Mensyukuri Yang Sedikit Dahulu

30 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mensyukuri Yang Sedikit Dahulu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Sering kita mengucapkan, ‘Ah, kalau saya punya mobil kan enak bisa berangkat kajian kalau hujan’. Terkadang juga kita mengatakan, ‘Ah, enaknya si Fulan. Banyak uang bisa infaq. Kalau saya punya duit segitu, saya akan infaq lebih banyak dari dia’. Masih banyak ucapan semisal yang mungkin sering terbetik di benak kita.

Kami katakan ucapan tersebut tidak salah sepenuhnya. Bahkan jauh lebih baik dari ucapan orang yang mengatakan, ‘Kalau saya punya banyak uang, maka saya akan main judi di Macau, atau saya akan dirikan tempat hiburan malam’.

Namun terkadang kita manusia biasa ini sering lupa membaca diri. Kita mengucapkan ucapan yang pada dasarnya tidak ada masalah namun niat di hati kita adalah kedengkian, hasad kepada orang yang diberi nikmat tersebut yang dapat berkonsekwensi pada buruk sangka terhadap pemberi nikmat yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Ucapan demikian meluncur dari lisan kita seolah-olah kita pasti lebih baik dari orang tersebut jika dapat nikmat seperti apa yang ada padanya. Atau menghakimi seseorang yang semestinya bisa berangkat kajian ketika hujan namun dia tidak berangkat padahal ada mobil. Demikian seterusnya.

Kita seolah lupa diri, kita lupa mensyukuri nikmat yang ada pada kita. Nikmat tersebut mungkin sedikit namun angan-angan kita selangit. Kita lupa bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan tambahan nikmat jika kita mampu mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita. Kita juga lupa bahwa jika kita tidak mampu mensyukuri nikmat maka adzablah kelah yang menanti kita. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrohim [14] : 7)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

أي: لئن شكرتم نعمتي عليكم لأزيدنكم منها

“Yaitu jika kalian mensyukuri nikmat Ku, maka wajib bagi Ku menambahkan atas kalian nikmat tersebut”[1].

Nikmat itu dunia ibarat dua sisi mata uang, jika anda tidak mampu mensyukurinya berarti anda telah kufur terhadap nikmat tersebut. Jadi mengapa kita tidak mensyukuri yang sedikit dahulu dan tunjukkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bahwa kita telah mempergunakan nikmat yang ada di atas keta’atan kepada Nya. Tidak dapat berangkat kajian ketika hujan sangat deras, ya datang kajian pada saat hujannya masih bisa ditempuh dengan sepeda motor plus mantel hujan. Tidak mampu infaq ratusan juta maka infaqlah dengan dengan puluh ribuan dulu. Inilah contoh bentuk nyata kesyukuran anda terhadap nikmat Allah Subhana wa Ta’ala sekaligus bentuk kejujuran ucapan dan angan-angan anda tersebut.

Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَمَنْ لاَ يَشْكُرُ الْقَلِيلَ ، لاَ يَشْكُرُ الْكَثِيرَ وَمَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ ، لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ

“Menceritakan nikmat Allah (tentu bukan karena sombong –pen) merupakan bentuk syukur sedangkan meninggalkannya bentuk kufur nikmat. Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit maka tidak tidak akan mensyukuri nikmat yang banyak. Barangsiapa tidak dapat berterima kasih kepada manusia maka tidak tidak dapat bersyukur kepada Allah”[2].

Jadi, mari kita syukuri nikmat yang ada pada diri kita serta qona’ah terhadap pemberian Allah Tabaroka wa Ta’ala pada diri kita. Mudah-mudahn Allah ‘Azza wa Jalla menambahkan nikmatnya kepada kita di atas kesyukuran dan berbuah pahala di hari yang akan datang.

 

Setelah Subuh 26 Jumadil Akhiroh 1438 H |  25 Maret 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir untuk ayat ini.

[2] HR. Al Bazzar dalam Musnadnya no. 3282. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani Rohimahullah dalam Jami’ Ash Shoghir no. 5325.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply