Puasa Orang Yang Tidar Tidur

27 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Puasa Orang Yang Tidar Tidur

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Hari yang semakin panas, udara yang semakin gerah dan tubuh yang semakin lemah. Itulah mungkin gambaran keadaan kita di akhir Bulan Romadhon. Padahal kalaulah diibaratkan sebuah turnamen, kita sedang dalam fase akhir dalam penentuan sang juara.

Sebagian dari kita ada yang model berpuasanya yang penting berpuasa. Hari-harinya hanya diisi dengan tidur melulu. Bangun tidur, tidur lagi. Bagaimanakah puasa orang yang demikian ?

Mari simak tanya jawab ringkas berikut.

Pertanyaan

Puasa Orang Yang Tidar Tidur 1

“Bagaimana hukumnya tidur dalam waktu yang sangat lama di siang hari (selama berpuasa di Bulan Romadhon -pen) ? Bagaimana hukumnya puasa orang yang tidur dan hanya bangun untuk menunaikan kewajiban saja (misal sholat –pen) kemudian setelah itu tidur lagi ?

 

Jawaban :

Puasa Orang Yang Tidar Tidur 2

“Pertanyaan ini mengandung 2 kondisi :

Kondisi Pertama, seorang laki-laki yang tidur dalam waktu yang sangat lama di siang hari pada Bulan Romadhon dan tidak bangun-bangun. Tidak ragu lagi orang yang demikian telah berbuat kesalahan bagi dirinya sendiri dan berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan meninggalkan sholat pada waktunya. Jika dia termasuk orang yang wajib sholat berjama’ah maka tentu dia juga berarti meninggalkan sholat jama’ah. Padahal haram hukumnya bagi orang ini meninggalkan sholat jama’ah dan akan mengurangi pahala puasanya. Orang yang demikian ini mirip dengan orang yang membangun istana namun menghancurkan daerah/negara. Maka hendaklah dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menunaikan sholat pada waktu sebagaimana yang telah diperintahkan”.

Puasa Orang Yang Tidar Tidur 3

Kondisi Kedua, yaitu kondisi orang yang masih menegakkan sholat wajib di waktunya secara berjama’ah maka ini tidak berdosa. Namun dia telah melewatkan banyak waktunya untuk melakukan berbagai kebaikan. Karena sudah sepantasnya bagi orang yang berpuasa untuk menyibukkan dirinya dengan sholat, dzikir, berdo’a dan membaca Al Qur’an. Hingga ketika dia berpuasa, dia mampu mengumpulkan berbagai ibadah. Jika seseorang menyibukkan dan melatih dirinya untuk mengerjakan berbagai amal ibadah pada waktu berpuasa maka nanti hal tersebut akan mudah baginya. Namun jika dia membiasakan dirinya malas, lemah, berleha-leha sehingga badannya akan terbiasa demikian. Maka dirinya jadi sulit beribadah dan beramal ketika sedang berpuasa.

Nasihatku untuk orang yang demikian, janganlah dia sia-siakan waktunya dengan tidurnya. Hendaklah dia bersemangat untuk beribadah………..”.

 

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

[Lihat Majmu Fatawa hal. 170-171/XIX Terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.]

 

Diterjemahkan oleh Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply