Do’a Berbuka Puasa

25 Jul

Share

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Do’a Berbuka Puasa

Alhamdulillah kita telah memasuki R0madhon, bulan yang penuh dengan berkah. Bulan dimana Allah Subhana wa Ta’ala membuka pintu pahala bagi hamba-hambanya yang selebar-lebarnya. Bulan dimana ditawarkan sedemikian mudah untuk beramal dan keutamaan lainnya yang tidak kita temukan di bulan lainnya.

Salah satu keutamaan puasa adalah pada saat berbukanya, yaitu dimana seorang muslim merasakan kebahagian yang luar biasa sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Ada dua kebahagiaan orang yang berpuasa yang mereka berbahagia pada saat keduanmya, (pertama) ketika berbuka maka ia berbahagia karenanya dan (kedua) ia berbahagia ketika bertemu Allah, ia berbahagia karena puasanya”[1].

Maka disaat berbuka merupakan saat yang sangat penting bagi seorang muslim yang berpuasa. Oleh karena itu maka sudah selayaknya dan seharusnya kita mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seputar adab dalam masalah ini. Salah satu adab yang dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika berbuka adalah berdo’a.

Ada sebuah do’a yang masyhur di tengah-tengah kita ketika berbuka,

اللَّهُمَّ لَك صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah aku berpuasa hanya untuk Mu dan dengan rizki dari Mu lah aku berbuka”[2].

Do’a yang telah masyhur di tengah-tengah kita ini merupakan sebuah do’a yang dicantumkan Abu Dawud dalam kitab Sunnannya sebagaimana di catatan kaki dan dalam kitab Al Marosilnya no. 91. Dari keterangan ini saja dapat kita ketahui bahwa Abu Dawud menilai hadits ini adalah hadits yang mursal[3]. Demikian juga perkataan para imam hadits tentang hadits ini diantaranya,

Abu Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Al Asqolani (Ibnu Hajar Al Asqolani) Rohimahullah mengatakan,

وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ فِيهِ دَاوُد بْنُ الزِّبْرِقَانِ وَهُوَ مَتْرُوكٌ

“Sanadnya lemah/dhoif karena di dalamnya ada yang bernama Dawud bin Al Zibriqon dan dia adalah perowo yang makruk (riwayatnya ditinggalkan)”[4].

Demikian juga Ibnu Mulaqqin Rohimahullah mengatakan,

وَهَذَا إِسْنَاد حسن لكنه مُرْسل ؛ معَاذ بن زهرَة لم يدْرك النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Sanad hadits ini (sebagaimana sanadnya Abu Dawud) hasan akan tetapi mursal karena Mu’adz bin Zuhroh tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam”[5].

Hal senada dengan apa yang dikatakan Ibnu Hajar juga disampaikan oleh Abu Bakr Al Haitsami Rohimahumallah[6]. Hadits di atas juga dinilai dhoif/lemah oleh Al Albani Rohimahullah.

Lalu adakah do’a yang kita baca ketika berbuka ?

Maka jawabannya adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari jalur Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma adalah merupakan kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika berbuka puasa mengucapkan do’a,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan pahala Insya Allah”[7].

Abu Bakr Al Haitsami mengatakan,

قَالَ الدَّارَقُطْنِيّ : إِسْنَاده حسن . وَقَالَ الْحَاكِم : صَحِيح عَلَى شَرط الشَّيْخَيْنِ .

“Ad Daruquthni mengatakan, “Sanadnya hasan”. Al Hakim mengatakan, “Shohih sesuai syarat Bukhori Muslim”[8].

Demikian juga dikatakan Ibnu Hajar Rohimahullah[9]. Hadits ini juga dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

Kesimpulannya hadits di atas adalah hadits hasan yang dapat kita jadikan landasan amal. Sehingga marilah kita hafalkan dan kita baca serta kita gantikan do’a yang lemah yang sudah bertahun-tahun kita gunakan dengan hadits di atas. Mudah-mudahan bermanfaat.

Sigambal Ba’da Subuh, 05 Romadhon 1433 H/25 Juli 2012 M [Aditya Budiman bin Usman]



[1] HR. Bukhori no. 1904 dan Muslim no. 1151

[2] HR. Abu Dawud no. 2358 dan lain-lain.

[3] Mursal : riwayat hadits yang terputus pada bagian awal sanadnya yakni tabi’in. Dan hadits mursal ini adalah salah satu hadits dhoif/lemah.

[4] Lihat At Talkhis Al Al Habir oleh Ibnu Hajar hal. 445/II terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut.

[5] Lihat Al Badrul Munir oleh Ibnu Mulaqqin hal. 710/V terbitan Darul Hijroh Riyadh.

[6] Lihat Majma’ Az Zawaid oleh Abu Bakr Al Haitsami hal. 371/III terbitan Darul Fikr Beirut.

[7] HR. Abu Dawud 2357 dll.

[8] Lihat Majma’ Az Zawaid hal. 711/V.

[9] Lihat At Talkhis Al Al Habir oleh Ibnu Hajar hal. 445/II.

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. agung purwanto
    Jun 29, 2014 @ 13:01:00

    Ada yg bertanya kok makannya nga disebut

    Reply

Leave a Reply