Dzikir Dengan Penuh Keyakinan Bukan Hanya Sekedar Gerakan Lisan

5 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dzikir Dengan Penuh Keyakinan Bukan Hanya Sekedar Gerakan Lisan

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kita sering membaca hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang dalam redaksi disebutkan, ‘Barangsiapa yang membaca …….. maka dia akan ………….’. Contoh nyatanya adalah hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dalam tulisan kami sebelumnya, yang diriwayatkan dari Shahabat sekaligus salah satu Khulafaur Rosyiduun Utsman bin ‘Affaan Rodhiyallahu ‘anhu,

مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ يُضُرَّهُ شَيْءٌ.

“Barangsiapa yang mengucapkan “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’a ismihi syai’un fiil ardhi wa laa fiis samaa’i wa huwas saamii’ul ‘aaliim” (Dengan Nama Allah tidak ada yang mampu membahayakan sesuatu di bumi dan langit. Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui) tiga kali maka tidak akan ada yang mampu membahayakannya”[1].

Pertanyaannya, apakah ketika kita telah mengucapkan dzikir yang demikian akan mendapatkan faidah yang dijanjikan ??

Maka terdapat dalam riwayat lain tentang dzikir lain disebutkan bahwa,

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِالنِّعْمَةِ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ مَنْ قَالَهَا بَعْدَمَا يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهَا ثُمَّ مَاتَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَ مَنْ قَالَهَا بَعْدَمَا يُمْسِي مُوقِنًا بِهَا ثُمَّ مَاتَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Yaa Allah, engkau adalah Robbku, tidak adalah sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau, Engkaulah yang mencipatkanku, aku adalah hamba Mu, Aku akan setia dengan perjanjianku dengan Mu semampuku. Aku mengakui nikmat yang Engkau berikan padaku, Aku mengakui dosaku kepada Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau”. “Jika seseorang mengucapkannya setelah subuh dengan penuh keyakinan dengannya kemudian dia mati maka dia termasuk penghuni surga. Jika dia mengucapkannya ketika petang dengan penuh keyakinan dengannya kemudian dia mati maka dia termasuk penghuni surga”[2].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

Dzikir Dengan Penuh Keyakinan Bukan Hanya Sekedar Gerakan Lisan 1a

‘Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (مَنْ قَالَهَا مُوقِنًا) “Jika seseorang mengucapkannya dengan penuh keyakinan dengannya” yaitu barangsiapa yang mengucapkannya dengan penuh keikhlasan dari hati dan penuh keyakinan atas ganjarannya’[3].

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafidzahullah mengatakan,

Dzikir Dengan Penuh Keyakinan Bukan Hanya Sekedar Gerakan Lisan 1

“Sesungguhnya Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam menutup do’a tersebut di atas dengan menjelaskan ganjaran yang besar dan pahala yang luar biasa bagi orang yang senantiasa mengamalkannya pada setiap subuh dan petang. Beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan,

(مَنْ قَالَهَا مُوقِنًا) “Jika seseorang mengucapkannya yaitu seluruh kalimat yang terdapat dalam do’a tersebut dengan penuh keyakinan dengannya ketika subuh” yaitu dengan penuh keyakinan dan membenarkannya bahwa do’a tersebut berasal dari ucapan orang yang ma’sum dan tidaklah dia berucap dari hawa nafsunya bahkan ucapannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian dia meninggal di hari itu sebelum waktu petang tiba maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya dengan penuh keyakinan ketika petang lalu dia meninggal sebelum waktu subuh tiba maka dia termasuk penghuni surga[4].

Demikian juga ketika seseorang mengucapkan Kalimat Tauhid, maka kalimat ini akan berpengaruh apabila orang yang mengucapkannya yakin. Keterangan ini sebagaimana sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ لَقِيتُ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّة

“Barangsiapa yang bertemu Aku (Allah) dan ia besyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan penuh keyakinan dalam hatinya, maka aku kabarkan padanya kabar gembira berupa surga”[5].

Demikianlah, ketika kita mengucapkan dzikir ataupun do’a maka jangan sampai hati kita lalai dari apa yang kita ucapkan. Hati kita harus benar-benar yakin bahwa do’a dan dzikir tersebut memang berasal dari Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dan tulus serta ikhlas dari hati ketika terucapkan dengan lisan kita. Allahu Ta’ala ‘Alaa wa A’lam. Mudah-mudahan bermanfaat

 

 

 

11 Jumadits Tsaniy 1436 H / 1 April 2015 H

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Abu Dawud no. 5088, Tirmidzi no. 3388, Beliau Rohimahullah mengatakan, ‘Hadits ini hasan shohih ghorib’. Syaikh Al Albani Rohimahullah menilai hadits ini shohih.

[2][2] HR. Bukhori no. 6306.

[3] Lihat Fathul Baari oleh Ibnu Hajar Rohimahullah hal. 284/XIV terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[4] Lihat Fiqh Al Ad’iiyah wal Adzkaar oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr Hafidzahullah hal. 19-20/III terbitan Kunuuz Isybilyaa, Riyadh, KSA

[5] HR. Muslim no. 52

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply