Sisi Lain Keutamaan Puasa

24 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sisi Lain Keutamaan Puasa

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Salah satu nikmat terbesar yang masih Allah Tabaroka wa Ta’ala berikan kepada kita adalah nikmat iman, Islam, kesehatan dan kelapangan waktu untuk dapat bertemu kembali dengan Bulan Suci Romadhon. Ini nikmat yang sangat layak untuk kita syukuri.

Puasa Romadhon memiliki berbagai keutamaan yang luar biasa. Bahkan tidak sedikit para ulama menulis kitab khusus yang membahas faidah atau keutamaan Bulan Romadhon dan seputar puasa padanya. Demikian pula, para ustadz dan muballigh acap kali menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam terkait bulan ini. Sehingga kami memandang bahwa jama’ah sekalian sudah demikian sering mendengarkannya. Untuk itu pada kesempatan ini, kami berusaha menggugah hati kita untuk kembali bersemangat untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa kita di Bulan Romadhon ini.

  1. Puasa merupakan kewajiban personal masing-masing kita

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 183)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ البَيْتِ

“Islam dibangun di atas 5, syahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah keucali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat”

Para ulama mengistilahkan bangunan Islam yang 5 sebagaimana disebut dalam hadits ini sebagai Rukun Islam. Sedangkan rukun menurut Bahasa Arab berarti tiang atau penyangga/penopang. Sebagaimana diketahui bersama belum ada orang yang mampu membuat sebuah bangunan rumah dengan tanpa tiang. Bahkan tianglah kekuatan terbesar yang mampu menyangga bangunan tersebut. Sungguh betapa sayangnya Allah ‘Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya. Dia mewajibkan bagi seorang hamba untuk menegakkan tiang agamanya (dalam hal ini puasa Romadhon). Coba bayangkan, seandainya Puasa Romadhon ini bukan kewajiban padahal dia adalah tiang agama, masih banyakkah kaum muslimin yang mau melaksanakannya ???!!!

  1. Menunaikan kewajiban adalah hal yang paling Allah Ta’ala cintai

Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Seorang hamba-Ku tidak mampu mendekatkan dirinya kepada dengan sesuatu yang lebih aku cintai dibandingkan dengan apa yang wajibkan atasnya”[1].

Lihatlah saudaraku, amalan yang paling dicintai Allah dan paling mampu mendekatkan diri kita kepada-Nya adalah dengan menunaikan ibadah yang Allah wajibkan kepada kita. Cukuplah hadits ini sebagai pelecut semangat kita untuk bersemangat dan serius mengerjakan seluruh kewajiban yang Allah wajibkan atas kita. Demi Allah, seluruh kaum  muslimin sepakat tentang wajibnya Puasa di Bulan Romadhon[2]. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita berusaha menjadikan ibadah puasa kita menjadi ibadah yang berkualitas di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

  1. Iman dan Ihtisab tolak ukur kualitas puasa

Salah satu tolak ukur ibadah puasa kita berkulitas di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kita menunaikannya karena iman dan ihtisab. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ihtisab (maka) diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[3].

Lantas apa itu iman dan ihtisab ?

Ibnu Hajar Al Asqolani (wafat Tahun 852 H) Rohimahullah mengatakan,

“Yang dimaksud dengan iman (dalam hadits ini) adalah meyakini dengan benar wajibnya puasa (Romadhon). Sedangkan ihtisab maksudnya adalah mencari pahala dari Allah Ta’ala”[4].

Al Khothobi (wafat Tahun 236 H) Rohimahullah mengatakan,

“Ihtisab maknanya adalah azimah (kemauan yang kuat). Yaitu dia berpuasa karena tamak akan pahala, suci hatinya (hatinya menjadi suci bila melaksanakan puasa Romadhon –pen), tidak malas-malasan melaksanakannya serta tidak merasa terbebani lamanya hari-hari berpuasa”[5].

An Nawawi (wafat 676 H) Rohimahullah mengatakan,

وَمَعْنَى احْتِسَابًا أَنْ يُرِيدَ اللَّهَ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا يَقْصِدُ رُؤْيَةَ النَّاسِ وَلَا غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يُخَالِفُ الْإِخْلَاصَ

“Makna Ihtisab adalah dia hanya menginginkan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dari ibadahnya itu, bukan karena maksud agar dilihat orang dan hal lain yang bertentangan dengan keikhlasan”[6].

Ringkasnya melaksanakan Puasa Romadhon karena dorongan mengimaninya sebagai kewajiban dari Allah atas hamba-Nya dan ikhlas hanya mengharapkan ganjaran dari Allah ‘Azza wa Jalla semata merupakan tolak ukur sekaligus salah satu syarat diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

  1. Melaksanakan ibadah puasa dengan menjaga adab-adab dan menjauhi larangan-larangan ketika puasa merupakan syarat lain diampuni dosa-dosa yang lalu

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَعَرَفَ حُدُودَهُ، وَتَحَفَّظَ مِمَّا كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَحَفَّظَ فِيهِ، كَفَّرَ مَا قَبْلَهُ

 “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon dan dia mengetahui batasan-batasannya serta menjaga hal-hal yang harus dijaga padanya maka itu merupakan kaffaroh (penghapus) dosanya yang lalu”[7].

Diantara batasan itu adalah sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ     

 “Barangsiapa tidak mampu mencegah dirinya dari ucapan keji (buruk) dan berbuat keji maka Allah tidak butuh rasa lapar dan dahaga yang orang itu tahan”[8].

Ibnu Hajar Al Asqolani (wafat Tahun 852 H) Rohimahullah mengatakan,

“Yang dimaksud ucapan buruk/keji dalam hadits ini adalah dusta dan sesuatu yang tidak berguna. Sedangkan yang dimaksud dengan beramal dengannya adalah berbuat apa saja yang merupakan konsekwensi/tidak lanjut dari dusta dan sesuatu yang tidak berguna”[9].

“Jabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jika kamu berpuasa maka pendengaran, penglihatan dan lisanmu juga ikut berpuasa dari dusta dan hal-hal yang diharamkan. Jauhilah mengganggu tetanggamu, jadilah kamu orang yang tenang dan santun. Janganlah dia menjadikan saat-saat dia berpuasa sama saja dengan ketika tidak berpuasa[10].

Mari jaga rambu-rambu puasa agar puasa kita berkualitas di sisi Allah Ta’ala.

Sigambal, 5 Romadhon 1440 H / 10 Mei 2019 M.

Selepas subuh.

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Bukhori no. 6502

[2] Lihat Majalis Syahri Romadhon hal. 21 terbitan Muasasah Syaikh Ibnu Utsaimin, ‘Unaizah, KSA.

[3] HR. Bukhori no. 38, 2014 dan Muslim no. 760.

[4] Lihat Fathul Bari hal. 232/V terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[5] Idem.

[6] Lihat Al Minhaj hal. 282/V-VI terbitan Dar Ma’rifah, Beirut, Lebanon.

[7] HR. Ahmad no. 11524, Ibnu Hibban no. 3433. Hadits ini dinilai hasan oleh Syu’aib Al Arnauth.

[8] HR. Bukhori 1903.

[9] Lihat Fathul Bari hal. 234/V.

[10]  Lihat Majalis Syahri Romadhon hal. 82.

Tulisan Terkait

Leave a Reply