

“Jika engkau telah mengetahui makna su’ul khotimah, maka jauhilah sebab-sebabnya, persiapkanlah hal-hal yang dapat memperbaikinya serta waspadalah dari menunda-nunda persiapan kematian karena umur itu sungguh singkat. Setiap tarikan nafasmu layaknya akhir hidupmu karena boleh jadi ruh dicabut pada saat itu. Seluruh manusia akan diwafatkan pada kondisi yang dia terbiasa dengannya. Kelak akan dibangkitkan sesuai kondisi dia diwafatkan[10].

 

Terakhir……………..

Hafalkan, amalkan dan resapi makna do’a Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ini,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Wahai Dzat Yang Membolak balikkan Hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.

Ya Allah Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkanlah hati kami di atas keta’atanmu”[11].

Mudah-mudahan kita dianugrahkan husnul khotimah. Amin

 

7 Rojab 1437 H, 15 April 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] HR. Bukhori 6493, Muslim no. 2651. Lafazh ini milik Al Bukhori Rohimahullah.

[2] Lihat Fathul Bari hal. 654/XIV terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[3]Lihat Mukhtashor Minhajul Qosidin oleh Ibnu Qudamah tahqiq ‘Ali bin Hasan hal. 391 terbitan Darul ‘Ammar Yordania.

[4] Idem, lihat juga Ad Da’u wa Dawa’ hal. 239.

[5] Lihat Ad Da’u wa Ad Dawa’u hal. 239 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[6] idem hal 237-238.

[7] Idem 239-240.

[8] Al Bidayah wa An Nihayah via Ad Dorar Al Muntaqo hal. 282.

[9] HR. Bukhori no. 13, Muslim no. 45.

[10] Lihat Lihat Mukhtashor Minhajul Qosidin hal. 393 (384).

[11] HR. Muslim no. 2654, Tirmidzi no. 2140.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply