Pelipatgandaan Ganjaran Puasa Romadhon

29 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pelipatgandaan Ganjaran Puasa Romadhon

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Rasa syukur beriring pujian kita haturkan kepada Allah sebab kita masih dapat berjumpa dengan Bulan Romadhon, bulan yang penuh keberkahan.

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ

“Telah datang kepada kalian Bulan Romadhon, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan bagi kalian puasa pada bulan tesebut”[1].

Umur yang masih diberikan kepada kita pada Romadhon tahun ini merupakan nikmat yang sangat besar. Sebuah nikmat yang diidam-idamkan para salaf. Ibnu Rojab (wafat Tahun 795 H) Rohimahullah mengatakan,

“Sebagian salaf berkata, “Mereka (para pendahulu kami dari generasi yang utama) biasa berdo’a kepada Allah selama 6 bulan (sebelum Romadhon) agar Allah menyampaikan (umur) mereka pada Bulan Romadhon. Kemudian mereka pun berdo’a kepada Allah 6 Bulan (setelah Romadhon) agar Allah menerima amal mereka”[2].

Saudaraku, puasa Romadhon merupakan sebuah amalan yang mungkin terasa berat namun ketahuilah bahwa padanya terdapat pelipatgandaan pahala yang tidak terbatas. Berikut kita nukilkan beberapa dalil dan sebab pelipatgandaan pahala tersebut.

Pertama, puasa merupakan amalan yang Allah balas langsung tanpa penyebutan bilangan tertentu.

Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Semua amalan anak keturunan Adam dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat hingga 700 kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Kecuali puasa, sebab puasa itu hanya karena Aku dan Akulah yang akan membalasnya[3].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin (wafat tahun 1421 H) Rohimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya Allah mengkhususkan puasa untuk dirinya diantara seluruh amal lainnya adalah karena puasa demikian mulia di sisi Nya, kecintaan Nya terhadap puasa, terlihatnya keikhlasan dalam beribadah pada puasa. Sebab puasa adalah rahasia diantara seorang hamba dengan Robb nya, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah. Sesungguhnya orang yang berpuasa berada di sebuah situasi yang tersembunyi dari orang lain. Situasi yang memungkinkan baginya untuk melakukan hal-hal yang Allah haramkan ketika berpuasa, namun demikian dia tidak melakukannya. Sebab dia mengetahui bahwa dia punya Robb yang melihatnya dalam kondisi bersendirian dan Dia telah melarang orang yang berpuasa melakukan pembatal-pembatal puasa (walaupun tidak ada yang lihat –pen). Akan tetapi dia meninggalkan itu semua karena Allah, takut terhadap hukuman Nya dan sangat ingin mendapatkan pahala dari Nya. Oleh sebab itulah Allah membalas semua keikhlasannya itu sebagai tanda terima kasih Allah kepadanya[4].

Kedua, puasa merupakan kesabaran.

Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan[5],

Sesungguhnya puasa merupakan bagian dari sabar. Allah Ta’ala telah berfirman (tentang ganjaran bagi orang-orang yang sabar -pen),

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar [39] : 10)

Oleh karena itulah terdapat riwayat dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau menyebut Bulan Romadhon sebagai bulan kesabaran[6]. Disebutkan dalam riwayat lain,

وَالصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa adalah setengah kesabaran”. HR Tirmidzi[7]

Ibnu Rojab Rohimahullah juga mengatakan,

“Sabar itu ada 3 jenis. [1] Sabar di atas keta’atan kepada Allah, [2] sabar dari hal yang Allah haramkan, [3] sabar atas ketentuan Allah yang terasa pahit. Ketiga jenis sabar ini terkumpul dalam puasa. Sesungguhnya pada puasa terdapat kesabaran di atas keta’atan kepada Allah, sabar dari syahwat yang Allah haramkan bagi orang yang puasa, dan sabar atas apa yang terjadi pada orang yang puasa berupa rasa lapar, haus, jiwa dan badan yang lemah”[8].

 Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[9] perkataan yang mirip dengan ucapan Ibnu Rojab di atas,

“Puasa merupakan sabar di atas keta’tan kepada Allah, sabar dari hal yang Allah haramkan dan sabar atas ketentuan Allah yang sakit/pahit berupa rasa lapar, haus dan lemahnya jiwa serta badan. Ketiga jenis sabar ini terkumpul pada puasa. Sehingga orang yang berpuasa berhak dimasukkan dalam golongan orang-orang yang sabar. Allah Subhana wa Ta’ala telah berfirman tentang orang-orang yang sabar,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar [39] : 10)

Ketiga, Puasa Romadhon adalah puasa yang dikerjakan di waktu yang utama

Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan[10],

“Ketahuilah sesungguhnya pelipatgandaan pahala terhadap amal-amal terjadi karena berbagai sebab :

Diantara karena kemuliaan waktu. Misalnya puasa Romadhon, Puasa 10 hari di Bulan Dzul Hijjah. Disebutkan dalam hadits Salman Al Farisi yang marfu’ sebagaimana telah kami isyaratkan pada bahasan keutamaan Bulan Romadhon,

مَنْ تَطَوَّعَ فِيهِ بِخِصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيْمَا سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيْمَا سِوَاهُ

“Barangsiapa yang melaksanakan amalan tambahan (sunnah hukumnya) berupa kebaikan maka dinilai seperti melaksanakan sebuah kewajiban di bulan selainnya. Dan barangsiapa yang menunaikan sebuah amal kewajiban maka ternilai seperti orang yang menunaikan 70 kewajiban di bulan selainnya”[11].

Dalam riwayat Tirmidzi dari Anas, “Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang sedekah yang paling utama ?” Beliau menjawab,

صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

“Sedekah pada Bulan Romadhon”[12].

Disebutkan dalam shohihain Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

عُمْرَةٌ في رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً – أَوْ حَجَّةً مَعِي

“Ibadah umroh di Bulan Romadhon senilai ibadah haji atau haji bersamaku”[13].

Keempat, Puasa Romadhon merupakan puasa wajib.

Kelima, Puasa Romadhon merupakan salah satu rukun Islam.

Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan[14],

“Ketika puasa dengan sendirinya merupakan sebuah ibadah yang ganjarannya berlipat ganda jika dibandingkan amalan lainnya[15]. Maka puasa Romadhon pun merupakan puasa yang gajarannya berlipat ganda jika dibandingkan dengan puasa lainnya disebabkan kemulian waktu pelaksanaannya, statusnya sebagai puasa yang Allah wajibkan atas para hamba Nya, Dia juga menjadikan puasa Romadhon sebagai salah satu rukun Islam yang mana bangunan Islam dibangun di atasnya”.

Demikianlah beberapa sebab pelipatgandaan nilai puasa Romadhon di sisi Allah ‘Azza wa Jalla mudah-mudahan dengan mengetahui kemuliaan ini kita lebih bersemangat melaksanakan kewajiaban ini.

 

Sigambal, 3 Romadhon 1438 H / 29 Mei M.

Menjelang Berbuka,

Aditya Budiman bin Usman

 

[1] Potongan dari HR. Ahmad dan An Nasa’i. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah.

[2] Lihat Lathoif Al Ma’arif dengan tahqiq Syaikh Thoriq bin ‘Awadhollah hal. 369. terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut.

[3] Potongan dari HR. Bukhori no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151 dan lain-lain.

[4] Lihat Majlis Syahri Romadhon hal. 16 terbitan Muasasah Syaikh Ibnu Utsaimin ‘Unaizah, KSA.

[5] Lihat Lathoif Al Ma’arif hal. 268-269.

[6] HR. Abu Dawud no. 2428 dan Ibnu Majah no. 1741 namun hadits ini dinyatakan dhoif oleh Al Albani Rohimahullah

[7] Potongan HR. Tirmidzi no. 3519 namun hadits ini pun dinyatakan dhoif oleh Al Albani Rohimahullah.

[8] Lihat Lathoif Al Ma’arif hal. 269.

[9] Lihat Majlis Syahri Romadhon hal. 17.

[10] Lihat Lathoif Al Ma’arif hal. 270.

[11] HR. Ibnu Khuzaimah 1887 Al A’Zhomi menyatakan hadits ini dhoif/lemah. Ini merupakan hadits lemah namun sangat populer di negeri kita ketika Romadhon. Allahul Musta’an.

[12] HR. Tirmidzi no. 663. Hadits ini dinyatakan lemah oleh Al Albani Rohimahullah.

[13] HR. Bukhori no. 1863 dan Muslim no. 1256.

[14] Lihat Lathoif Al Ma’arif hal. 271.

[15] Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Huroiroh di bagian awal artikel ini.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply