Berwudhu Dengan Air Yang Sudah Tersimpan Lama

18 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berwudhu Dengan Air Yang Sudah Tersimpan Lama

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ketika anda melakukan safar dalam waktu yang relatif lama. Setibanya di rumah anda baru dapat mengerjakan sholat jama’ karena mendapatkan udzur safar. Namun waktu sholat ketika itu hendak habis sedangkan air yang ada adalah air yang berada di bak mandi sebelum anda safar. Bolehkah anda menggunakan air yang sudah lama ditinggal di bak mandi tersebut untuk wudhu ?

Simak tanya jawab berikut, mudah-mudahan dapat mendekatkan pada kondisi di atas.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah mengatakan[1],

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin – semoga Allah meninggikan derajat dan kedudukan anda –  pernah ditanya tentang hukum air yang telah berubah disebabkan lamanya ditinggal ?

Beliau Rohimahullah menjawab, “Air tersebut suci walaupun telah berubah. Karena air tersebut tidak berubah karena tercampur dengan sesuatu yang berasal dari luar. Namun yang menyebabkannya berubah hanyalah karena terlalu lama ditinggalkan di wadah tersebut (tidak digunakan/ diganti -pen). Hal ini tidaklah mengapa dan boleh digunakan untuk berwudhu serta wudhu dengannya sah”.

Beliau juga pernah ditanya dengan pertanyaan semisal.

“Beliau pernah ditanya tentang hukum berwudhu dengan air kolam yang airnya menetap di situ dalam waktu yang lama sehingga berubah warna dan rasanya ?”

Beliau Rohimahullah menjawab, “Tidak mengapa (boleh) berwudhu dengan air kolam tersebut selama orang yang berwudhu berwudhu di luar kolam tersebut (tidak di dalam –pen) dan tidak mandi di dalamnya. Sebab perubahan karena ditinggal lama tidaklah merusak (kesucian air tersebut -pen). Namun yang berpengaruh hanyalah jika air tersebut berubah disebabkan adanya najis. Demikian pula kalau ada orang yang mandi janabah di dalamnya sebab Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang mandi (janabah -pen) di dalam air yang tergenang tidak mengalir. Adapun jika ada orang yang berwudhu dan mandi namun dari luar maka tidak mengapa dan air tersebut tetap suci serta berwudhu dengannya sah”.

 

Selesai diterjemahkan setelah Subuh,

19 Jumadil Akhiroh 1438 H |  18 Maret 2017 M | Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 88-89/XI terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

Tulisan Terkait

Leave a Reply