Musafir Puasa Atau Tidak ?

25 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Musafir Puasa Atau Tidak ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ketika Bulan Romadhon sudah di penghujung maka mata kita akan sangat akrab dengan orang yang hilir mudik untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Fenomena ini mungkin kita pun mengalaminya atau pernah mengalaminya atau malah sudah merencanakannya. Lantas yang jadi pertanyaan, ‘Apakah ketika itu anda harus puasa ? Atau harus tidak puasa karena adanya udzur safar?’

Mari simak tanya jawab berikut.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya[1],

Musafir Puasa Atau Tidak 1

Apakah Berpuasa Lebih Utama Bagi Seorang Musafir atau Tidak ?”

Beliau Rohimahullah menjawab,

Musafir Puasa Atau Tidak 2

Yang lebih utama baginya adalah mana yang lebih mudah untuk dikerjakan. Jika lebih mudah baginya puasa maka puasa lebih utama. Jika tidak puasa lebih mudah baginya maka tidak puasa lebih utama baginya. Namun jika sama saja baginya puasa atau tidak maka lebih utama baginya puasa. Karena inilah yang dilakukan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dan demikianlah sunnahnya. Hal ini tentu lebih baik karena bersegera untuk melepaskan beban kewajiban puasa. Ini mungkinlebih ringan bagi seseorang. Karena jika dia menggantinya pada hari yang lain maka jiwanya mungkin akan malas (karena umumnya orang tidak sedang puasa -pen). Alasan kita lainnya untuk menguatkan pendapat ini adalah karena pada saat itu dia sedang berjumpa dengan bulan yang orang lain juga berpuasa. Jika demikian maka orang ini mungkin mengalami salah satu dari 3 keadaan berikut :

  1. Apabila tidak puasa lebih ringan baginya maka hendaklah dia berbuka/tidak puasa.

  2. Apabila puasa lebih mudah baginya maka hendaklah dia berpuasa.

  3. Jika sama saja baginya puasa ataupun tidak maka lebih utama baginya untuk berpuasa”.

Allahu a’lam.

Setelah Tarawih, 6 Romadhon 1436 H, 23 Juni 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Jubir

[1] Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 137/XIX terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply