Hal Yang Lebih Baik Daripada Pembantu Rumah Tangga

18 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hal Yang Lebih Baik Daripada Pembantu Rumah Tangga

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

PRT, Asisten Rumah Rangga, Pembokat, Pembantu; kata-kata ini merupakan sebuah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tak jarang seorang istri mengeluhkan kepada suaminya tentang betapa peluh, penat dan capek mengurus rumah tangga. Sehingga ia meminta kepada suaminya agar dicarikan pembantu yang dapat membantunya menyelesaikan tugasnya sehari-hari.

Kami ingatkan bahwa artikel ini bukan sama sekali ingin mengkerdilkan profesi di atas, bukan pula ingin memandangnya sebelah mata apalagi ingin merendahkannya bahkan menganggapnya hina. Bukan wahai saudaraku, bahkan pekerjaan di atas jauh lebih mulia dari pada pekerjaan yang dianggap mulia namun sebenarnya tidak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Semisal pekerjaan bermuamalah ribawi, kemusyrikan atau mengambil hak rakyat tanpa haq.

Namun yang kami maksudkan di sini adalah bagaimana salah satu solusi nabawi ketika seorang istri meminta kepada suaminya agar dicarikan pembantu yang dapat membantunya mengerjakan rutinitas sehari-harinya di rumah tangga.

Ibnu Layla telah meriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Tholib Rodhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام شَكَتْ مَا تَلْقَى فِيْ يَدِهَا مِن الرَّحَى فَأتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا فَلَمْ تَجِدْهُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ. فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ, قَالَ فَجَاءَناَ وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا فَذَهَبْتُ أَقُوْمُ فَقَالَ ( مَكَانِكَ ) . فَجَلَسَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرَدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِيْ, فَقَالَ ( أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ ؟ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشَكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ وَسَبَّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ ).

“Sesungguhnya Fathimah ‘Alaihissalaam pernah mengeluhkan adanya rasa letih, ‘kapalan’ di tangannya karena menggiling gandum. Kemudian dia mendatangi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam untuk bertanya apakah ia boleh meminta diberikan pembantu[1]. Namun dia tidak mendapati Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu dia mengatakan maksud kedatangannya kepada ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha. Maka ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam datang ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha pun mengabarkan hal tersebut kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”. Ali Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kemudian Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mendatangi kami berdua dan kami pada saat itu telah berada di tempat tidur kami lalu aku berdiri untuk menyambut beliau kemudian beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Tetaplah berada di tempat kalian[2]”. Lalu beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam duduk bersama kami berdua, sampai-sampai aku merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Kemudian Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Maukah kalian aku tunjukkan hal yang lebih baik bagi kalian berdua daripada apa yang kalian tanyakan/pinta[3] (yaitu adanya seorang pembantu) ? Jika kalian berdua hendak menuju tempat tidur kalian atau kalian telah berada di tempat tidur kalian maka bertakbirlah (ucapan Allahu akbar) 34 kali, bertashbihlah (Ucapan Subhanallah) 33 kali dan bertahmidlah (Ucapan Alhamdulillah) 33 kali. Maka hal itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu”[4].

Dalam redaksi Musnad Imam Ahmad Rohimahullah disebutkan,

سَبَّحْتُمَا اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدْتُمَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرْتُمَاهُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ

“Maka bertashbihlah kalian berdua (Ucapan Subhanallah) 33 kali, bertahmidlah kalian berdua (Ucapan Alhamdulillah) 33 kali, dan bertakbirlah kalian berdua (ucapan Allahu akbar) 34 kali”.

Dalam riwayat lain juga disebutkan,

يَحْمَدُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ

“Bertahmidlah (Ucapan Alhamdulillah) 34 kali”[5].

Imam Bukhori Rohimahullah juga membawakan riwayat dari Ibnu Sirin Rohimahullah setelah meriwayatkan hadits di atas,

وَعَنْ شُعْبَةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ سِيْرِيْنَ قَالَ : التَّسْبِيْحُ أَرْبَعَ وَثَلَاثُوْنَ

Dari Syu’bah, dari Kholid dari Ibnu Sirin. Dia berkata, “Tashbih (Ucapan Subhanallah) 33 kali”[6].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

وَاتَّفَاقَ الرُوَاةُ عَلَى أَنَّ الأَرْبَعَ لِلتَّكْبِيْرِ أَرْجَحُ

“Para perowi sepakat bahwasanya yang dibaca 4 adalah untuk takbir (ucapan Allahu Akbar) inilah yang lebih kuat”[7].

Dari keterangan Ibnu Hajar Rohimahullah di atas dan dari riwayat-riwayat lain yang sangat banyak maka jelaslah bagi kita yang dibaca 34 kali adalah takbir yaitu ucapan Allahu Akbar.

Kemudian bagaimanakan susunan membaca dzikir di atas dengan tepat ? bagaimana urutannya ?

Maka jika menilik riwayat yang dibawakan oleh Al Bukhori Rohimahullah maka urutannya adalah Takbir 34 kali, kemudian Tashbih 33 kali dan Tahmid 33 kali. Namun dalam riwayat yang dibawakan Imam Ahmad Rohimahullah maka urutannya adalah Tasbih 33 kali kemudian Tahmid 33 kali dan Takbir 34 kali. Inilah yang dibawakan penulis Hisnul Muslim. Namun Allahu a’lam berdasarkan kaidah ushul fiqh huruf waw tidak menunjukkan urutan[8].

Kemudian Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan[9],

وقد اختلف في معنى الخيرية في الخبر فقال عياض ظاهره انه أراد ان يعلمهما ان عمل الآخرة أفضل من أمور الدنيا على كل حال وانما اقتصر على ذلك لما لم يمكنه إعطاء الخادم ثم علمهما إذ فإنهما ما طلباه ذكرا يحصل لهما اجرا أفضل مما سألاه وقال القرطبي انما احالهما على الذكر ليكون عوضا عن الدعاء عند الحاجة أو لكونه احب لابنته ما احب لنفسه من إيثار الفقر وتحمل شدته بالصبر عليه تعظيما لاجرها وقال المهلب علم صلى الله عليه و سلم ابنته من الذكر ما هو أكثر نفعا لها في الآخرة

“Para ulama berselisih paham tentang makna yang dimaksud dengan kebaikan dalam hadits ini. ‘Iyaadh Rohimahullah mengatakan, ‘Zhohirnya sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ingin mengajarkan kepada mereka berdua (‘Ali dan Fathimah) bahwa amal akhirat lebih utama dari perkara dunia pada semua keadaan. Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mencukupkan hal itu dikarenakan beliau tidak mampu memberikan pembantu kemudian beliau mengajarkan dzikir tersebut kepada mereka berdua. Karena sesungguhnya keduanya tidaklah yang mereka berdua cari lebih baik dari dzikir yang dapat memberikan mereka pahala lebih baik dari apa yang mereka pinta (pembantu)’. Qurthubi Rohimahullah mengatakan, ‘Sesungguhnya beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan bagi mereka berdua dengan mengajarkan dzikir agar keduanya senantiasa berdo’a ketika adanya hajat/kebutuhan atau karena beliau lebih ingin bagi anaknya apa yang beliau inginkan bagi dirinya sendiri berupa mengutamakan kefakiran sehingga melahirkan kesusahan yang membawa kepada kesabaran di atasnya dengan harapan mendapatkan pahala darinya’. Al Muhlab Rohimahullah mengatakan, ‘Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan putrinya dzikir yang lebih bermanfaat baginya di akhirat’.

Penulis Syarh Hisnul Muslim hafidzahullah mengatakan, ‘Makna (خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ) adalah sesungguhnya keduanya akan menjadi kuat dengan dzikir dan keduanya tidak akan membutuhkan lagi pembantu’[10].

Dengan demikian apabila seseorang mengamalkan dzikir ini sebelum tidur maka dia akan mendapatkan dua keutamaan yaitu keutamaan dunia berupa tercukupkannya dari kebutuhan pembantu yang membantunya dan keutamaan akhirat berupa mendapatkan pahala ibadah dzikir.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

Sigambal, setelah subuh.

16 Syawwal 1435 H / 12 Agustus 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Yaitu pembantu perempuan. Lihat Fathul Baari hal. 315/XIV terbitan Dar Thoyyibah, KSA. Namun Syaikh Majdi bin Abdul Wahaab Ahmad hafidzahullah mengatakan, ‘Kata Pembantu mencakup mutlak baik laki-laki atau perempuan’. Lihat Syarh Hisnul Muslim hal. 191, terbitan Mu’asasah al Juraisyi, KSA.

[2]Lihat Fathul Baari hal. 317/XIV.

[3]Idem hal. 318/XIV.

[4]HR. Bukhori no. 3705, Muslim no. 2727, Ahmad no. 740.

[5] HR. Thobroni no. 3451.

[6]Lihat Shohih Bukhori Bab At Takbir wa At Tasbih ‘inda Al Manaam.

[7]Lihat Fathul Baari hal. 321/XIV.

[8] Lihat Al Ushul min ‘Ilmi Al Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 17 terbitan Darul Aqidah Mesir.

[9]Idem hal. 322/XIV.

[10]Lihat Syarh Hisnul Muslim hal. 192.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply