Kewajiban Setelah Romadhon Berlalu

10 Jul

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kewajiban Setelah Romadhon Berlalu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Alhamdulillah kita masih berada di Bulan Syawal. Romadhon baru saja menghampiri kita, mudah-mudahan seluruh amal ibadah kita diterima Allah ‘Azza wa Jalla sebagai pemberat timbangan kebaikan kita sekaligus penghapus dosa-dosa yang telah berlalu.

Seorang muslim haruslah menjadi seorang yang visioner, dalam artian ketika dia telah selesai melaksanakan satu kewajiban agama maka hendaklah dia memikirkan apa kewajiban saya selanjutnya. Tentunya disertai harapan agar amalnya diterima dan takut jika amalnya ditolak. Dengan demikian mudah-mudahan hilanglah penyakit riya’ dan ujub terhadap amalnya.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Ibrohim [14] : 7)

Ibnu Katsir Rohimahullah menukil tafsir ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu untuk ayat ini,

إذا فرغت من الفرائض فانصب في قيام الليل

“Jika engkau telah selesai mengerjakan kewajiban maka bersungguh-sungguhlah mengerjakan Qiyamul Lail”[1].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Kewajiban Setelah Romadhon Berlalu 1

“Jika anda telah selesai mengerjakan amal-amal anda maka bersungguh-sungguhlah untuk amal lainnya, maksudnya berusaha keraslah untuk mengerjakan amal lainnya. Janganlah dunia melalaikan anda. Oleh karena itulah kehidupan seorang yang berakal merupakan kehidupan yang penuh semangat. Setiap kali selesai menunaikan sebuah amalan maka diapun akan bersegera melaksanakan amal lainnya, demikianlah”[2].

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Kewajiban Setelah Romadhon Berlalu 2

“Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah Ta’ala dan fikirkanlah betapa hari dan malam demikian cepat berlalu. Ingatlah waktu untuk meninggalkan dunia ini semakin dekat. Oleh karenanya berbekallah dengan amal sholeh (terutama) pada bulan Romadhon penuh berkah dan kebaikan ketika kalian berada padanya. Kemudian akhirnya dia akan berlalu dengan begitu cepatnya sebagai saksi di sisi Robbnya untuk orang-orang yang mengetahui kedudukan Romadhon dan mengambil faidah darinya dengan melaksanakan keta’atan dan berbuat kebaikan. Sekaligus juga sebagai saksi atas orang-orang yang dungu akan keutamannya dan menyia-nyiakannya. Maka hendaklah setiap kita menghisab, menghitung, kaji diri sendiri apa yang sudah dia perbuat di bulan ini. Barangsiapa yang menyuguhkan amal keta’atan maka hendaklah dia memuji Allah atas hal tersebut. Hendaklah dia berdo’a meminta kepada Allah agar amal tersebut diterima dan kontiniyu di atas keta’atan pada sisa hidupnya. Namun bagi orang yang menyia-nyiakannya maka hendaklah dia bertaubat kepada Allah dan mulailah kehidupan baru dengan menyibukkan diri melakkukan keta’atan serta mengganti kehidupan penuh kelalaian dan kesia-siannya. Mudah-mudahan Allah menghapuskan kesalahan yang telah berlalu dan memberikannya taufik pada sisa umurnya”[3].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah menyebutkan wasiat yang hampir sama,

Kewajiban Setelah Romadhon Berlalu 3

“Saudaraku, sesungguhnya Bulan Romadhon kepergiannya sudah dekat dan sangat cepat berlalu. Sesungguhnya dia adalah saksi bagi kalian (dalam kebaikan -pen) atau saksi atas kalian (dalam keburukan –pen) atas amal-amal yang telah kalian persembahkan, tinggalkan. Barangsiapa yang mempersembahkan kebaikan maka hendaklah dia memuji Allah untuk hal itu dan bergembiralah atas balasan kebaikan (kelak). Karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan. Sedangkan bagi siapa yang mempersembahkan amal keburukan apapun itu maka hendaklah dia bertaubat kepada Robbnya dengan taubat nashuha. Karena sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat orang yang bertaubat kepada Nya”[4].

Imam Bukhori Rohimahullah mencantumkan sebuah hadits dalam Kitab Adabul Mufrodnya,

ارْتَقَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم عَلَى الْمِنْبَرِ فَرَقَى دَرَجَةً ، فَقَالَ : آمِينَ ، ثم ارتقى درجة ، فقال : آمين ثُمَّ ارْتَقَى الثَّالِثَةَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، ثُمَّ اسْتَوَى فَجَلَسَ ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ : أَيْ نَبِيَّ اللهِ ، عَلاَمَ أَمَّنْتَ ؟ قَالَ : أَتَانِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ : رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ قُلْتُ : آمِينَ ، وَرَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، قَالَ : قُلْتُ آمِينَ ، وَرَغِمَ أَنْفُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قَالَ : قُلْتُ آمِينَ

“Suatu ketika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menaiki anak tangga mimbar kemudian berucap, “Amin”. Kemudian naik lagi lalu mengatakan, “Amin”. Kemudian naik ke anak tangga yang ketiga dan berucap “Amin”. Kemudian beliau duduk. Para shahabatpun bertanya, “Ada apa gerangan wahai Nabi Allah, engkau tadi berucap amin ?” Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tadi Jibril mendatangiku dan berdo’a, “Celakalah seorang lelaki yang dia mendapati kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya namun keberadaan mereka tidak dapat menjadi sebab yang memasukkannya ke surga”. Jibril mengatakan, “Ucapkan Amin”. Lalu aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) katakan, “Amin”. Kemudian dia juga berdo’a, Celakalah orang yang menjumpai Romadhon namun Romadhon tidak menjadi sebab dia diampuni”. Jibril mengatakan, “Ucapkan Amin. Lalu aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) katakan, “Amin”. Kemudian Jibril berdo’a, “Celakalah orang yang Engkau disebutkan di sisinya namun dia tidak bersholawat atasmu”. Jibril mengatakan, “Ucapkan Amin”. Lalu aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) katakan, “Amin”[5].

Pertanyaannya apakah saya, anda, engkau, kalian meragukan dikabulkannya do’a Jibril yang diaminkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ?

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Kewajiban Setelah Romadhon Berlalu 4

“Orang yang tercegah masuk surga adalah orang yang Allah cegah. Orang yang sengsara adalah orang yang Allah (jauhkan surga/ampunan) darinya. Wahai hamba Allah sesungguhnya ibadah merupakan kewajiban pada setiap waktu dan tidak ada batas akhirnya kecuali kematian”.

 

Kawan, ibadah bukanlah hanya, sekedar, diusahakan di Bulan Romadhon….

Mesjid bukanlah alun-alun yang hanya akan ramai pada momen tahunan….

Sholat Jama’ah bukanlah pameran yang diselanggaran setahun sekali……….

Sholat malam bukan hanya ada di Bulan Romadhon semata…………

Membaca Al Qur’an tidak terbatas hanya ketika Bulan Puasa……..

 

Jiwa, Ragukah anda dengan ucapan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ?!!

Bisakah anda pastikan ajal menjemput ketika anda sedang beribadah hanya di Bulan Romadhon ????!!!!

Apakah anda hanya beribadah ketika syaithon terbelenggu ??!!!

 

 

Sigambal, 3 Syawwal 1437 H / 7 Juli 2016 M.

menjelang tidur,

Aditya Budiman bin Usman

 

#edisilebarandirumahaja

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 433/VIII terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[2] Lihat Tafsir Juz ‘Amma hal. 254 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[3] Lihat Majalis Syahri Romadhn Al Mubarok hal. 219 terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh, KSA.

[4] Majalis Syahri Romadhon hal. 236-237 terbitan Mu’asasah Ibnu Utsaimin, Unaizah, KSA.

[5] HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 646. Al Albani Rohimahullah mengatakan, “Hasan Shohih”.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply