Sholat Berjama’ah Harus di Mesjid ? Atau Boleh di Rumah ?

27 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sholat Berjama’ah Harus di Mesjid ? Atau Boleh di Rumah ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sering tergambar di benak sebagian kita dahulu bahwa pasangan yang benar-benar Islami adalah pasangan yang ketika masuk waktu sholat suaminya menjadi imam dan istri serta anaknya menjadi makmum di rumah mereka. Artinya berjama’ah di rumah.

Nah inilah pandangan sebagian kita. Yang jadi pertanyaannya adalah judul di atas.

Mari kita simak penjelasan yang kami nukilkan dari perkataan para ulama berikut.

Penulis Al Muhadzab Asy Syiyaroziy Rohimahullah mengatakan,

Jama'ah Di Mesjid1

“Dan mengerjakannya (sholat berjama’ah –ed.) bagi laki-laki lebih utama di mesjid karena di mesjid lebih banyak jama’ah yang berkumpul. Lebih utama lagi di mesjid yang jama’ahnya banyak”[1].

Penulis Kifayatul Akhyaar Rohimahullah mengatakan,

Jama'ah Di Mesjid2

“Ketahuilah sesungguhnya (sholat –ed) jama’ah teranggap/sah/boleh apabila seorang laki-laki berjama’ah bersama istrinya dan selainnya di rumahnya. Akan tetapi mengerjakannya di mesjid lebih utama. Karena di mesjid lebih banyak jama’ahnya….. maka lebih utama[2].

Al Imam An Nawawiy Rohimahullah mengatakan,

Jama'ah Di Mesjid3

Imam Asy Syafi’iy Rohimahullah mengatakan dalam Al Mukhtashor wal Ashhaab, “Mengerjakan sholat jama’ah bagi laki-laki di mesjid lebih utama daripada mengerjakannya di rumah, pasar dan selainnya. Hal ini berdasarkan hadits yang telah kami sebutkan dalam Keutamaan orang yang berjalan menuju mesjid. Juga karena mengejakannya di mesjid lebih mulia dan karena lebih menampakkan syi’ar jama’ah/berkumpulnya (kaum muslimin –ed). Jika terdapat banyak mesjid maka pergi menuju mesjid yang lebih banyak jama’ahnya lebih utama berdasarkan hadits yang telah disebutkan”[3].

Adapun salah satu dalil para ulama Rohimahumullah di atas adalah hadits Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ صَلاَةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ ، وَصَلاَتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ.

“Sesungguhnya sholat seorang laki-laki bersama laki-laki yang lainnya lebih utama daripada sholatnya sendirian. Sholatnya bersama dua orang laki-laki lebih utama daripada sholatnya bersama seorang laki-laki. Semakin banyak maka semakin dicintai Allah[4].

Sisi pendalilannya Allahu a’lam pada potongan akhir hadits di atas yaitu redaksi yang menunjukkan adanya keutamaan. Sedangkan keutamaan –menurut ulama yang berpendapat demikian- tidak menunjukkan kewajiban.

Dari kedua kutipan di atas jelas bahwa Imam Asy Syafi’iy dan ulama Madzhab Syafi’yah Rohimahumullah berpendapat bahwa boleh bagi laki-laki mengerjakan sholat fardhu berjama’ah di rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Namun perlu diingingat bahwa mereka tidak lupa sangat menganjurkannya untuk mengerjakannya di mesjid. Sehingga agak aneh dan janggal apabila seorang ustadz yang mengaku bermadzhab Syafi’iy mengerjakan mayoritas sholatnya tidak berjama’ah di mesjid, tidak pula berjama’ah di rumahnya malah lebih sering sholat sendirian di rumahnya. Allahul Musta’an.

Penulis Zaadul Mustaqni’[5] Rohimahullah mengatakan,

Jama'ah Di Mesjid4

Boleh baginya mengerjakannya (sholat jama’ah -ed) di rumahnya[6].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah menjelaskan,

Jama'ah Di Mesjid5

Yaitu boleh baginya sholat jama’ah di rumahnya dan meninggalkan/tidak sholat jama’ah di mesjid walaupun mesjidnya dekat dari rumahnya. Akan tetapi kita katakan bahwa mengerjakannya di mesjid lebih utama tanpa ragu. Sesungguhnya jika dia mengerjakannya di rumahnya maka boleh. Jika kita berpendapat bahwa sholat berjama’ah teranggap bila dikerjakan 2 orang walapun makmumnya perempuan. Maka konsekwensi dari hal itu seorang laki-laki seharusnya sholat berjama’ah bersama istrinya di rumah[7] dan tidak menghadiri sholat berjama’ah di mesjid”[8].

Beliau melanjutkan,

Jama'ah Di Mesjid6

“Inilah konsekwensi perkataan penulis Zaadul Mustaqni’. Para ulama yang memilih pendapat ini berdalil, bahwa sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا , فَأَيُّمَا رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ

“Dijadikan bagiku seluruh permukaan bumi sebagai mesjid (tempat sujud) dan suci[9]. Maka dimanapun seorang laki-laki dari ummatku berada dan dia menjumpai waktu sholat maka sholatlah dia”[10].

Permukaan bumi seluruhnya adalah tempat yang boleh untuk bersujud. Maksudnya adalah berjama’ah, berjama’ah teranggap walaupun seorang mengerjakannya di rumahnya. Namun mengerjakannya di mesjid lebih utama”[11].

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Jama'ah Di Mesjid7

“Sebagian ulama berpendapat bahwa mengerjakan sholat jama’ah di mesjid hukumnya fardhu kifayah. Jika sekelompok orang yang teranggap cukup telah mengerjakannya maka gugur kewajiban yang lain. Dan orang yang tidak berjama’ah di mesjid boleh mengerjakannya secara berjama’ah di rumahnya[12].

Jama'ah Di Mesjid8

“Sebagian ulama lain berpendapat bahwa hukum wajib dikerjakan di mesjid bagi orang-orang yang telah wajib baginya sholat[13].

Jama'ah Di Mesjid9

“Para ulama yang tersebut berdalil dengan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّى بِالنَّاسِ ثُمَّ أُنْطَلِقَ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُوْنَ الصَّلَاةَ فَأحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ.

“Sungguh aku sudah benar-benar berkeinginan memerintahkan seorang laki-laki sholat mengimami kaum (muslimin –ed) kemudian aku akan mencari sekelompok orang (Islam -ed) yang tidak menghadiri sholat berjama’ah di mesjid lalu aku bakar rumah mereka dengan api”[14].

Kata (قَوْمٍ) artinya ‘sekelompok orang Islam’, merupakan bentuk jama’ yang dengannya teranggap sholat jama’ah. Seandainya mereka boleh sholat di rumah secara berjama’ah tentulah redaksi haditsnya kecuali orang-orang yang sholat berjamaah di rumah mereka yaitu pengecualian bagi orang yang sholat di rumahnya berjama’ah[15].

Jama'ah Di Mesjid10

Dari penjelasan ini disimpulkan bahwa sesungguhnya kaum muslimin yang sudah baligh wajib menghadiri sholat jama’ah bersama kaum muslimin lainnya. Inilah pendapat yang benar. Yaitu sesungguhnya sholat wajib berjama’ah hukumnya harus dilakukan di mesjid. Karena seandainya boleh dikerjakan selain di mesjid maka sholatnya sah namun tidak gugur kewajiban dan dosa dari mereka, bahkan mereka berdosa walaupun sholatnya sah menurut pendapat yang paling kuat”[16].

Jama'ah Di Mesjid11

“Adapun orang yang berdalil dengan Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

“Dijadikan bagiku seluruh permukaan bumi sebagai mesjid (tempat sujud) dan suci”[17].

Maka sebenarnya hadits tersebut bukanlah dalil dalam masalah ini. Karena hadits tersebut merupakan penjelasan bahwasanya permukaan bumi seluruhnya merupakan tempat bersujud/sholat. Hal itu merupakan kekhususan umat Islam ini berberda dengan umat selainnya. Mereka hanya diperkenankan beribadah di gereja, pertapakan pendeta, tempat peribadatan yahudi. Sedangkan umat Islam dijadikan bagi mereka permukaan bumi seluruhnya merupakan tempat beribadah. Bukanlah yang dimaksud dari hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam penjelasan bahwa sholat jama’ah sah dikerjakan di seluruh permukaan bumi. Bahkan hadits tersebut merupakan penjelasan sahnya sholat di setiap tempat di permukaan bumi. Hal ini tidaklah diperselisihkan lagi”[18].

Kesimpulan :

  1. Wajib bagi laki-laki yang telah baligh untuk mengerjakan sholat wajib berjama’ah di mesjid kecuali jika ada udzur syar’i.
  2. Kalaupun anda berpendapat hukum sholat jama’ah tidak wajib secara personal di mesjid, maka sudah seyogyanya anda melakukannya secara berjama’ah di rumah dan sangat tidak layak sholat sendirian. Jika ingin beramal dengan fiqh Madzhab Syafi’iy.

 

 

Allahu a’lam.

 

 

Setelah Subuh 27 Dzul Hijjah 1435 H/22 Oktober 2014 M.

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzab oleh An Nawawiy Rohimahullah hal. 92/IV terbitan Maktabah Al Irsyad Jeddah, KSA.

[2] Lihat Kifayatul Akhyaar oleh Abu Bakr bin Muhammad bin Hinshiy Rohimahullah hal. 212 terbitan Darul Minhaaj, Jeddah, KSA.

[3] Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzab hal. 93/IV.

[4] HR. Abu Dawud no. 554 dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Ibnu Hibban sebagaimana di Bulughul Maroom. Al Albani Rohimahullah menilai hadits ini hasan.

[5] Salah satu kitab Fiqh Madzhab Hambaliy.

[6] Lihat Syahrul Mumthi’ oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 146/IV terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh,KSA.

[7] Bukan malah sholat sendirian tidak berjama’ah. Ed.

[8] Lihat Syahrul Mumthi’ hal. 146/IV.

[9] Kecuali yang di kecualikan semisal kamar mandi dll. Ed.

[10] HR. Bukhori no. 335, Muslim no. 521 .

[11] Lihat Syahrul Mumthi’ hal. 146/IV.

[12] Idem.

[13] Idem hal. 147/IV.

[14] HR. Bukhori no. 644, Muslim no. 651.

[15] Lihat Syahrul Mumthi’ hal. 147/IV.

[16] Idem.

[17] HR. Bukhori no. 335, Muslim no. 521 .

[18] Lihat Syahrul Mumthi’ hal. 148/IV.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply