Jumlah Rokaat Sholat Witir

9 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jumlah Rokaat Sholat Witir

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Bulan Romadhon merupakan bulan yang sangat dinanti-nanti kaum muslimin karena berlimpahnya pahala dan disyariatkannya berbagai amalan yang tidak ada di selain Bulan Romadhon. Diantaranya adalah disyariatkannya sholat malam berjama’ah di mesjid. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang mengerjakan Qiyam Romadhon (termasuk sholat malam di Bulan Romadhon -pen) atas dasar iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[1].

Diantara sholat malam di Bulan Romadhon yang disyari’atkan adalah sholat witir. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin (wafat tahun 1421 H) Rohimahullah mengatakan,

“Saudaraku, Allah Subhana wa Ta’ala telah mensyari’atkan bagi para hamba Nya berbagai ibadah dengan beragam jenisnya. Agar setiap mereka mengambil seluruh bagian darinya. Demikian juga agar mereka tidak malas melakukan suatu ibadah sehingga mereka pun meninggalkan amal (sama sekali) sehingga salah seorang dari mereka akan merugi dan gagal. Dia juga menetapkan diantara ibadah ada yang hukumnya wajib tidak boleh ada kekuarangan padanya. Dia juga menetapkan sebagian ibadah sebagai tambahan (nafilah) yang dengan melakukannya akan menambah dan menyempurnakan kedekatan seseorang kepada Allah ‘Azza wa Jalla[2].

Inilah salah satu hikmah adanya berbagai macam ibadah yang Allah Subhana wa Ta’ala syariatkan kepada para hamba Nya. Hikmah ini akan terasa pada diri anda ketika anda mulai ‘malas’ atau ‘bosan’ pada satu jenis ibadah nafilah yang rutin anda kerjakan. Misalnya anda sering membaca Al Qur’an sehari satu juz. Namun ketika iman anda turun, maka anda tidak boleh membiarkan diri anda larut dalam kemalasan dan berpindahlah kepada amalan nafilah yang lainnya semisal membaca hadits, tafsir atau bahkan buku sejarah para nabi dan para shahabat atau bahkan kisah para ulama mencari ilmu.

Kembali ke masalah sholat malam. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[3],

“Termasuk sholat malam adalah sholat witir. Minimalnya adalah 1 rokaat dan maksimalnya 11 roka’at. Maka seseorang boleh mengerjakannya 1 roka’at saja berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang suka melakukan witir 1 roka’at maka silakan dia kerjakan”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An Nasa’i[4].

“Dia boleh melaksanakan sholat witir 3 roka’at berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلاَثٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang suka melakukan witir 3 roka’at maka silakan dia kerjakan”[5]. Diriwayatkan oleh An Nasa’i dan Abu Dawud.

Jika dia suka melaksanakannya sekaligus dengan 1 salam maka hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thohawi[6] bahwasanya ‘Umar bin Al Khotthob Rodhiyallahu ‘anhu melaksanakan sholat witir dengan 3 roka’at dan tidak salam melainkan hanya pada roka’at terakhirnya. Namun jika dia suka sholat dahulu 2 roka’at kemudian sholat lagi untuk roka’at yang ke-3 maka hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dari ‘Abdullah bin ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa sesungguhnya beliau mengucapkan salam diantara roka’at ke-2 dan ke-3 pada sholat witirnya hingga beliau menuntaskan sebagian keperluannya”.

Seseorang boleh juga melaksanakannya dengan 5 roka’at sekaligus tanpa duduk tasyahud (awal) dan tidak salam melainkan pada roka’at terakhirnya (roka’at ke-5). Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang suka melakukan witir 5 roka’at maka silakan dia kerjakan”[7]. Diriwayatkan oleh An Nasa’i dan Abu Dawud.

Juga dari diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ فِى آخِرِهَا.

“Dahulu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam biasa sholat malam dengan 13 roka’at dan melaksanakan witirnya dengan 5 roka’at. Beliau tidak duduk (tasyahud –pen) sama sekali kecuali pada roka’at tekahirnya”[8].

Seseorang juga boleh melaksanakannya dengan tujuh roka’at dengan tata cara seperti 5 roka’at (tidak tasyahud dan salam melainkan pada roka’at terakhirnya). Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبْعٍ وَبِخَمْسٍ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِسَلَامٍ وَلَا بِكَلَامٍ

“Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan sholat witir dengan 7 dan 5 roka’at. Beliau tidak memisahnya diantaranya dengan salam atau pun ucapan”[9].

Seseorang juga boleh melakukannya dengan 9 roka’at sekaligus tanpa duduk tasyahud hingga roka’at ke-8 barulah membaca tasyahud dan berdo’a namun tidak mengucapkan salam. Kemudian berdiri lagi untuk sholat (roka’at ke-9) lalu membaca tasyahud dan berdo’a baru kemudian salam. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha tentang pelaksanakan witirnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Rodhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَقْعُدُ فِيهِنَّ إِلَّا عِنْدَ الثَّامِنَةِ فَيَحْمَدُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَذْكُرُهُ وَيَدْعُو ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسِعَةَ فَيَقْعُدُ يَحْمَدُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَذْكُرُهُ وَيَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا

“Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam biasa sholat (witir) 9 roka’at tanpa duduk (tasyahud) hingga pada roka’at ke-8 kemudian beliau memuji Allah ‘Azza wa Jalla, membaca dzikir (tasyahud –pen) kemudian berdo’a lalu beliau berdiri tegak lagi namun tidak salam. Lalu sholat (roka’at yang ke-9) kemudian duduk, memuji Allah ‘Azza wa Jalla , membaca dzikir (tasyahud –pen) kemudian berdo’a lalu mengucap salam yang dapat kami dengar”[10].

Penulis Shohih Fiqh Sunnah Hafizhahullah mengatakan,

“Witir dengan 7 atau 9 roka’at. Ini adalah perkara yang diperbolehkan dan disunnahkan jika seseorang ingin melaksanakan witir dengan jumlah roka’at demikian hendaklah dia tidak duduk tasyahud hingga pada 1 roka’at sebelum roka’at terakhir dan tidak salam. Kemudian dia berdiri untuk melaksanakan roka’at terakhir kemudian bertasyahud dan salam”[11].

Demikianlah variasi jumlah roka’at sholat witir Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Terakhir, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Melaksanakan sholat witir dengan jumlah roka’at 5, 7 atau 9 sekaligus seyogyanya dikerjakan jika anda sholat sendirian, di jama’ah mesjid yang memang memilih  untuk melakukan hal demikian. Adapun di mesjid-mesjid kaum muslimin pada umumnya maka yang lebih utama bagi imam adalah hendaklah dia melaksanakan salam pada setiap 2 Rokaat. Agar tidak menibulkan keraguan niat mereka dan hal tersebut juga lebih mudah bagi mereka”[12].

Ringkasnya sholat witir itu dapat dilaksanakan dalam berbagai jumlah roka’atnya. Namun perlu diperhatikan jika anda diminta menjadi imam di suatu mesjid yang tidak lazim dilaksanakan jumlah roka’at tertentu. Jika hendak menerapkan sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholat witir ini khususnya berkaitan dengan jumlah roka’at dan salam, maka sepantasnya diajarkan atau diinfokan dahulu kepada makmum. Allahu a’lam.

 

Sigambal, 14 Romadhon 1438 H / 9 Juni 2017 M.

Menjelang Tarawih,

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Bukhori no. 2009 dan Muslim no. 759.

[2] Lihat Majlis Syahri Romadhon hal. 27 terbitan Muasasah Syaikh Ibnu Utsaimin ‘Unaizah, KSA

[3] Idem hal. 28-30.

[4] HR. Abu Dawud no. 1422 dan an Nasa’i no. 1722.  Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dan Al Arnauth Rohimahumullah.

[5] Idem.

[6] Lihat Syarh Ma’ani Al Atsar hal. 127/I.

[7] HR. Abu Dawud no. 1422 dan an Nasa’i no. 1722.  Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dan Al Arnauth Rohimahumullah.

[8] HR. Bukhori no. 1140 dan Muslim no. 737.

[9] HR. Ahmad no. 26529 dan An Nasa’i no. 1714 serta Ibnu Majah no. 1192.  Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani Rohimahullah dalam shohih Ibnu Majah dan An Nasa’i.

[10] HR. Ahmad no. 25386, Ibnu Majah no. 1192. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dan Al Arnauth Rohimahumullah.

[11] Lihat Shohih Fiqh Sunnah hal. 389/I terbitan Maktabah Tauqifiyah Mesir.

[12] Lihat Majlis Syahri Romadhon hal. 31.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply