Saat- Saat Berpisah Dengan Bulan Romadhon

7 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Saat- Saat Berpisah Dengan Bulan Romadhon

Alhamdulillah kita telah sampai di penghujung Bulan Romadhon. Bulan Penuh Berkah, Bulan Romadhon. Bulan Keampunan, Bulan turunnya Al Qur’an dan Bulan Kesabaran. Beragam ekspresi kaum muslimin ketika hendak berpisah dengannya. Sebagian kita disibukkan dengan pulang kampung, sebagian lain disibukkan dengan pakaian baru, sebagian lagi disibukkan dengan cat rumah yang baru. Sebagian lagi disibukkan dengan petasan dan mercon[1].

Sedih, haru nan membiru bercampur rasa harap yang tertancap dan terhujam kuat di lubuk hati seorang mukmin. Rasa rindu nan mendalam dan khawatir apakah diri ini berjumpa dengan mu wahai Bulan Romadhon. Inilah mungkin gambaran perasaan sebagian kita di saat-saat seperti ini.

Diantara beragam rasa dan perasan itu semua marilah sejenak kita menilik bagaimana keadaan -orang-orang yang Allah ‘Azza wa Jalla rekomendasikan atas mereka keridhoan dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tegaskan kepada kita untuk menaladani mereka- ketika berpisah dengan Bulan Romadhon. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman tentang mereka para sahabat Rodhiyallahu ‘anhum,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah [9] : 100)

Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

عَليْكُمْ بسُنَّتِي وسُنَّةِ الخُلَفاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِيِّنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بالنَّواجِذِ

“Wajib bagi kalian berpegan teguh dengan ajaran/petunjukku, petunjuk para khulafaur rosyidin al mahdiyin. Gigitlah hal itu dengan gigi taring –sebagian ulama menafsirkannya dengan geraham- kalian”[2].

Ibnu Rojab Rohimahullah menuliskan dalam kitabnya Lathoif Ma’arif[3],

كان السلف الصالح يجتهدون في إتمام العمل و إكماله و إتقانه ثم يهتمون بعد ذلك بقبوله و يخافون من رده و هؤلاء الذين

(وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ)

“Adalah sebuah kebiasaan para sahabat bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amalan dan menghiasinya serta memperbagusnya. Kemudian setelah itu mereka berharap amalan tersebut diterima Allah dan khawatir amalan itu tertolak. Mereka itulah orang-orang dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”. (QS. Al Mukminun [23] : 60)

Al Imam Tirmidzi Rohimahullah menukilkan tafsir ayat ini dalam Sunannya,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ الْهَمْدَانِيِّ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ قَالَتْ عَائِشَةُ أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ قَالَ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

 Dari Abdur Rohman bin Sa’id bin Wahbin Al Hamdaniy, sesungguhnya ‘Aisyah istri Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”. (QS. Al Mukminun [23] : 60)

 ‘Apakah ayat itu menceritakan keadaan orang-orang yang meminum khomer, mencuri atau berzina[4] ?’ Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Bukan wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, akan tetapi ayat itu menceritakan orang-orang yang berpuasa, sholat, bersedekah/berzakat, namun mereka khawatir apakah amalan mereka diterima. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan”[5].

 Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan,

روي عن علي رضي الله عنه قال : كونوا لقبول العمل أشد اهتماما منكم بالعمل ألم تسمعوا الله عز و جل يقول : { إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}

‘Telah diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Tholib Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Perasaan khawatir akan diterimanya amal lebih layak kalian perhatikan daripada perhatian terhadap amal itu sendiri. Tidakkah kalian pernah mendengar/membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah [5] : 27)

و عن فضالة بن عبيد قال : لأن أكون أعلم أن الله قد تقبل مني مثقال حبة من خردل أحب إلي من الدنيا و ما فيها لأن الله يقول : { إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}

Demikian juga dari Fadholah bin ’Ubaid, dia mengatakan, ‘Sungguh jika aku mengetahui bahwa Allah telah menerima sebuah amalanku walaupun sebesar biji sawi lebih aku sukai daripada seluruh kenikmatan dunia dan apa yang ada di dalamnya. Karena Allah Ta’ala telah berfirman

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah [5] : 27)’

 

قال ابن دينار : الخوف على العمل أن لا يتقبل أشد من العمل

Malik bin Diinaar mengatakan, ‘Khawatir terhadap amal diterima atau tidaknya lebih aku perhatikan daripada amal itu sendiri’.

قال عطاء السلمي : الحذر الاتقاء على العمل أن لا يكون لله

Atho’ As Salimiy mengatakan, ‘Waspadalah terhadap amal yang bukan karena Allah’.

قال عبد العزيز بن أبي رواد : أدركتهم يجتهدون في العمل الصالح فإذا فعلوه وقع عليهم الهم أيقبل منهم أم لا

‘Abdul Aziz bin Abu Rowwaad mengatakan, ‘Aku bertemu dengan mereka para sahabat, mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh melakukan amal sholeh. Namun jika mereka telah melakukannya lalu terdapat kekhawatiran pada diri mereka apakah amalan mereka diterima atau tidak’.

قال بعض السلف كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

Sebagian sahabat mengatakan, ‘Merupakan kebiasaan para sahabat Nabi, mereka berdo’a kepada Allah selama 6 bulan (sebelum Bulan Romadhon) agar mereka diberikan kesempatan berjumpa dengan Bulan Romadhon. Kemudian mereka juga berdo’a selama 6 bulan agar Allah menerima amalan mereka’.

خرج عمر بن عبد العزيز رحمه الله في يوم عيد فطر فقال في خطبته : أيها الناس إنكم صمتم لله ثلاثين يوما و قمتم ثلاثين ليلة و خرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Rohimahullah suatu ketika keluar pada hari ‘Idul Fithri. Lalu ia berkata dalam khutbahnya, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah berupuasa selama 30 hari, melaksanakan qiyamul lail selama 30 malam. Lalu pada hari ini kalian keluar, meminta/berdo’a kepada Allah agar menerima amalan kalian’.

كان بعض السلف يظهر عليه الحزن يوم عيد الفطر فيقال له : إنه يوم فرح و سرور فيقول : صدقتم و لكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملا فلا أدري أيقبله مني أم لا ؟

Merupakan kebiasaan para sahabat, mereka menunjukkan betapa sedihnya mereka ketika hari ‘Idul Fithri. Lalu ada yang mengatakan pada mereka, ‘Hari ini adalah hari bahagia dan penuh kesenangan (mengapa kalian bersedih ?)’. Mereka menjawab, ‘Engkau benar, namun aku ini adalah seorang hamba/budak (yaitu hamba Allah) yang pemilik diriku (yaitu Allah) telah memerintahkanku untuk melaksanakan sebuah amalan, namun aku tidak tahu apakah amalan yang aku persembahkan padanya diteriman atau tidak’.

رأى وهب بن الورد قوما يضحكون في يوم عيد فقال : إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين و إن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين

Wuhaib bin Al Warod melihat ada sekelompok orang yang tertawa pada hari ‘Idul Fithri. Lalu beliau mengatakan, ‘Seandainya orang-orang yang tertawa itu adalah orang-orang yang ibadah puasa mereka diterima Allah, maka apakah demikian ungkapan syukur orang-orang yang bersyukur ? Namun seandainya mereka adalah orang-orang yang Allah tidak menerima puasa mereka apakah demikian kelakuan/sikap orang-orang yang takut ?’

Apakah yang melatarbelakangi perbuatan-perbuatan hati para sahabat di atas wahai saudaraku ???!!!!

Tidak lain dan tidak bukan adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ؟ قَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُبِرَّهُمَا فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبَعْدَهُ اللَّهُ , قُلْ : آمِينَ , قُلْتُ : آمِينَ.

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, ‘Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam suatu ketika naik mimbar lalu mengucapkan, “Amin. Amin. Amin”. Lalu para sahabat bertanya, ‘Wahai Rosulullah, sesungguhnya ketika berada di atas mimbar engkau mengucapkan amin. Amin. Amin. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sesungguhnya Jibril tadi datang menemuiku dan berkata, ‘Barangsiapa yang menjumpai –kemudian melalui- Bulan Romadhon dan tidak diampunkan dosa-dosanya maka ia akan masuk neraka dan Allah akan membuangkannya ke neraka. Katakanlah amin ! maka aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) katakan amin. Jibril melanjutkan, ‘Barangsiapa yang bertemu dengan kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya namun tidak berbuat baik kepada keduanya atau salah satunya maka dia akan masuk neraka dan Allah akan melemparkannya. Katakanlah amin ! maka aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) katakan amin. Jibril melanjutkan, ‘Barangsiapa yang disebutkan namamu di sisinya namun tidak bersholawat atasmu lalu meninggal dalam keadaan demikian maka dia akan masuk neraka dan Allah akan melemparkannya. Katakanlah amin ! maka aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) katakan amin”[6].

Sebagai penutup kami sampaikan, bergembira tidaklah dilarang secara mutlak di hari raya ‘Idul Fithri sebagaimana hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ : قَدِمَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا بِالْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ :« قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ ».

Anas bin Malik mengatakan, ‘Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam datang ke Madinah. Orang-orang Madinah saat itu telah memiliki dua hari dimana mereka bersenang-senang di masa jahiliyah. Kemudian beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku datang kepada kalian sedangkan ketika itu kalian telah memiliki dua hari raya dimana paha hari tersebut kalian bersenang-senang ketika masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari tersebut yang lebih baik bagi bagi kalian yaitu Hari Raya Qurban / ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri”[7].

Namun kebiasaan para sahabat yang telah kami nukilkan di atas hendaklah kita pertimbangkan dan kita renungkan serta kita camkan di lubuk hati kita yang paling dalam.

 

Mudah-mudahan amalam kita diterima, Amin

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

 

Sigambal, setelah tarwaih

malam 29 Romadhon 1434 H / 6 Agustus 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] Wal iyyadzu billah. Yang terakhir ini sangat tidak pantas seorang muslim melakukannya. Silakan merujuk ke tulisan kami seputar ini di (klik di sini)

[2] HR. Ibnu Majah no. 42, Tirmidzi no. 2676  dan lain-lain.

[3] Hal. 368-369 dengan tahqiq Thoriq bin ‘Awadallah terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut. Dengan penambahan seperlunya.

[4] Dalam satu redaksi.

[5] HR. Tirmidzi no. 3175.

[6] HR. Ahmad no. 254/II, Tirmidzi no. 3545, Ibnu Hibban no. 908 Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 646. Hadits ini dinyatakan hasan shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[7] HR. Ahmad no. 12850, Abu Dawud no. 1134 dan An Nasa’i no. 1556. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani dan Al Arnauth Rohimahumallah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply