Mendekati Kesempurnaan Dalam Istiqomah

19 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mendekati Kesempurnaan Dalam Istiqomah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Setiap orang menginginkan sesuatu yang perfect, sempurna tanpa celah. Demikian pula dengan istiqomah. Ketika kita pernah terjerembab dalam kubangan kemaksiatan kemudian kita sadar karena hidayah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Lantas mulai saat itu kita berusaha untuk berjalan di atas jalan keistiqomahan sesempurna mungkin. Namun di tengah perjalanan aral melintang, godaan pun datang. Sehingga kesempurnaan yang kita usahakanpun cacat walaupun tidak luluh lantak. Bagaimana nasib keistiqomahan kita ?

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah menuturkan[1].

Istiqomah yang Dituntut dari Seorang Hamba adalah As Saddad, jika tidak mampu maka berusaha sekuat tenaga untuk mendekatinya

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengumpulkan dua perkara ini dalam sabdanya,

إنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ إلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأبْشِرُوا

“Sesungguhnya agama Islam itu mudah. Seseorang tidaklah mempersulit agama melainkan dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berusahalah kalian untuk saddad (benar-benar lurus). Jika tidak mampu maka berusahalah mendekati lurus dan berilah kabar gembira”[2].

Sehingga yang dituntut dalam bab istiqomah adalah as saddad. As Saddad itu adalah berusaha benar-benar lurus sesuai tuntunan/sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu ketika ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu meminta untuk diajarkan sebuah do’a yang akan dihaturkannya kepada Allah. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengajarkan,

قُلْ اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَ سَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“Ucapkanlah (اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَ سَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ) Yaa Allah berikanlah aku petunjuk dan As Saddad, Jadikanlah petunjuk Mu sebagai jalanku dan jadikanlah hidupku lurus, selurus anak panah”[3].

Beliau Hafizhahullah kemudian mengatakan,

Mendekati Kesempurnaan Dalam Istiqomah 1

Seorang hamba yang dituntut darinya adalah berusaha agar jiwanya mencapai As Saddad, pentunjuk Nabi dan berjalan di atas petunjuk beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun jika tidak mampu benar-benar persis maka hendaklah dia berusaha keras untuk mendekatinya. Allah Ta’ala telah berfirman,

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Tetaplah pada jalan yang lurus (istiqomah) kepada Nya dan mohonlah ampun (istighfar) kepada Nya”. (QS. Fushshilat [41] : 6)

Pada penyebutan istighfar setelah adanya perintah untuk istiqomah terdapat isyarat. Sesungguhnya ketika seorang hamba berusaha sungguh-sungguh agar jiwanya istiqomah mau tidak mau pasti terdapat kekurangan.

Oleh karena itu Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan[4],

Mendekati Kesempurnaan Dalam Istiqomah 2

“Dalam firman Allah Ta’ala,

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Tetaplah pada jalan yang lurus (istiqomah) kepada Nya dan mohonlah ampun (istighfar) kepada Nya”. (QS. Fushshilat [41] : 6)

Terdapat isyarat bahwa sesungguhnya pasti ada kekurangan dalam usaha istiqomah. Oleh karena itu diperintahkan juga untuk istighfar yang berkonsekwensi adanya taubat dan usaha kembali istiqomah. Maka ayat ini semisal sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Ikutilah/tutupilah keburukan yang engkau kerjakan dengan kebaikan yang menghapusnya”[5].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa manusia tidak akan mampu istiqomah dengan istiqomah yang sebenar-benarnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dari melalui shahabat Tsauban Rodhiyallahu ‘anhu,

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ ، وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

“Istiqomahlah kalian namun kalian tidak akan benar-benar mampu menjaganya. Ketahuilah sebagus-bagus amalan kalian adalah sholat dan tidaklah orang yang menjaga wudhunya melainkan dia adalah seorang mukmin”[6].

Dalam salah satu redaksi riwayat Imam Ahmad,

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

“berusahalah kalian untuk saddad (benar-benar lurus) dan berusahalah untuk mendekatinya. Tidaklah orang yang menjaga wudhunya melainkan dia adalah seorang mukmin”[7].

Dalam Shohihain dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا

“Berusahalah kalian untuk saddad (benar-benar lurus) dan berusahalah untuk mendekatinya”[8].

Syaikh Prof. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Mendekati Kesempurnaan Dalam Istiqomah 3

“Maka As Saddad (berusaha benar-benar lurus dan sesuai petunjuk Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) merupakan hakikat istiqomah. Yaitu berusaha sungguh-sungguh pada semua ucapan, perbuatan dan maksud/niat seperti orang yang akan memanah ke suatu sasaran dan tepat mengenainya”.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah memerintahkan ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu agar dia memohon As Saddad dan petunjuk.

وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ وَبِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ

“Berusalah lurus selurus anak panah dan mohonlah petunjuk yang akan menunjukimu jalan lurus”[9].

Mendekati Kesempurnaan Dalam Istiqomah 4

Orang yang berusaha mendekati adalah orang berusaha mendekati sasaran walaupun tidak benar-benar tepat sasaran.

Namun dipersyaratkan yang dia niatkan pertama kali adalah agar benar-benar tepat sasaran. Sehingga usahanya yang tidak benar-benar tepat sasaran tersebut bukan merupakan kesengajaan”.

Dalil yang menunjukkan ini adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تَعْمَلُوا وَلَنْ تُطِيْقُوا كَلَّ مَا أَمَرْتُكُمْ وَلَكِنْ سَدِّدُوْا وَأَبْشِرُوْا

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mampu bena-benar beramal dan kalian juga tidak akan mampu melaksanakan seluruh yang aku perintahkan. Namun berusahalah mendekatinya dan berilah kabar gambira”.

Maknanya berusalah benar-benar sesuai, benar-benar benar dan istiqomah. Namun sesungguhnya jika kalian benar-benar berusaha melaksanakan seluruh amal maka tentulah kalian sudah mengamalkan seluruh yang diperintahkan”[10].

*****

Kesimpulan

  1. Keistiqomahan pada hakikatnya adalah usaha sungguh-sungguh agar benar-benar sesuai dengan tuntunan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.
  2. Jika tidak mampu (setelah mencoba tentunya) maka berusahalah agar benar-benar mendekatinya.
  3. Ketika meniti jalan keistiqomahan ada aral melintang dan godaan menerpa. Maka jangan menyerah, beristighfarlah dan kembali berusaha mendekati jalan keistiqomahan.
  4. Jangan lupa berdo’a

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَ سَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

“ (اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَ سَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ) Yaa Allah berikanlah aku petunjuk dan As Saddad, Jadikanlah petunjuk Mu sebagai jalanku dan jadikanlah hidupku lurus, selurus anak panah”[11].

Allahu Ta’ala a’lam.

 

Setelah subuh, 3 Shofar 1437 H, 15 Nopember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat ‘Asyaru Qowa’id fii Al Istiqomah hal. 18-21 terbitan Darul Fadhilah

[2] HR. Bukhori no. 39, 6463 dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu.

[3] HR. Muslim no. 2725.

[4] Dalam Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam.

[5] HR. Tirmidzi no. 1987, Ahmad no. 21392 dan lain-lain.

[6] HR. Ahmad no. 22378, Sunan Ibnu Majah no. 277. Hadits ini dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 412.

[7] HR. Ahmad no. 22432.

[8] HR. Bukhori no. 6463, Muslim no. 76, 2816.

[9] HR. Muslim sebagaimana yang telah berlalu.

[10] Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam hal. 510-511/I.

[11] HR. Muslim no. 2725.

Tulisan Terkait

Leave a Reply