Sholat Di Masjidil Harom Melihat Ka’bah atau Tempat Sujud

8 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sholat Di Masjidil Harom Melihat Ka’bah atau Tempat Sujud

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ketika anda mendapatkan sebuah kenikmatan sholat di Masjidil Harom Makkah Al Mukarromah. Anda dapat menatap langsung ka’bah. Kemana anda harus melihat ketika sholat, ke arah ka’bah atau tetap melihat tempat sujud ?

 

Temukan jawabannya dalam soal jawab berikut[1].

Pertanyaan

Sholat Di Masjidil Harom Melihat Ka’bah atau Tempat Sujud 1

Apakah lebih utama bagi orang yang sholat di Masjidil Harom melihat ke arah Ka’bah atau ke arah tempat sujud ?

 

Jawaban :

Sholat Di Masjidil Harom Melihat Ka’bah atau Tempat Sujud 2

Lebih utama bagi orang yang sholat (pada keadaan demikian -pen) untuk melihat ke arah tempat sujudnya bukan melihat Ka’bah. Karena tidak terdapat riwayat dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam perintah bagi orang sholat pada keadaan demikian untuk melihat Ka’bah jika mampu melihatnya. Demikian pula, dengan melihat ke arah Ka’bah padahal dia sedang sholat maka dia akan tersibukkan dengan melihat kumpulan orang. Padahal jumlah orang yang berada di sekitar Ka’bah banyak sekali dan dia mampu melihat mereka. Semakin dia tersibukkan pandangan ke arah Ka’bah dengan melihat kumpulan orang maka semakin jauh dia dari (kekhusyukan pada sholatnya). Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam suatu ketika memiliki sebuah gamis. Lantas beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memandangi bagian atasnya ketika beliau sholat. Maka ketika beliau selesai sholat lantas bersabda,

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إلَى أَبِي جَهْمٍ , وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ . فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاتِي

“Pergilah bawa gamisku ini kepada Abu Jahm dan bawakan untukku (tukar dengan)yang polos dari Abu Jahm. Karena gamis ini telah mengganggu sholatku barusan”[2].

Maka setiap hal yang menyibukkan (melalaikan) orang yang sholat sudah seharusnya menjauhinya”.

Sekian.

 

Abis Pindahan, 28 Jumadil Awwl 1437 H, 8 Maret 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 101-102/XIII Terbitan Darul Wathon, Riyadh, KSA.

[2] HR. Bukhori no. 373.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply