Bangun Waktu Subuh Dalam Kedaan Junub, Sahkah Puasa ?

1 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bangun Waktu Subuh Dalam Kedaan Junub, Sahkah Puasa

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ketika Bulan Sya’ban banyak sekali shahabat dan karib kerabat kita yang melaksanakan akad nikah. Konsekwensinya adalah pasangan suami istri ini akan melewati Bulan Romadhon sebagai suami istri yang masih baru. Nah, sering mungkin menjadi pertanyaan bagaimana jika mendapati waktu sahur tinggal sedikit sedangkan keduanya belum sempat mandi junub ? Bolehkah sahur dalam keadaan demikian ? Lantas sahkah puasan keduanya ?

Mari simak tanya jawab ringkas berikut.

Pertanyaan

Bangun Waktu Subuh Dalam Kedaan Junub, Sahkah Puasa 1

“Jika seseorang mendapati waktu subuh dalam keadaan junub dan dia berniat untuk puasa. Dalam keadaan yang demikian apakah puasanya sah?

 

Jawaban :

Bangun Waktu Subuh Dalam Kedaan Junub, Sahkah Puasa 2

“Jika seseorang mendapati waktu subuh dalam keadaan janabah dan dia berniat puasa maka hal tersebut tidak mengapa dan puasanya sah. Karena sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mendapati waktu subuh dalam keadaan junub karena berhubungan dengan istri beliau. Kemudian beliau berpuasa[1]. Sungguh telah terdapat uswatun hasanah (contoh teladan yang baik) pada diri Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Namun orang tersebut wajib mandi junub karena harus melaksanakan sholat subuh. Sebab tidak boleh mengakhirkan, mengulur pelaksanaan sholat subuh dari waktu yang telah ditentukan syari’at”.

 

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

* * *

[Lihat Majmu Fatawa hal. 181-182/XIX Terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.]

Adapun hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berikut petikan nashnya,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ (غَيْرِ حُلُمٍ) فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

“Dahulu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendapati waktu subuh pada Bulan Romadhon sedangkan beliau dalam keadaan junub disebabkan berhubungan dengan istrinya (dalam riwayat lain bukan karena mimpi). Kemudian beliau mandi dan berpuasa”[2].

 

Diterjemahkan oleh Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] HR. Bukhori no. 1925, 1926 dan Muslim no. 1109.

[2] Idem.

Tulisan Terkait

Leave a Reply