Hati Pemimpin Istiqomah

9 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hati Pemimpin Istiqomah

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Komando, arahan, bimbingan merupakan hal yang sangat dibutuhkan seseorang yang akan melalui sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Jika pemberi komando benar, maka perjalanan akan lebih mudah. Demikian juga jika pemberi komando adalah orang yang memiliki kekuasaan mengatur anggotanya maka perjalananpun kian mudah.

Begitu pulalah jalan keistiqomahan. Hati memiliki peran yang amat sentral dalam meniti jalan keistiqomahan. Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah menuturkan[1].

Pokok Istiqomah adalah Istiqomahnya Hati

Imam Ahmad Rohimahullah meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ

“Iman seorang hamba tidak akan lurus/istiqomah hingga hatinya lurus/isitiqomah”[2].

Hati Pemimpin Istiqomah 1

Maka pokok, dasar istiqomah adalah adalah istiqomahnya hati. Sehingga apabila hati telah baik dan istiqomah maka anggota badan lainnya akan mengikuti.

Al Hafidz Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan, “Pokok, dasar istiqomah adalah istiqomahnya hati di atas ketauhidan”.

Sebagaimana yang Abu Bakar Ash Shiddiq dan selainnya tafsirkan tentang firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Robb kami adalah Allah kemudian istiqomah di atasnya”. (QS. Fushshilat [41] : 30)

Bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak berpaling kepada selain Nya.

Hati Pemimpin Istiqomah 2

Sehingga ketika hati telah mampu istiqomah mengenal Allah, takut yang disetai ilmu kepada Nya, mengagungkan Nya, mencintai Nya, berharap kepada Nya, berdo’a/meminta kepada Nya, bertawakkal/bergantung kepada Nya dan berpaling dari selain Nya maka anggota badan lainnya pun akan mampu istiqomah di atas keta’atan kepada Nya. Karena hati adalah penguasa, rajanya anggota badan lain. Anggota badan adalah tentaranya hati. Apabila sang raja istiqomah maka bala tentara dan rakyatpun istiqomah”[3].

Dalam Shohihain disebutkan hadits dari An Nu’man bin Basyir Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Aku mendengar Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya ada segumpal daging pada jasad yang apabila dia baik maka baik pulalah seluruh jasad. Namun apabila dia rusak maka rusak pulalah seluruh anggota badan. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati/jantung”[4].

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan pada Muqoddimah kitabnya Ighotsatul Lahfan min Masho’id Asy Syaihton,

Hati Pemimpin Istiqomah 3

“Karena hati bagi segenap anggota tubuh laksana raja yang mengatur bala tentaranya. Semua perbuatan berasal darinya dan atas perintahnya. Dia bebas menggunakannya sesuai keinginannya sehingga semuanya berada di bawah kekuasaan dan perintahnya. Dialah yang menyebabkan keistiqomahan dan kesesatan. Kekuatan kayakinan dan kelemahan tekad akan mengikutinya.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguhnya ada segumpal daging pada jasad yang apabila dia baik maka baik pulalah seluruh jasad. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati/jantung”[5].

Hati Pemimpin Istiqomah 4

“Jadi hati adalah raja anggota badan. Perintahnyalah yang terlaksana, dialah penerima hidayah dan petunjuk. Maka sebuah amalan tidak akan lurus dan benar sedikitpun hingga (lurus) maksud dan niatnya hati. Sehingga hatilah yang bertanggung jawab atas semua anggota badan”[6].

Oleh sebab itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Hari dimana tidak lagi bermanfaat harta dan anak keturuan. Melainkan orang yang datang membawa kepada Allah dengan membawa hati yang selamat/bersih”.

(QS. Asyu’aro [26] : 88-89)

Diantara do’a yang biasa diucapkan Nabi kita Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu hati yang selamat/bersih”[7].

*****

 

Kesimpulan

  1. Hati adalah raja seluruh anggota badan. Apabila hati memerintahkan kepada kebaikan maka anggota badanpun akan mengikuti perintah sang raja.
  2. Amalan anggota badan merupakan gambaran apa yang ada di hati. Sehingga apabila amal anggota badan telah mampu istiqomah di atas keta’atan maka Insya Allah hati pun demikian. Karena anggota badan laksana rakyat yang merupakan cerminan sang raja.
  3. Ketika amal anggota badan buruk, maka tidak dapat dikatakan yang penting hatinya bersih. Ini adalah pemahaman terbalik. Yang benar, ketika amalan anggota badan buruk, besar kemungkinan hati lebih buruk lagi.
  4. Hendaklah kita bersemangat memperbaiki, menata kembali hati kita. Karena orang yang paling baik hatinya pun senantiasa meminta agar diberikan hati yang bersih dan selamat.

Allahu Ta’ala a’lam.

 

Setelah subuh, 23 Muharrom 1437 H, 5 Nopember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat ‘Asyaru Qowa’id fii Al Istiqomah hal. 15-17 terbitan Darul Fadhilah

[2] HR. Ahmad no. 13048, hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah dalam Ash Shohihah no. 2841.

[3] Jami’ Al Uluum wal Hikaam hal. 386.

[4] HR. Bukhori no. 52, Muslim no. 1599.

[5] Idem.

[6] Lihat Ighotsatul Lahfan min Mashoyidisy Syaithon hal. 35/I terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh. (pen)

[7] HR. Ahmad no. 17114, An Nasa’i no. 1304 lihat Ash Shohihah no. 2328.

Tulisan Terkait

Leave a Reply