Istiqomahlah, Namun Jangan Pernah Berhenti Bersandar Kepada Allah

17 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Istiqomahlah, Namun Jangan Pernah Berhenti Bersandar Kepada Allah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Diantara kita ada yang mungkin sudah mampu istiqomah menjalankan banyak sekali perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian pula diantara kita ada yang sudah mampu menjaga diri dari godaan dunia selama bertahun-tahun lamanya. Diantara kita pula, ada banyak orang yang sudah mengenal manhaj salaf yang Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berada di atasanya kemudian diikuti para shahabatnya Rodhiyallahu ‘anhum. Demikian seterusnya, sehingga mungkin terbersit dalam hatinya rasa aman, ujub dan bangga pada dirinya sendiri karena telah mampu istiqomah. Lantas benarkah sikap demikian ?

Mari simak jawaban tersebut yang menjadi sebuah kaidah dalam meniti jalan keistiqomahan.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah menuturkan[1].

Istiqomahlah, Namun Jangan Pernah Berhenti Bersandar Kepada Allah 1

Seberapapun Usaha Seorang Hamba Untuk Istiqomah, Wajib Baginya Untuk Tidak Bersandar Kepada Amalnya (semata- pen)

Seorang hamba wajib untuk tidak bersandar/tawakkal kepada amalnya semata betapapun sholeh dan istiqomahnya dia. Janganlah dia tertipu dengan amalnya, karena banyaknya dzikir dan amal keta’atan lainnya.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan tentang hal ini,

“Yang dituntut dari seorang hamba dalam bab istiqomah adalah as saddad. Jika dia tidak mampu persis maka wajib baginya berusaha mendekatinya. Jika tidak demikian maka dia termasuk orang yang lalai dan menyia-nyiakan. Sebagaimana disebutkan dalam Shohih Bukhori dan Muslim melalui jalur periwayatan ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ. قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ

Berusahalah kalian untuk saddad (benar-benar istiqomah/lurus). Jika tidak mampu maka berusahalah mendekatinya dan berilah kabar gembira. Karena amal (semata -pen) tidak akan mampu memasukkan seseorang ke dalam surga”. Para shahabat bertanya, ‘Apakah engkau juga demikian wahai Rosulullah ?’ Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ya, aku juga demikian kecuali karena Allah melimpahkan rahmat Nya[2].

Hadits ini merangkum seluruh bagian agama/amal sholeh. Maka beliau memerintahkan untuk istiqomah yang maknanya adalah berusaha agar benar-benar lurus dan benar dalam niat, ucapan dan amal. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Tsauban Rodhiyallahu ‘anhu,

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ

“Istiqomahlah kalian namun kalian tidak akan benar-benar mampu menjaganya. Ketahuilah sebagus-bagus amalan kalian adalah sholat”[3].

Ibnul Qoyyim Rohimahullah melanjutkan,

Istiqomahlah, Namun Jangan Pernah Berhenti Bersandar Kepada Allah 2

“Bahwasanya mereka (termasuk kalian -pen) tidak akan sanggup benar-benar demikian (istiqomah –pen) maka hendaklah kalian berusaha pada level berikutnya yaitu mendekatinya yaitu berusaha istiqomah sesuai kemampuan. Seperti orang yang akan membidikkan panah menuju sasaran utama. Jika tidak benar-benar tepat mengenai sasaran utama maka berusaha mendekati sasaran tersebut. Bersamaan dengan ini beliau juga mengabarkan kepada mereka para shahabat bahwa istiqomah dan berusaha mendekatinya (semata) tidak akan mampu memamasukkan seseorang ke dalam surga pada hari qiyamat. Oleh karena itu janganlah seseorang merasa aman, ujub dengan amalnya, merasa sudah berhasil karena telah beramal. Bahkan hendaklah dia berkeyakinan bahwa sesungguhnya keberhasilannya adalah karena rahmat dari Allah, ampunan Nya dan keutamaan dari Nya[4].

 

*****

 

Kesimpulan

  1. Wajib bagi setiap kita untuk tidak bersandar pada amal kita, seberapa banyakpun amalan tersebut.
  2. Kita tidak akan mampu benar-benar istiqomah, namun berusahalah mendakitnya sekuat, semaksimal kemampuan kita.
  3. Keistiqomahan merupakan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang merupakan sebab masuk ke surga.

 

Allahu Ta’ala A’lam.

 

Sesampainya dari Kisaran, 5 Robi’ul Awwal 1437 H, 16 Desember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat ‘Asyaru Qowa’id fii Al Istiqomah hal. 28-29 terbitan Darul Fadhilah

[2] HR. Bukhori no. 6467, Muslim no. 2818.

[3] HR. Ahmad no. 22378, Sunan Ibnu Majah no. 277. Hadits ini dishohihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 412.

[4] Madarijus Salikin hal. 105/II.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply