Kadar Gerakan Dalam Sholat

7 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kadar Gerakan Dalam Sholat

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Jangan bergerak-gerak dalam sholatmu, nanti sholatmu bisa batal ! Sehingga ketika ada shof yang kosongpun banyak dari kita yang tidak mau bergerak untuk mengisinya. Demikianlah fikih sebagian besar dari kita yang ditanamkan sejak kecil. Lantas bagaimana itu ? Benarkah setiap gerakan dapat membatalkan sholat ?

Maka mari simak penjelasan berikut.

Syaikh Prof. ‘Abdullah bin Muhammad Ath Thoyyar Rohimahullah mengatakan[1],

Kadar Gerakan Dalam Sholat 1

“Kadar (banyak –pen) Gerakan dalam Sholat (yang membatalkannya –pen)

Sebagian ulama berpendapat kadar gerakan (dalam sholat yang membatalkannya -pen) adalah dengan 3 gerakan[2]. Namun pendapat ini tidak tepat. Berdasarkan dalil shohih tentang gerakan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholatnya yang lebih dari 3 gerakan sebagaimana  telah disampaikan. Demikian juga tidak didapati adanya dalil shohih yang menunjukkan pembatasan jumlah gerakan. Oleh sebab itu maka ketentuannya dikembalikan pada ‘urf dan kebiasaan. Urf/kebiasaan adalah hal/batasan yang sesuai akal sehat, tabiat yang masih selamat mencocokinya dan menerimanya”.

Kadar Gerakan Dalam Sholat 2

“Penulis Al Inshof mengatakan, “Pendapat lain mengatakan bahwa kadar banyak gerakan (dalam sholat yang membatalkannya –pen) adalah jumlah yang apabila orang yang melihatnya mengatakan bahwa orang tersebut sedang tidak dalam keadaan sholat[3]. Inilah pendapat yang lebih dekat dengan timbangan yang benar“.

Sekian ucapan Syaikh.

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melakukan gerakan lebih dari 3 gerakan adalah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

كَانَ يُصَلِّى وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلمِ- فَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا وَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا

“Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah sholat sambil menggendong Umamah anaknya Zainab putri Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika dalam keadaan berdiri, beliau menggendongnya. Namun ketika beliau sujud maka beliau meletakkannya”[4].

dalil lainnya adalah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

جِئْتُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي الْبَيْتِ ، وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ ، فَمَشَى حَتَّى فَتَحَ لِي ، ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَانِهِ ، وَوَصَفَتِ الْبَابَ فِي الْقِبْلَةِ

“Aku (‘Aisyah) datang hendak menemui Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau sedang sholat di rumah dan pada saat itu pintu terkunci. Lantas beliau berjalan hingga membukakan pintu tersebut untukku. Kemudian beliau kembali lagi ke tempat (sholatnya untuk melanjutkannya -pen)”. ‘Aisyah mengambarkan bahwa letak pintunya di arah kiblat”[5].

Kesimpulannya :

Patokan gerakan di luar sholat yang membatalkan sholat adalah gerakan yang banyak. Tolak ukur banyaknya suatu gerakan adalah ‘urf/penilaian umum akal dan jiwa yang masih selamat. Allahu a’lam.

 

 

Setelah subuh, 22 Shofar 1437 H, 4 Desember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Sujud Sahwi fi Dhow’i As Sunnah Al Muthohharoh hal. 25-26 terbitan Madarul Wathon, Riyadh, KSA.

[2] Ini merupakan pendapat Ibnu ‘Aqil dalam Al Inshof hal. 98/II.

[3] Al Inshof oleh Al Mardawiy hal. 98/II.

[4] HR. Muslim no. 543.

[5] HR. Tirmidzi no. 601 dan dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply