Masih Sinis Liat Orang Celana Cingkrang?!

10 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masih Sinis Liat Orang Celana Cingkrang ?!

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Seiring dengan tersebarnya ilmu agama dengan berbagai wasilahnya berdampak pada tersebarnya penerapan berbagai sunnah[1] Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam di berbagai tempat dan kesempatan. Salah satu sunnah tersebut adalah meninggikan pakaian di atas mata kaki atau yang populer dengan istilah cingkrang.

Dalil akan disyariatkannya hal ini sangat banyak. Salah satunya hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَا أسْفَل مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإزْارِ فَفِي النَّارِ

“Pakaian yang berada menjulur di bawah kedua mata kaki (isbal) maka tempatnya di neraka”[2].

Jelas ini merupakan ungkapan tegas dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun yang membuat hati kita sakit, merasa kasihan dan merasa omongan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam direndahkan adalah sikap sebagian orang yang notabene masih muslim. Mereka memandang rendah, remeh, hina dan tidak rapi dan seterusnya dan seterusnya atas orang-orang yang menghidupkan dan melaksanakan sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ini. Jikalau dikumpulkan hadits tentang larangan isbal ini maka akan sangat banyak sekali. (Diantara tulisan guru dan teman kami, silakan klik di sini)

Benar bahwa para ulama berbeda pendapat masalah isbal jika bukan karena sombong. Namun apakah perbedaan ulama itu lantas menjadi dalil bagi anda untuk memandang sinis dan sikap buruk lainnya kepada orang yang tidak isbal (baca : cingkrang) ? Seolah-olah orang yang demikian tidak mulia, kurang rapi, penampilannya buruk dan lain sebagainya. Atau mungkin anda sudah lupa dengan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 “Sungguh telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Pertanyaannya, ‘Kira-kira Nabi anda, Nabi saya isbal atau tidak ? Atau jangan-jangan Nabi anda bukan Rosulullah Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ?!’

Atau anda malah menuduh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh tapi tidak melakukannya ? Sungguh tidak demikian, beliau tersucikan dari kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla atas sikap berucap namun tidak berbuat.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. Ash Shof [61] :3)

 

Kesimpulannya

Walaupun anda berpendapat tidak haram isbal kalau bukan karena sombong, tetapi tolong biarkan, jangan anggap hina dan seterusnya orang-orang yang melaksanakan ajaran Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sigambal, 16 Syawwal 1438 H / 10 Juli 2017 M.

Setelah subuh,

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Maksud Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam disini bukanlah sunnah secara fikih yaitu perkara yang mustahab/dianjurkan dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Yang dimaksudkan melainkan sunnah yang berarti seluruh metode Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam baik dalam ibadah, muamalah, berpakaian dan lain-lain yang boleh jadi hukumnya secara fikih sunnah atau wajib.

[2] HR. Bukhori no. 5787.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply