Mari Dekat Dengan Al Qur’an di Bulan Al Qur’an

1 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mari Dekat Dengan Al Qur’an di Bulan Al Qur’an

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Kita kembali dipertemukan Allah Subhana wa Ta’ala dengan Bulan Romadhon. Bulan yang penuh berkah dan pahala. Oleh karena itulah sebagai seorang muslim maka wajib bagi kita untuk bersyukur atas nikmat yang luar biasa ini dengan memperbanyak amalan di bulan ini.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Romadhon yang padanya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al Baqoroh [2] : 185)

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

قوله تعالى: { شهر رمضان }؛ الشهر هو مدة ما بين الهلالين؛ وسمي بذلك لاشتهاره؛ ولهذا اختلف العلماء هل الهلال ما هلّ في الأفق – وإن لم يُرَ؛ أم الهلال ما رئي واشتهر؛ والصواب الثاني، وأن مجرد طلوعه في الأفق لا يترتب عليه حكم شرعي – حتى يرى، ويتبين،

Firman Allah Ta’ala,

(شَهْرُ رَمَضَانَ) ‘Bulan Romadhon’. (الشهر) Bulan merupakan sebuah tenggang waktu antara dua hilal. Disebut demikian karena tersiarnya/diumumkannya hal tersebut. Oleh karena itulah para ulama berselisih pendapat apakah hilal adalah (hanya) sesuatu yang terlihat di ufuk walaupun tidak tampak atau apakah hilal adalah sesuatu yang tampak diufuk dan tersiar/diketahui halayak ramai. Pendapat yang lebih tepat adalah pendapat kedua. Karena semata-mata munculnya bulan sabit di ufuk tidaklah langsung mengakibatkan adanya tuntutan hukum syar’i hingga bulan sabit tersebut tampak dan jelas”[1].

Kemudian beliau Rohimahullah mengatakan,

وأن معنى: { أنزل فيه القرآن } أي ابتدئ فيه إنزاله، كقوله تعالى: {إنا أنزلناه في ليلة مباركة} [الدخان: 3] ، وقوله تعالى: {إنا أنزلناه في ليلة القدر} [القدر: 1] أي ابتدأنا إنزاله.

“Sesungguhnya makna firman Allah Ta’ala (أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ) ‘Yang padanya diturunkan Al Qur’an’. Yaitu padanya diturunkan permulaan Al Qur’an. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkannya (Al Qur’an) pada yang malam yang penuh berkah”. (QS. Ad Dukhon [44] : 3)

Juga Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkannya pada malam al qodr/mulia”. (Al Qodr [97] : 1).

Yaitu Kami (Allah) menurunkan permulaan Al Qur’an”[2].

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

فقوله تعالى: { هدًى للناس } أي كل الناس يهتدون به ــــ المؤمن، والكافر ــــ الهداية العلمية؛ أما الهداية العملية فإنه هدًى للمتقين، كما في أول السورة؛ فهو للمتقين هداية علمية، وعملية؛ وللناس عموماً فهو هداية علمية.

“Maka firman Allah Ta’ala (هُدًى لِلنَّاسِ) ‘Sebagai petunjuk kepada manusia’. Yaitu setiap manusia yang mencakup orang-orang beriman dan orang-orang kafir harus menjadikannya petunjuk sebagai hidayah ilmiyah. Sedangkan sebagai hidayah amaliyah maka Al Qur’an merupakan petunjuk amaliyah bagi orang-orang yang bertakwa. Hal ini sebagaimana tercantum dalam awal-awal surat Al Baqoroh. Maka Al Qur’an merupakan hidayah ilmiyah dan amaliyah bagi seorang yang bertaqwa. Adapun bagi manusia secara umum maka Al Qur’an merupakan hidayah ilmiyah”[3].

Kemudian Syaikh Rohimahullah melanjutkan,

والمعنى: أن القرآن اشتمل على الآيات البينات – أي الواضحات؛ فهو جامع بين الهداية، والبراهين الدالة على صدق ما جاء فيه من الأخبار، وعلى عدل ما جاء فيه من الأحكام.

“Maknanya bahwa Al Qur’an berisi ayat-ayat yang jelas. Al Qur’an menghimpun antara hidayah dan bukti yang menunjukkan benarnya berintanya serta adilnya aturan hukum yang terkandung di dalamnya”[4].

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

قوله تعالى: { والفرقان }: مصدر، أو اسم مصدر؛ والمراد أنه يفرق بين الحق، والباطل؛ وبين الخير، والشر؛ وبين النافع، والضار؛ وبين حزب الله، وحرب الله؛ فرقان في كل شيء؛ ولهذا من وفق لهداية القرآن يجد الفرق العظيم في الأمور المشتبهة؛ وأما من في قلبه زيغ فتشتبه عليه الأمور؛ فلا يفرق بين الأشياء المفترقة الواضحة

“Firman Allah (وَالْفُرْقَانِ) ‘sebagai pembeda’. (وَالْفُرْقَانِ) merupakan mashdar/gerund –eng atau isim mashdar. Maksudnya bahwa sesungguhnya Al Qur’an dapat membedakan antara kebenaran dan kebathilan, antara kebaikan dan keburukan, antara hal yang bermanfaat dan berbahaya, antara tentara Allah dan musuh Allah. Bahkan Al Qur’an merupakan pembeda segala sesuatu. Oleh karena itulah barang siapa yang menyesuaikan dengan Al Qur’an maka dia akan mendapati terdapat perbedaan yang besar dalam perkara-perkara yang samar. Adapun orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan maka akan samar baginya perkara ini. Sehingga dia tidak mampu membedakan sesuatu yang jelas-jelas terlihat berbeda”[5].

Jika hati kita masih hidup dan terbebas dari penyakit hati, maka tentu sudah cukup ayat yang mulia ini sebagai pelecut bagi kita untuk bergiat lebih dekat dengan Al Qur’an. Baik dengan memperbanyak membacanya, mentadabburinya dan melakasanakan konsekwensinya.

Namun apabila hati ini belum tergerak untuk ‘berdekatan’ dengan Al Qur’an dengan ayat di atas maka mari dengarkan hadits-hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berikut.

1. Dari ‘Utsman bin ‘Affan Rodhiyallahu ‘anhu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya”[6].

2. Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Al Qur’an dan dia mahir membacanya bersama malaikat yang baik jasadnya dan baik pula hatinya. Orang yang membaca Al Qur’an namun dia membacanya terbata-bata maka baginya dua pahala”[7].

3. Dari Abu Musa Al Asy’ariy Rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Permisalan mukmin yang membaca Al Qur’an semisal buah utrujah, aromanya wangi dan rasanya manis/enak. Permisalan mukmin yang tidak membaca Al Qur’an semisal buah kurma, rasanya manis/enak namun aromanya tidak ada. Permisalan orang yang munafiq namun membaca Al Qur’an semisal buah royhanah aromanya wangi namun rasanya pahit. Permisalan orang yang munafik dan tidak membaca Al Qur’an semisal buah handzolah aromanya bau dan rasanya pahit”[8].

4. Dari ‘Umar bin Al Khoththob Rodhiyallahu ‘anhu, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum karena Al Qur’an dan merendahkan yang lainnya karenanya”[9].

5. Dari Abu Umamah Al Bahiliy Rodhiyallahu ‘anhu, Aku mendengar Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Bacalah oleh kalian Al Qur’an. Karena sesungguhya kelak Al Qur’an akan datang pada hari qiyamat memberikan syafa’at kepada pembacanya”[10].

Mudah-mudahan hati kita tergerak untuk ‘berdekatan’ dengan Al Qur’an pada Bulan Al Qur’an.

Sigambal, setelah subuh bersama Hudzaifah.

3 Romadhon 1435 H / 1 Juli 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Lihat Tafsir Surat Al Baqoroh hal. 331-332/II terbitan Dar Ibnul Jauziy Riyadh.

[2]Lihat Tafsir Surat Al Baqoroh hal. 333/II.

[3]Idem hal. 333/II.

[4]Idem hal. 333-334/II.

[5]Idem hal. 334/II.

[6]HR. Bukhori no. 5027.

[7]HR. Bukhori no. 4937 dan Muslim no. 798.

[8]HR. Bukhori no. 5020 dan Muslim no. 797.

[9]HR. Muslim no. 817.

[10]HR. HR. Muslim 804.

Tulisan Terkait

Leave a Reply