Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qodr

29 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qodr

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Telah berlalu penjelasan kapan Lailatul Qodr terjadi (klik di sini) dan (klik di sini). Sebagian dari kita mungkin ada yang berfikir, mengapa Allah ‘Azza wa Jalla dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merahasiakan kapan persis terjadinya. Maka pada edisi kali ini kita akan mencoba memaparkan diantara rahasia/hikmah dirasiakannya kapan persisnya Lailatul Qodr itu terjadi.

Sungguh hal ini telah dijawab melalui hadits-hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, diantaranya adalah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori Rohimahullah dalam kitab Shohihnya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامَتِ قَالَ

: خَرَجَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَالَ ( خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمَسُوْهَا فِيْ التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةِ )

Muhammad bin Al Mutsanna telah mengabarkan kepada kami, Kholid bin Al Harits telah mengabarkan kepada kami, Humaid telah mengabarkan kepada kami, Anas telah mengabarkan kepada kami dari ‘Ubadah bin Shoomit, dia mengatakan, ‘Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam keluar untuk memberitahukan kepada para sahabatnya tentang (kapan terjadinya) Lailatul Qodr. Lalu di tengah perjalanan ada dua orang si Fulan dan Fulan yang saling berdebat (sehingga) dilupakanlah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kapan terjadinya Lailatul Qodr itu.  Beliau berharap hal itu lebih baik bagi ummatnya. Maka carilah Lailatul Qodr itu di malam ke-29, 27 dan 25[1].

Al Imam Muslim mencantumkan dalam kitab Shohihnya,

حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى قَالاَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أَيْقَظَنِى بَعْضُ أَهْلِى فَنُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الْغَوَابِرِ ».

Abu Ath Thohir dan Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan, Ibnu Wahab telah mengabarkan kepada kami, Yunus telah mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihaab dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rohman dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Aku melihat dalam mimpiku kapan Lailatul Qodr itu lalu sebagian istriku membangunkanku dari mimpi itu sehingga aku lupa kapan Lailatul Qodr itu. Maka carilah di 10 malam terakhir[2].

Ibnu Hajar Al Asqolaniy Rohimahullah mengatakan,

قوله فعسى أن يكون خيرا فإن وجه الخيرية من جهة أن خفاءها يستدعى قيام كل الشهر أو العشر بخلاف ما لو بقيت معرفة تعيينها

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (وَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا). Sesungguhnya sisi baiknya (beliau dilupakan kapan persisnya malam Lailatul Qodr) adalah disembunyikannya hal ini dapat mendorong untuk menghidupkan malam di sepanjang 1 Bulan Romadhon atau minimal di 10 malam yang terakhir. Hal ini tidak akan terwujud jika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak dilupakan kapan persis terjadinya  malam Lailatul Qodr itu”[3].

Secara ringkas kita katakan, hikmah dirahasiakannya Lailatul Qodr menurut Ibnu Hajar Rohimahullah adalah agar mendorong kaum muslimin untuk menghidupkan malam-malam di Bulan Romadhon terutama di 10 malam terakhir.

Adapun sebab Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam lupa hal ini adalah :

  1. Adanya dua orang yang saling berdebat.
  2. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dibangunkan istrinya dari mimpi melihat kapan Lailatul Qodr.

Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa ketika beliau bermimpi tentang hal ini, beliau dibangunkan istrinya. Lalu beliau mendengar ada dua orang yang saling berdebat. Kemudian beliau datang untuk melerai keduanya sehingga beliau dilupakan karena disibukkan mendamaikan keduanya[4].

As Subkhi Al Kabir Rohimahullah berpendapat disunnahkan bagi orang yang melihat Lailatul Qodr untuk merahasiakannya[5]. Dalilnya adalah hadits ini.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Allah Subhana wa Ta’ala menyembunyikan ilmunya tentang kapan Lailatul Qodr kepada hambanya adalah sebuah rahmat bagi mereka, [1.] agar mereka memperbanyak amalan ketika berusaha mencari malam tersebut. Boleh jadi dengan sholat, dzikir atau do’a. Sehingga bertambahlah amalam yang mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga bertambah pulalah pahala mereka. [2.] hal ini juga sebagai ujian bagi mereka agar jelaslah hujjah dengan hal ini siapa yang benar-benar sungguh-sungguh mencarinya dan siapa yang bermalas-malasan menggapainya. Karena sesungguhnya barangsiapa yang sangat menginginkan sesuatu maka ia akan bersungguh-sungguh mencarinya dan ringanlah baginya rasa letih dalam perjalan mencarinya”[6].

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahulla mengatakan,

“Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qodr adalah agar para hamba berusaha sungguh-sungguh melakukan keta’atan di setiap malam dengan harapan malam tersebut adalah malam Lailatul Qodr”[7].

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mendapatkan Lailatul Qodr dan termasuk orang yang berusaha memperbanyak amal untuk menggapainya. Amin.

 

Malam 19 Romadhon 1434 H, 27 Juli 2013 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] HR. Bukhori no. 2023.

[2] HR. Muslim no. 2769 –Al Minhaj Dar Ma’rifah-.

[3] Lihat Fathul Barriy hal. 471/V terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh.

[4] Idem.

[5] Idem hal. 472/V.

[6] Lihat Majaalis Syarhi Romadhon hal. 112 terbitan Darul Aqidah, Mesir.

[7] Lihat Shohih Fiqh Sunnah hal. 148/II terbitan Maktabah At Taufiqiyah, Mesir.

 

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply