Berimam dengan Orang yang Masbuq

28 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berimam dengan Orang yang Masbuq

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ketika anda di mesjid, anda mendapati sholat berjama’ah telah selesai dilaksanakan. Namun ada orang yang masbuq sedang menyempurnakan roka’atnya. Bolehkah anda menjadikannya sebagai imam anda ?

Temukan jawabannya dalam soal jawab berikut[1].

 

Pertanyaan

Berimam dengan Orang yang Masbuq 1

“Seseorng memasuki mesjid setelah imam dan para makmum salam. Namun dia mendapati ada orang yang masbuq sedang menyempurnakan roka’atnya yang tertinggal. Lantas orang ini berdiri di sebelah orang yang masbuq tersebut agar menjadikannya sebagai imam dalam rangka mendapatkan keutamaan berjama’ah. Maka apakah menjadikan orang yang masbuq tersebut sebagai imam diperbolehkan atau tidak ? Apakah sholat lelaki ini bersama orang yang masbuq tersebut sah ?”

 

Jawaban :

Berimam dengan Orang yang Masbuq 2

“Jika seseorang yang memasuki masjid dan mendapati ada orang yang masbuq, disyari’atkan baginya untuk sholat bersama orang yang masbuq tersebut. Hendaklah dia berdiri di sebelah kananya dalam rangka mengharap keutamaan berjama’ah. Orang yang masbuq tersebut berniat sebagai imam dan hal tersebut diperbolehkan berdasarkan pendapat yang paling tepat[2]. Demikianlah, seandainya seseorang mendapati orang yang sedang sholat maka hendaklah dia sholat di sebelah kanannya karena mengharapkan keutamaan berjama’ah. Jika orang yang masbuq tersebut telah salam maka hendaklah orang yang menjadikan masbuq ini sebagai imamnya menyempurnakan (kekurangan roka’atnya -pen). Hal ini berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan keutaamaan sholat berjama’ah dan hadits shohih dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang mengisahkan ketika beliau melihat seseorang yang masuk mesjid setelah sholat berjama’ah selesai dilaksanakan. Kemudian beliau bersabda, “Adakah seseorang diantara kalian yang ingin bersedekah (berbaik hati -pen) kepada orang ini dengan sholat berjama’ah bersamanya”.

* * *

Syaikh Ibnu Baaz.

15 Jumadil Akhir 1437 H, 24 Maret 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Fatawa Islamiyah hal. 266/I Terbitan Darul Wathon, Riyadh, KSA.

[2] Isyarat adanya khilaf. (pen.)

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply