Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah

1 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Telah disampaikan pada artikel sebelumnya bahwa hati merupakan pemimpin keistiqomahan. Apabila telah benar-benar berhasil menata hati di atas keistiqomahan maka akan diikuti oleh seluruh anggota badan. Artinya keistiqomahan hati merupakan awal dari istiqomahnya seluruh anggota badan dan bukan merupakan akhir dari keistiqomahan itu sendiri.

Oleh karena itulah Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah menuturkan[1].

Istiqomah Berkaitan Dengan Ucapan, Perbuatan dan Niat

Istiqomah yang dituntut dari seorang hamba adalah istiqomah pada ucapan, perbuatan dan niat. Maksudnya ucapan, perbuatan dan hati seorang hamba seyogyanya seluruhnya tetap berada di atas jalan istiqomah.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan dalam kitabnya Madaarijus Saalikiin[2],

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah 1

Istiqomah berkaitan dengan ucapan, perbuatan, haal (sikap –pen) dan niat”.

Di dalam Musnad Imam Ahmad dari hadits Anas Rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

“Tidak akan istiqomah/lurus iman seorang hamba hingga hatinya istiqomah/lurus. Sedangkan hatinya tidak akan istiqomah/lurus hingga istiqomah/lurus lisannya[3].

Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan,

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah 2

Seagung-agung bagian dari anggota badan yang mampu memelihara keistiqomahan setelah hati adalah lisan. Karena lisan adalah penerjemah dan penggambar apa yang ada di hati[4].

Di sini terdapat perhatian untuk mengawasi dan melindungi hati dan lisan pada permasalahan istiqomah. Makna inilah yang disampaikan para ulama dalam ungkapan mereka,

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah 3

Seseorang bersama dengan dua lidahnya yaitu hati dan lisannya”.

Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah 4

Hati dan lisan keduanya hanya sekerat daging yang kecil sekali namun seluruh anggota badan seorang hamba merupakan pengikut keduanya. Jika hati dan lisan istiqomah/lurus maka istiqomah/lurus pulalah anggota badan seluruhnya”.

Dalil pertama tentang hati adalah hadits yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir Rodhiyallahu ‘anhu yang telah lalu,

أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguhnya ada segumpal daging pada jasad yang apabila dia baik maka baik pulalah seluruh jasad. Namun apabila dia rusak maka rusak pulalah seluruh anggota badan. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati/jantung”[5].

Dalil keduanya tentang lisan adalah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari haditsnya Abu Sa’id Al Khudry Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا أصْبَحَ ابْنُ آدَمَ ، فَإنَّ الأعْضَاءَ كُلَّهَا تَكْفُرُ اللِّسانَ ، تَقُولُ : اتَّقِ اللهَ فِينَا ، فَإنَّما نَحنُ بِكَ ؛ فَإنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا ، وإنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Apabila anak keturuan Adam mendapati waktu subuh maka seluruh anggota badan akan menutupi kesalahan lisan lalu mereka berkata, “Bertaqwalah kepada Allah tentang perkara kami. Karena kami bergantung kepadamu. Bila engkau istiqomah maka kami pun istiqomah. Jika engkau bengkok maka kami pun bengkok[6].

Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah 5

“Jika hati istiqomah maka anggota badan pun istiqomah. Jika lisan istiqomah maka anggota badan pun istiqomah. Karena lisan adalah penerjemah hati juga merupakan khalifah/pengganti hati pada zhohir anggota badan”.

Niat Hati, Ucapan dan Perbuatan Harus Istiqomah 6

Jika hati dan lisan membantu sebuah perkara maka perkara tersebut akan terlaksana. Lisan merupakan pengikut bagi hati sedangkan seluruh anggota badan mengikuti keduanya (hati dan lisan –pen)”.

Oleh karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan kesehatan/kebaikan hatinya. Hendaklah dia berdo’a kepada Robbnya Tabaroka wa Ta’ala untuk memperbaiki hatinya. Agar dia mampu menghilangkan penyakit dalam hatinya, bercak nodanya dan hitamnya. Kemudian dia berusaha untuk memperbaiki lisannya dengan ucapan-ucapan yang suci dan anggota badan dengan amal-amal kebaikan.

*****

Kesimpulan

  1. Mulailah berusaha istiqomah memperbaiki hati anda.
  2. Apabila hati anda telah benar-benar istiqomah, maka akan tergambar pada lisan dan anggota badan anda yang lain.
  3. Perhatikanlah lisan anda karena lisan merupakan penerjemah apa yang ada di hati. Sekaligus merupakan penentu amal anggota badan setelah hati.
  4. Lisan merupakan pengganti posisi hati pada zhohir anggota badan.

 

Allahu Ta’ala a’lam.

 

Setelah subuh, 16 Shofar 1437 H, 28 Nopember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat ‘Asyaru Qowa’id fii Al Istiqomah hal. 22-25 terbitan Darul Fadhilah

[2] Hal. 105/I.

[3] Telah berlalu takhrijnya.

[4] Jaami’ Al ‘Uluum wal Hikam hal. 386.

[5] HR. Bukhori no. 52, Muslim no. 1599.

[6] HR. Tirmidzi no. 2407. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah dalam Shohih At Taghrib no. 2871.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply