Orang yang Mendapat Nikmat Sesungguhnya

19 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Orang yang Mendapat Nikmat Sesungguhnya

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Tak sedikit dari kita yang mengira bahwa nikmat Allah Subhahu wa Ta’ala itu terbatas pada nikmat sehat, rezki yang halal dan lain-lain yang terlihat dan nyata dirasakan. Namun ada suatu nikmat sesungguhnya yang kita sering memintanya bahkan berulang-ulang dalam sehari semalam. Tetapi sayang kita sering tidak merasa memintanya kepada Allah apatah lagi mensyukuri dan menjaga nikmat tersebut agar lestari pada diri kita.

Untuk itu, ada baiknya kita simak penuturan Ibnul Qoyyim Rohimahullah berikut,

Adapun orang yang diberikan nikmat, maka merekalah orang-orang yang Allah berikan anugrah mengenal kebenaran dengan ilmu. Serta melaksanakannya dan menomorsatukan ilmu (dan kebenaran –pen) sebagai bentuk pengamalan (dari kebenaran dan ilmu yang telah didapat –pen). Merekalah orang-orang yang berada di atas jalan keselamatan. Sedangkan orang selain mereka berada di atas jalan kehancuran. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mengucapkan,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al Fatihah [1] : 6-7).

berkali-kali dalam sehari semalan”[1].

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

“Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rohimahullah mengatakan, “Banyak sekali orang yang membaca do’a ini (Surat Al Fatihah) tanpa merasa bahwa sesungguhnya yang dia baca adalah do’a”[2].

Benarlah adanya apa yang diungkapkan syaikh. Kita pun terkadang termasuk di dalamnya. Padahal yang kita minta merupakan sebuah poros pemisah antara orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang celaka. Sungguh lemah iman dan himmah (keinginan) kita untuk menggapai keselamatan di akhirat.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah menuturkan,

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar harus menjadi orang yang mengenal dan mengetahui hal yang bermanfaat bagi dirinya terkait urusan dunia dan akhiratnya. Demikian juga hendaknya dia menomorsatukannya dan benar-benar berniat menggapai hal yang mendatangkan manfaat untuknya dan menjauhi hal-hal yang membahayakannya.

Sehingga dengan mengumpulkan kedua hal ini (mengetahui kebenaran, mengamalkan dan mendahulukannya di atas apapun –pen) berarti dia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus.

Bila telah hilang dari dirinya pengetahuan akan kebenaran, berarti dia telah meniti jalan orang-orang yang sesat. Namun bila dia kehilangan tujuannya (mencari ilmu tentang kebenaran –pen) dan mengikutinya (mengedapankan dan mengamalkannya –pen) maka berarti dia telah meniti jalan orang-orang yang dimurkai.

Dengan hal ini diketahuilah betapa agungnya kedudukan, betapa butuhnya kita terhadap do’a ini dan kebergantungan kebahagiaan dunia dan akhirat atasnya”.

“Seorang hamba benar-benar butuh terhadap hidayah pada setiap tarikan nafasnya, pada setiap perkara yang akan dia kerjakan atau akan dia tinggalkan[3].

Kesimpulan dari ucapan Ibnul Qoyyim Rohimahullah :

  1. Ilmu tentang kebenaran merupakan sebuah hal yang benar-benar urgen bagi setiap orang.
  2. Setelah mengetahui ilmu tentang kebenaran seorang hamba dituntut untuk mengedepankan kebenaran di atas selainnya sebagai bentuk pelaksanaan awal terhadap kebenaran yang telah diketahuinya.
  3. Permintaan agar senantiasa diberikan petunjuk dan ilmu tentang kebenaran serta melaksanakannya terangkum dalam surat Al Fatihah yang berulang kali dibaca pada setiap harinya.
  4. Mari mulai saat ini, camkanlah ketika membaca surat Al Fatihah berarti anda sedang meminta, berdo’a kepada Allah tentang suatu yang teramat sangat penting buat anda.

7 Jumadil Awwal 1440 H, 12Januari 2019 M

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat Risalah Ibni Al Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanih hal. 5 terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, KSA.

[2] Hal ini disampaikan syaikh ketika mensyarh Risalah Ibni Al Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanih di Mesjid Jami’ Abu Darda’ Pekan Baru.

[3] Lihat Risalah Ibni Al Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanih hal. 5-6.

Tulisan Terkait

Leave a Reply