Ketika Ragu Tidur Membatalkan Wudhu

30 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Ragu Tidur Membatalkan Wudhu

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi Ajma’in. Amma ba’du,

Masalah ini merupakan masalah tersendiri di sebagian kalangan kaum muslimin, terutama ketika khutbah Jum’at[1]. Maka untuk itu kita kembalikan masalah ini kepada Ahlu Dzikir (Ulama).

Sebagaimana Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

 فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kalian kepada Ahlu Dzikr (‘Ulama yang teguh dalam ilmu[2]) jika kalian tidak mengetahuinya”. [ QS. An Nahl (16) : 43]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan,

إذَا شَكَّ الْمُتَوَضِّئُ : هَلْ نَوْمُهُ مِمَّا يَنْقُضُ أَوْ لَيْسَ مِمَّا يَنْقُضُ ؟ فَإِنَّهُ لَا يَحْكُمُ بِنَقْضِ الْوُضُوءِ ؛ لِأَنَّ الطَّهَارَةَ ثَابِتَةٌ بِيَقِينِ فَلَا تَزُولُ بِالشَّكِّ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

“Jika orang yang telah berwudhu tadi ragu apakah tidurnya telah membatalkan wudhunya ataukah belum ? Maka sesungguhnya (jika keadaannya demikian) tidaklah dihukumi telah batak wudhunya karena thoharohnya (dalam hal ini wudhunya) adalah sesuatu yang ditetapkan di atas keyakinan sehingga keragu-raguan tidaklah dapat menggugurkan/menghilangkan sesuatu yang yakin[3]. Allahu a’lam[4]”.

وَهَذَا وَاضِحٌ فِي أَنَّهُ اخْتَارَ عَدَمَ الْنَقْضِ لِلْوُضُوْءِ بِمُجَرَّدِ النَّوْمِ ذَاتِهِ, بَلْ لَمَّا كَانَ النَّوْمُ مُظِنَّةَ الْحَدَثِ المَوْجُوْبِ لِلْوُضُوْءِ, وَكَلَ ذَلِكَ إِلَى الْمُتَوَضِّىءِ بِحَسَبِ حَالَتِهِ فِيْ النَّوْمِ, وَمَا يَغْلُبُ عَلَى ظَنِّهِ

“Ini adalah sebuah hal yang jelas bahwa Ibnu Taimiyah memilih tidak batalnya wudhu sebab semata-mata tidur (secara dzatnya). Akan tetapi jika tidurnya kemungkinan besar/dzon adalah tidur yang dapat mengeluarkan hadats yang mewajibkan untuk wudhu, maka hal itu dikembalikan/disandarkan kembali kepada orang yang telah berwudhu tersebut bagaimana keadaannya saat tertidur tadi dan hal-hal yang menjadi sangkaan kuatnya”[5],

Demikian kutipan dari perkataan beliau Rohimahullah. Semoga bermanfaat.

(diterjemahkan dan diberi penambahan seperlunya dari Taisirul Fiqh al Jami’ al Ikhtiyarotul Fikri oleh Ibnu Taimiyah dengan tahqiq oleh Syaikh Ahmad Muwafi  hal. 147-148 terbitan Ibnu Al Jauzi Riyadh, KSA)

Aditya Budiman bin Usman

Sigambal, 09 Rajab 1433 H/ 30 Mei 2011 M



[1] Walaupun kita katakan tanpa ragu bahwa salah satu adab dalam pelaksanaan ibadah Jum’at adalah mendengarkan isi khutbah Jum’at yang disampaikan khatib.

[2] Lihat Tafsir Al Muyassar.

[3] Ini merupakan kaidah pokok dalam berbagai cabang ilmu terkhusus dalam permasalahan fiqhiyah.

[4] Lihat Majmu’ Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal. 230/XXI, terbitan Darul Wafa’.

[5] Lihat Taisirul Fiqh al Jami’ al Ikhtiyarotul Fikri oleh Ibnu Taimiyah dengan tahqiq oleh Syaikh Ahmad Muwafi  hal. 147-148 terbitan Ibnu Al Jauzi Riyadh, KSA.

Tulisan Terkait

Leave a Reply