Bolehkah Membayarkan Zakat Fithri/Fitrah Kepada Ayah Yang Fakir ?

24 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bolehkah Membayarkan Zakat Fithri/Fitrah Kepada Ayah Yang Fakir ?

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Salah satu permasalahan yang sering ditanyakan di penghujung Bulan Romadhon adalah seputar bolehkah membayarkan zakat fithri (atau bahasa yang populer di tempat kita dengan zakat fitrah) kepada kerabat.

Maka sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Allah Subhana wa Ta’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada para ‘ulama jikalau kalian tidak mengetahui”. (QS. An Nahl [16] : 43 dan Al Anbiya’ [21] : 7).

Pertanyaan :

Fadhilatu Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya,

مسألة: إذا كان الأب فقيراً، وعند الابن زكاة وهو عاجز عن نفقة أبيه، فهل يجوز أن يصرفها لأبيه؟

zakat 1

“Jika seorang ayah faqir, sedangkan pada diri seorang anak dari ayah tersebut ada kewajiban zakat dan sang anak tidak mampu menafkahi ayahnya. Maka apakah diperbolehkan bagi seorang anak tersebut memberikan zakatnya kepada ayahnya ?

Jawab :

الجواب: يجوز أن يعطيها لوالده؛ لأنه لا تلزمه نفقته؛ لأن الابن لا يملك شيئاً، وهو هنا لا يسقط واجباً، والزكاة إما ستذهب إلى الوالد أو إلى غيره، فهل من الأولى عقلاً فضلاً عن الشرع، أن أعطي غريباً يتمتع بزكاتي ويدفع حاجته وأبي يتضور من الجوع؟

zakat 2zakat 3

“Anak tersebut boleh memberikan/menyerahkan zakatnya kepada ayahnya. Karena dia (anak) tidak wajib baginya memberikan nafkah kepada ayahnya. Karena sang anak tidak punya harta untuk menafkahi ayahnya tersebut, sehingga tidak jatuh padanya kewajiban. Zakat boleh jadi diberikan kepada ayah atau selainnya. Maka apakah lebih utama secara akal terlebih lagi secara syar’i memberikan zakat kepada kepada orang yang jauh yang dengannya orang tersebut bisa menikmatinya dan memenuhi kebutuhannya sedangkan ayahnya terancam kelaparan ?

الجواب: لا؛ لأنني لا أستطيع أن أنفق على والدي ففي هذه الحال تجزئ الزكاة للوالد، وربما يؤخذ من قول المؤلف: «الذين لا تلزمه مؤونتهم» ؛ لأن من شرط وجوب النفقة حتى عند المؤلف ومن قال بقوله من الأصحاب غنى المنفق، وهنا المنفق غير غني؛ لأنه لا يجد ما ينفق على هؤلاء، والقاعدة (أنه لا يجوز إسقاط الواجب بالزكاة)، وهذه القاعدة نافعة، فطبقها على الأخ والعم، إذا وجبت نفقتهما لا تعطيهما من الزكاة.

zakat 4

Tentu jawabannya tidak, karena pada saat ini sang anak tidak mampu memberikan nafkah kepada ayahnya. Maka pada keadaan ini sah/boleh baginya memberikan zakatnya kepada ayahnya. Faidah ini bisa diambil dari perkataan penulis (Zaadul Mustaqnii’) [الذين لا تلزمه مؤونتهم] ‘orang-orang yang tidak wajib baginya nafkah mereka’. Karena syarat wajib memberikan nafkah bahkan menurut penulis dan ulama yang sependapat dengannya adalah adanya kecukupan/kelapangan harta orang yang memberikan nafkah. Sedangkan dalam kasus ini orang yang akan memberikan nafkah (sang anak) tidak memiliki kecukupan/kelapangan harta sehingga dia tidak memiliki sesuatu untuk menafkahi orang lain. Kaidahnya ‘Tidaklah boleh menggugur kewajiban dengan zakat’. Kaidah ini merupakan kaidah yang bagus. Hal ini juga semisal dengan saudara kandung dan paman. Jika anda telah wajib memberikan nafkah kepada mereka maka tidak boleh memberikan mereka zakat”.

أما إذا أعطى من تجب عليه نفقتهم لغير النفقة، ولكن لكونهم غزاة أو غارمين أو من العاملين عليها فيجوز.

zakat 5

“Adapun jika anda memberikan selain nafkah kepada orang-orang yang wajib bagi anda memberikan mereka nafkah, namun karena sesuatu hal semisal dalam keadaan peperangan, orang-orang yang sedang pailit/bangkrut jatuh miskin atau ‘amil yang memang ditugasi untuk memungut zakat[1] maka hal tersebut diperbolehkan”. [Diterjemahkan secara bebas dari Syahrul Mumthi’ ‘alaa Zaadil Mustaqnii’ karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin hal. 250-251/IV terbitan Dar Ibnul Jauzi, Riyadh, KSA]

 Intinya :

Jika memang sang anak tidak mampu memberikan nafkah kepada orang tuanya sedangkan orang tuanya dalam keadaan faqir. Maka boleh memberikan zakatnya kepada sang orang tua.

Namun jika sang anak mampu maka tentu tidak layak melakukan hal yang demikian, karena dia dalam keadaan mampu sedangkan dia membiarkan orang tuanya dalam keadaan faqir. Cukuplah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

“Cukuplah dianggap seseorang berdosa jikalau dia menahan nafkah dari orang-orang yang dia wajib beri makanan”[2].

Dan juga sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah dianggap seseorang berdosa jikalau dia menelantarkan nafkah dari orang-orang yang dia wajib beri makanan”[3].

 

 

 

Mudah-mudahan dapat mencerahkan.

Sigambal,ketika Syuruuq.

25 Romadhon 1435 H / 23 Juli 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Yang dimaksudkan amil disini adalah amil yang benar-benar amil yaitu amil yang memang resmi dibebankan tugas oleh pemerintah untuk itu dan mempunyai kemampuan memaksa orang yang telah wajib zakat baginya untuk mengeluarkan/mengambil zakat darinya. Dan khusus untuk zakat fithri/fitrah maka pendapat yang lebih kuat bahwa penerima zakat ini hanyalah faqir miskin. Allahu a’lam. -Ed.

[2]HR. Muslim no. 2359.

[3]HR. Ahmad no. 6495. Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah mengatakan, ‘Hadits shohih lighoirih dan sanad (redaksi ini) hasan’.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply