Mengandalkan Amalan Sunnah dan Menyia-nyiakan Amalan Fardhu

15 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengandalkan Amalan Sunnah dan Menyia-nyiakan Amalan Fardhu

Alhamdulillah wa shollatu wa sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’ain. Telah berlalu penjelasan apa yang dimaksud dengan talbis (Klik Disini). Pada kesempatan kali ini kembali akan kita nukilkan perkataan para ulama ahlu sunnah wal jama’ah seputar talbis iblis atas orang-orang awam.

Talbis iblis yang akan kita bahas kali ini adalah lebih mengandalkan amalan nafilah/sunnah dan menyia-nyiakan amalan fardhu/wajib. Abul Faraj Ibnul Jauziy Rohimahullah dalam kitabnya Tabliis Ibliis,

وَمِنْ العَوَّامِ مَنْ يَعْتَمِدُ عَلَى نَافِلَةٍ وَيَضِيْعُ فَرَائِضَ مِثْلُ أَنْ يَحْضُرَ المَسْجِدَ قَبْلَ الْأَذَانِ وَيَتَنَفَّلُ فَإِذَا صَلَّى مَأْمُوْمًا سَابَقَ الإِمَامَ.

وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَحْضُرُ فِي أَوْقَاتِ الفَرَائِضِ وَيُزَاحِمُ لَيْلَةَ الرَغَائِبِ.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَعَبَّدُ وَيبْكِي وَهُوَ مُصِرٌّ عَلَى الفَوَاحِشِ لَا يَتْرُكُهَا فَإِنْ قِيْلَ لَهُ قَالَ سَيِّئَةٌ وَحَسَنَةٌ واللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

وَجُمْهُوْرُهُمْ يَتَعَبَّدُ بَرَأْيِهِ فَيُفْسِدُ أَكْثَرَ مَا يُصْلِحُ.

وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْهُمْ قَدْ حَفِظَ القُرْآنَ وَتَزَهَّدَ ثُمَّ جَبَّ نَفَسَهُ وَهَذَا مِنْ أَفْحَشِ الْفَوَاحِشِ.

“Diantara orang-orang awam ada yang mengandalkan amalan yang statusnya nafilah/sunnah/tambahan dan menyia-nyiakan amalan yang statusnya fardhu/wajib. Semisal hadir di mesjid sebelum dikumandangkan adzan, kemudian melakukan sholat sunnah namun ketika sholat berjama’ah bersama imam dia mendahului gerakan imam.

Diantara mereka ada yang tidak hadir diwaktu ditegakkan sholat berjamaah di mesjid. Namun mereka rela berdesak-desakan untuk melaksanakan sholat roghoib[1].

Diantara mereka ada yang beribadah, menangis (ketika beribadah –ed.). Namun mereka terus menerus melakukan perbuatan keji dan tidak meninggalkannya. Jika ada yang mengingatkan kekeliruan mereka, mereka akan mengatakan, ‘(kami bukan hanya melakukan –ed.) keburukan dan (namun kami juga melakukan –ed.) kebaikan. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang !’

Mayoritas dari mereka beribadah (kepada Allah) hanya mengandalkan akal dan pandangan mereka sehingga apa yang mereka rusak lebih banyak dari apa yang mereka perbaiki[2].

Aku (Ibnul Jauziy Rohimahullah) melihat seorang laki-laki dari kalangan mereka yang memiliki sifat zuhud dan telah hafal Al Qur’an. Lalu ia mengebiri dirinya sendiri. Padahal ini adalah salah satu perbuatan keji yang paling keji”.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

[Diterjemahkan dengan perubahan redaksi seperlunya dari Kitab Al Muntaqoo An Nafiis min Talbiis Ibliis li Imam Ibnil Jauziy karya Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 541-542 terbitan Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA]

 

Sigambal, setelah mencuci pakaian Hudzaifah

28 Shofar 1435 H / 31 Desember 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah mengatakan, “Maksudnya adalah malam sholat rogho’ib. Ini adalah sholat yang diada-adakan tanpa dasar. Imam Al Izz Ibnu ‘Abdus Salam telah menulis sebuah risalah tersendiri untuk mengingkari sholat ini dan menetapkan kebid’ahannya”.

[2] Syaikh ‘Ali memberikan komentar tentang hal ini, “Saat sekarang ini kebanyakan orang awam termasuk diantaranya para pemuda yang menganggap dirinya sebagai juru dakwah yang menyerupai orang awam, beribadah dengan dasar akal semata, berpendapat degan dasar akal semata serta membangun segala sesuatu dalam hidupnya dengan dasar akal semata. Padahal akal mereka adalah angin lalu (sesuatu yang tidak dapat dijadikan sandaran semata –ed.)”.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply