Berusaha Merealisasikan Tanda Diterimanya Romadhon

22 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berusaha Merealisasikan Tanda Diterimanya Romadhon

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Kita sudah memasuki Bulan Syawal. Itu artinya Bulan Romadhon telah meniggalkan kita. Namun sebagai seorang muslim tentu kita sangat berharap agar ibadah kita pada saat Romadhon diterima Allah Subhana wa Ta’ala.

Beberapa waktu yang lalu telah kita ketengahkan artikel tentang tanda Puasa Romadhon kita diterima. Silakan bagi pembaca sekalian untuk merujuknya di sini. Pada kesempatan kali ini kita akan mengetengahkan usaha kita agar tanda tersebut ada pada kita.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al Ankabut [29] : 69)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Berusaha Merealisasikan Tanda Diterimanya Romadhon 1

“Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا) ‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami’ yaitu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, para shahabatnya rodhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari qiyamat.

Fiman Allah Ta’ala (لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا) ‘Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami’. Yaitu akan kami tolong mereka menuju jalan Kami baik ketika di dunia dan di akhirat.

Ibnu Abu Hatim Rohimahullah mengatakan, ‘Ahmad bin Abu Al Hawariy Rohimahullah telah menceritakan kepada kami, Abu Ahmad ‘Abbas Al Hamdaniy –dari kalangan ahlu ‘Akaa- telah menceritakan kepada kami tentang firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al Ankabut [29] : 69)

Dia mengatakan, ‘Yaitu orang-orang yang mengamalkan hal yang mereka telah memiliki ilmunya’.

Ahmad bin Abu Al Hawariy Rohimahullah mengatakan, ‘Maka akupun menceritakan hal itu kepada Sulaiman Al Daraniy kemudian beliau takjub. Kemudian dia berkata, ‘Seseorang yang telah mendapatkan ilham untuk mengamalkan suatu kebaikan tidak boleh langsung mengerjakannya hingga dia pernah mendengar hadits tentang hal tersebut. Jika dia pernah mendengarnya maka dia boleh mengerjakan amal kebaikan tersebut. Kemudian dia memuji Allah atas apa yang Allah anungrahkan padanya berupa ilham dan amal’[1].

Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy Rohimahullah mengatakan,

Berusaha Merealisasikan Tanda Diterimanya Romadhon 2

“Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا) ‘Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami’. Yaitu mereka orang-orang berhijrah menuju jalan Allah, berperang melawan musuh-musuh mereka (dari kalangan musuh Allah –pen) dan bersungguh-sungguh mencurahkan kemampuan dan kesungguhan mereka untuk menggapai ridho Nya.

Firman Allah Ta’ala (لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا) ‘Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami’. Yaitu jalan yang mengantarkan menuju Kami. Itu disebabkan karena mereka termasuk orang-orang yang muhsin. Allah Subhana wa Ta’ala beserta orang-orang yan muhsin yaitu bantuan, pertolongan dan hidayah”[2].

Berusaha Merealisasikan Tanda Diterimanya Romadhon 3

“Ayat ini menunjukkan bahwasanya orang yang berusaha mencari kebenaran mereka adalah ahlu jihad. Sesungguhnya orang yang berusaha memperbaiki perkara yang dia diperintahkan melakukannya (ibadah –pen) maka Allah akan membantu dan mempermudah sebab-sebab hidayah. Sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu syar’i maka Allah akan memberikan bantuan dan hidayah dalam menuntut ilmu melebihi usaha yang sudah dilakukannya serta dimudahkan mendapatkannya. Karena menuntut ilmu agama merupakan bagian dari jihad di jalan Allah bahkan merupakan bagian dari jihad yang tidak dijalani kecuali orang-orang pilihan. Menuntut ilmu merupakan jihad dengan ucapan lisan kepada orang-orang kafir dan kalangan munafik. Demikian juga menuntut ilmu juga merupakan jihad untuk mempelajari perkara agama untuk membantah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran walaupun dari kalangan muslim”[3].

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Berusaha Merealisasikan Tanda Diterimanya Romadhon 4

“Firman Allah Ta’ala Ta’ala (وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ) ‘Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik’. Ibnu Abu Hatim Rohimahullah mengatakan,

‘Ayahku menceritakan padaku, Isa bin Ja’far telah menceritakan kepada kami, Abu Ja’far Ar Rooziy telah menceritakan kepada kami dari Al Mughiroh dari As Sa’biy, Dia mengatakan Isa bin Maryam ‘Alaishissalam Sesungguhnya Ihsan adalah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk padamu. Ihsan bukanlah engkau berbuat baik pada orang yang sudah berbuat baik kepadamu.

Di dalam hadits ketika Jibril bertanya kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tentang ihsan. Jibril mengatakan, ‘Kabarkan kepadaku tentang ihsan ?’ Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Nya. Jika engkau tidak dapat melakukannya maka sesungguhnya Allah melihatmu”[4].

Ayat ini memang berbicara tentang keutamaan berjihad dalam konteks berperang di jalan Allah Ta’ala dan hijroh. Namun sebagaimana dijelaskan Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy Rohimahullah jihad dalam ayat ini mencakup perang, hijroh dan kesungguhan yang dilakukan seseorang dalam rangka menggapai ridho Allah. Bentuknya dapat berupa menuntut ilmu syar’i dan lain-lain yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan.

Kaitannya dengan tanda amalan di Bulan Romadhon kita diterima adalah ketika kita bersungguh-sungguh melanjutkan ibadah yang kita kerjakan ketika bulan Romadhon, misalnya Puasa, Qiyamul Lail, membaca Al Quran, memberi makan orang lain dan lain-lain. Kemudian di bulan setelah Romadhon kita tetap berusaha sekadar kemampuan kita untuk melanjutkan dan membiasakannya maka hal tersebut merupakan salah satu tanda adanya harapan ibadah kita diterima Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini sebagaimana dikatakan Ibnu Rojab Rohimahullah,

فَإِنَّ اللهَ إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عْبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَل صَالِحٍ بَعْدَهُ, كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ : ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا, فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اتَّبَعَ بِحَسَنَةٍ بَعْدَهَا كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُوْلِ الحَسَنَةِ الْأُوْلَى. كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اْتَّبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ الحَسَنَةِ وَ عَدَمِ قَبُوْلِهَا.

“Karena sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala jika menerima amalan seorang hamba maka Allah Tabaroka wa Ta’ala akan memberikan hidayah untuk beramal sholeh setelahnya. Sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama : Ganjaran sebuah amal kebaikan adalah amal kebaikan setelahnya. Maka barangsiapa yang beramal dengan sebuah amal kebaikan kemudian mengiringinya dengan amal kebaikan setelahnya merupakan tanda diterimanya amal kebaikan sebelumnya. Demikian juga barangsiapa yang beramal kebaikan kemudian mengiringinya dengan amal keburukan setelahnya maka hal itu merupakan tanda ditolaknya dan tidak diterimanya amal kabaikan sebelumnya[5].

Terakhir, tulisan ini bukan untuk menilai orang lain namun mari lihat keadaan diri kita masing-masing. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla berkenan menerima amal ibadah kita.

 

#edisirenunganjiwa

 

Rantauprapat, 6 Syawwal 1436 H / 22 Juli 2015 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim oleh Ibnu Katsir Rohimahullah hal. 296/V terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[2] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’diy Rohimahullah hal. 1325/VI terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[3] Idem.

[4] Lihat Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim oleh Ibnu Katsir Rohimahullah hal. 296/V.

[5] Lihat Lathooif Al Ma’arif oleh Ibnu Rojab Rohimahullah dengan Tahqiq Syaikh Thoriq ‘Awadallah hal. 388 terbitan Makatab Islamiy, Beirut.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply