Keberkahan Seseorang Yang Sebenarnya

4 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keberkahan Seseorang Yang Sebenarnya

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Anda, saya dan semua orang tentu ingin dirinya diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada setiap hal yang kita miliki. Bahkan kalau bisa meminta, tentu kita pun meminta keberkahan itu senantiasa ada dimanapun kita berada. Namun sayangnya tak jarang, kita pun bingung atau tidak dapat menjawab ketika ditanyakan, ‘Apa sih keberkahan itu ?’

Salah satu penjelasan tentang keberkahan yang menurut kami istimewa adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim Rohimahullah. Beliau menjelaskannya ketika menjelaskan keberkahan yang dimaksud dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada”.(QS. Maryam [19] : 31).

Ibnul Qoyyim Rohimahullah,

“Yaitu mengajarkan kebaikan, mengajak berdakwah kepada Allah, mengajak, untuk  menasihati orang untuk mengingat Allah, sangat bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan kepada-Nya. Inilah hakikat keberkahan seseorang yang sebenarnya. Siapapun yang kehilangan hal ini, berarti dia telah kehilangan keberkahan, kehilangan kesempatan untuk menggapai dan mengumpulkan keberkahan itu. Bahkan keberkahan dan kesempatan untuk menggapai dan mengumpulkannya pun telah hangus, pupus dan sirna. Sesungguhnya dia telah menyia-nyiakan waktunya (dengan mengikuti -pen) berbagai peristiwa yang tidak mendatangkan manfaat –pen) dan merusak hatinya dengan itu.

Padahal semua kerugian yang menghinggapi seorang hamba maka sebabnya adalah menyia-nyiakan waktu dan rusaknya hati. Kerusakan ini akan terpulang pada tersia-siakannya kesempatan untuk mendapat porsi keberkahan dari Allah dan mengurangi kedudukan dan derajatnya di sisi-Nya”[1].

Ibnul Qoyyim Rohimahullah menyebutkan bahwa keberkahan seseorang itu terpusar pada mengajarkan kebaikan, mengajak orang lain untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengingatnya dan menumpahkan kesungguhan untuk melaksanakan keta’atan.

Seorang muslim, disamping diperintahkan untuk mempelajari berbagai jalan keta’atan untuk melaksanakannya. Pun demikian juga diperintahkan untuk mempelajari berbagai jalan keburukan agar jangan sampai terjatuh padanya.

Oleh sebab itulah Ibnul Qoyyim pun menjelaskan bahwa 2 penyebab berkurang keberkahan bahkan lebih jauh lagi dapat menghilangkannya dari diri seseorang adalah menyia-nyiakan waktu yang dimiliki dan rusaknya hati.

“Oleh karena itulah sebagian salaf berwasiat, “Hindarilah, waspadalah berlama-lama dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu dan perkumpulan yang dapat merusak hati. Sebab manakala waktu telah disia-siakan dan hati telah rusak, maka sia-sialah seluruh urusannya. Dan dia termasuk dalam dalam orang-orang yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan.

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

 “Dan Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami. serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu sia-sia (melampai batas)”. (QS. Al Kahfi [18] : 28)[2].

Kesimpulan dari ucapan Ibnul Qoyyim Rohimahullah :

  1. Keberkahan hakiki seseorang itu terkait pada mengajarkan ilmu yang benar, mendakwahkannya agar manusia kembali mengingat Allah ‘Azza wa Jalla dan menunaikan keta’atan kepada-Nya.
  2. Faktor penting penentu apakah seseorang dapat meraih keberkahan atau tidak adalah kemampuannya memanfaatkan waktu (tidak menyia-nyiakannya) dan senantiasa menjaga hati dan tidak merusaknya.
  3. Tips jitu agar terjaga dari menyia-nyiakan waktu adalah menjauhi berkumpul dengan orang-orang yang lalai kepada Allah dan majelis dimana waktu anda akan terbuang sia-sia yang berujung pada rusaknya hati anda perlahan namun pasti.

Pekan Baru, setelah subuh dengan beragam masukan dan diskusi dengan Guru Kami, Ustadz Rahmat Ghufron Hafizhahullah

27 Robiul Akhir 1440 H, 4 Januari 2018 M

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat Risalah Ibni Al Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanih hal. 3 terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, KSA.

[2] Idem hal. 4

Tulisan Terkait

Leave a Reply