Ibadah Yang Bercampur Riya’

10 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ibadah Yang Bercampur Riya’

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Judul di atas merupakan masalah terbesar seorang muslim. Bagaimana tidak, semangat untuk beribadah sudah ada, namun musuh yang nyata senantiasanya mengintai. Syaithon dan jiwa yang buruk senantiasa mendorong, mengajak agar ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak ikhlas hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itulah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam sangat mengkhawatirkan hal ini. Beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Rodhiyallahu ‘anhu,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنْ الْمَسِيحِ عِنْدِي قَالَ قُلْنَا بَلَى قَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يُرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah kalian aku beritahukan hal yang paling aku takutkan pada kalian dari pada cobaan Al Masih (Dajjal –pen) ?” Abu Sa’id Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, Kami (Para shababat –pen) menjawab, ‘Tentu Wahai Rosulullah’. Beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Syirik yang tersembunyi, (contohnya –pen) Ketika seorang laki-laki berdiri mengerjakan sholat kemudian ketika sholat dia memperbagus sholatnya karena ingin dilihat seseorang”[1].

Demikian mengkhawatirkannya hal ini. Lalu bagaimana kalau hal tersebut menimpa kita ? bagaimana status ibadah kita ? Mari simak penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah berikut dalam bentuk tanya jawab.

Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya[2],

Ibadah Yang Bercampur Riya’1

“Apa Hukumnya Status Hukumnya Sebuah Ibadah yang Tercampur dengan Riya’ ?”

 

Jawab :

Beliau Rohimahullah menjawab,

Ibadah Yang Bercampur Riya’2

“Hukum ibadah jika tercampur riya’. Ibadah yang tercampur dengan riya’ dapat terjadi dalam 3 bentuk.

Pertama, yang menjadi faktor pendorong (motivasi) ibadah sedari awalnya/dasar adalah karena ingin dilihat orang. Seperti orang yang mengerjakan sholat kepada Allah karena ingin dilihat orang lain agar orang memuji sholatnya. Maka hal ini membatalkan ibadah tersebut”.

Ibadah Yang Bercampur Riya’3

Kedua, ibadahnya tercampur dengan riya’ di tengah-tengah ibadah. Maksudnya faktor pendorong ibadahnya pada awalnya adalah ikhlas kepada Allah kemudian riya’ menghinggapinya di tengah-tengah ibadahnya. Ibadah yang demikian juga tidak terlepas dari dua keadaan :

Keadaan pertama, Ibadahnya merupakan ibadah yang tidak berkaitan antara ibadah yang terdahulu dan yang akhir. Maka ibadah yang pertama sah sedangkan yang terakhir (yang tercampur riya’ –pen) batal. Misalnya, seseorang yang memiliki 100 real. Dia berkeinginan bersedekah dengan uang tersebut. Kemudian diapun bersedekah dengannya 50 real ikhlas karena Allah. Kemudian riya’ menghinggapinya pada 50 real sisanya (artinya kemudian dia bersedekah dengan sisanya karena riya’ –pen). Maka sedekahnya yang pertama sah dan diterima. Sedangkan sedekah dengan sisa 50 real tidak sah karena tercampur antara riya’ dengan ikhlas”.

Ibadah Yang Bercampur Riya’4

Keadaan kedua, ibadahnya merupakan ibadah yang berkaitan antara awal dan akhirnya. Maka hal ini tidak terlepas dari dua perkara.

Perkara pertama, Dia melawan riya’ yang datang tersebut dan hatinya tidak tenang dengannya. Bahkan dia melawan dan membencinya. Maka hal ini tidak mempengaruhi ibadahnya sedikitpun (artinya ibadahnya sah –pen). Berdasarkan sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ اَللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا , مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ

“Sesungguhnya Allah memaafkan ummatku perkara yang masih berupa bisikan hati semata selama tidak dilakukan dan di ucapkan”[3].

Ibadah Yang Bercampur Riya’5

Perkara kedua, Dia tenang dengan riya’ ini dan tidak berusaha menangkalnya/melawannya. Ketika kondisinya demikian maka ibadahnya batal. Karena keadaan awal berkaitan dengan keadaan akhirnya. Misalnya seseorang awalnya sholat ikhlas karena Allah Ta’ala kemudian tercampur riya’ pada roka’at kedua, maka sholatnya batal karena roka’at pertama berkaitan dengan roka’at akhirnya”.

Ibadah Yang Bercampur Riya’6

Perkara ketiga, ibadah tersebut tercampuri riya’ setelah ibadahnya selesai. Maka hal ini tidak berpengaruh pada ibadah tersebut dan tidak membatalkannya. Karena ibadahnya telah selesai dan sah serta tidak dapat dirusak dengan hadirnya riya’ setelah ibadahnya selesai”.

Ibadah Yang Bercampur Riya’7

“Bukanlah termasuk riya’ seseorang senang karena orang lain mengetahui ibadahnya. Karena hal ini terjadi setelah ibadah selesai. Bukanlah termasuk riya’ seseorang yang senang karena melakukan keta’atan. Karena hal itu merupakan bukti/dalil adanya imannya. Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Barangsiapa yang senang dengan amalan kebaikannya dan merasa sedih dengan amalan keburukannya maka dia adalah seorang yang beriman”[4].

Bahkan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang rasa senang itu, beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam menjawab,

تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

“Hal itu merupakan kabar gembira seorang mukmin yang disegarakan”[5].

 

Mari jangan lalai untuk memuhasabah ibadah kita sendiri, jangan-jangan ibadah kita karena riya’ seluruhnya – Nas’alullah Salaamah –

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

Sigambal, Setelah Isya’ 14 Robi’uts Tsani 1436 H / 03 Pebruari 2015 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Ibnu Majah no. 4204, Ahmad no. 11270. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[2] Lihat Fataawaa Arkaanil Islaam oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 155-157 Terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[3] HR. Bukhori no. 5269, Muslim no. 127.

[4] HR. Tirmidzi no. 2195, hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[5] HR. Muslim no. 2034.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply