Puasa Anak Yang Belum Baligh

3 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Puasa Anak Yang Belum Baligh

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sering kita mendengar orang selain muslim mengatakan, ‘Anak-anak kecil orang Islam udah kuat puasa ya ….’ Lah trus ada yang nyeletuk, ‘Mengapa anak-anak disuruh puasa padahal kan belum baligh ?’

Bagaimana hukum puasa bagi anak-anak ? Bolehkah kita menyuruh mereka untuk berpuasa ? Mari simak tanya jawab berikut.

Puasa Anak Yang Belum Baligh 1

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya[1],

“Apa hukum puasa bagi anak-anak?”

Beliau Rohimahullah menjawab,

Puasa Anak Yang Belum Baligh 2

Puasa bagi anak-anak sebagaimana pernah kami sebutkan hukumnya tidak wajib namun sunnah/mustahab. Bagi mereka pahala jika mengerjakannya. Mereka tidak berdosa jika membatalkannya. Akan tetapi orang yang bertanggung jawab atas mereka seyogyanya menyuruh mereka melaksanakan sebagai proses pembiasaan diri”.

Lantas apakah perintah berpuasa bagi mereka sama kadarnya dengan perintah untuk sholat bagi anak yang belum baligh ?

Beliau Rohimahullah juga pernah ditanya seputar masalah ini.

Puasa Anak Yang Belum Baligh 3

Fadhilatusy Syaikh Rohimahullah pernah ditanya[2], “Apakah anak-anak yang belum berumur 15 tahun diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana perintah kita kepada mereka untuk sholat?”

Beliau Rohimahullah menjawab,

Puasa Anak Yang Belum Baligh 4

“Ya benar, anak-anak yang belum baligh diperintahkan untuk berpuasa jika mereka mampu. Sebagaimana para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum dahulu melakukan hal yang demikian terhadap anak-anak mereka. Bahkan para ulama telah menetapkan bahwa orang yang bertanggung jawab atas anak tersebut untuk memerintahkan mereka berpuasa sejak kecil. Tujuannya adalah untuk melatih mereka dan agar mereka gemar serta jiwa mereka terbiasa dengan dasar-dasar agama Islam hingga timbul perasaan bangga dan semangat terhadap Islam”.

Puasa Anak Yang Belum Baligh 5

“Namun jika puasa ini sangat berat dan dapat membahayakan mereka maka mereka tidak wajib melaksanakan hal tersebut. Sesungguhnya saya (Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin -pen) ingin menambahkan pada kesempatan ini sebuah permasalahan yang dilakukan sebagian orang tua, yaitu mereka melarang anak-anak mereka puasa dan hal ini menyelisihi apa yang dilakukan para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum terhadap anak mereka. Mereka mengira bahwa dengan mereka melarang anak-anak mereka berpuasa merupakan ungkapan kasih sayang kepada mereka. Padahal hakikat kasih sayang terhadap anak-anak adalah dengan memerintahkan/mengajak mereka untuk mengamalkan syari’at-syari’at Islam dan membiasakan mereka. Karena sesungguhnya hal ini tidak diragukan lagi merupakan kesempurnaan pengajaran dan perhatian terhadap mereka. Sungguh telah shohih sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

الرَّجُلُ رَاعٍ فِى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ مَسْؤُلُوْنَ عَنْ رَعِيَتِهِ

“Setiap laki-laki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya. Dia kelak dia akan ditanyai tentang kepemimpinannya”[3].

Perkara yang selayaknya diperhatikan oleh orang yang dibebani tanggung jawab terhadap istri dan anak-anak kecil adalah agar pihak yang bertanggung jawab bertaqwa kepada Allah Ta’ala terhadap mereka dan memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah yang diperintahkan kepada mereka dalam syari’at Islam”.

Kesimpulannya :

  1. Puasa hukumnya dianjurkan bagi anak-anak yang belum baligh. Mereka mendapatkan pahala apabila melaksanakannya. Namun jika mereka tidak mampu atau sangat memberatkan bagi mereka maka boleh bagi mereka berbuka puasa.

  2. Merupakan kewajiban bagi orang tua untuk memerintahkan anak-anaknya untuk berpuasa dalam rangka melatih diri dan jiwa mereka agar terbiasa melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam.

  3. Kasih sayang yang sebenarnya adalah dengan mengajarkan, membimbing anak dan istri kita di atas keta’atan kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala dan Nabi Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa Sallam.

 

Allahu a’lam.

Setelah Isya, 9 Sya’ban 1436 H, 26 Mei 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Jubir

[1] Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 84/XIX terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[2] Idem hal. 83-84/XIX.

[3] HR. Bukhori No. 893, Muslim no. 1829.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply