Bagaimana Kematian Dapat Membuat Sholat Jadi Khusyu’

2 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bagaimana Kematian Dapat Membuat Sholat Jadi Khusyu’

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kita semua tentu ingin sholat kita menjadi sholat yang khusyu’. Hal pertama yang harus kita ketahui adalah apa itu khusyu’ ?

 

Syaikh DR. Muhammad bin Luthfi Ash Shobbagh Rohimahullah mengatakan[1],

“Pengertian Khusyu’

Diantara beragam pengertian khusyu’ yang dicantumkan Ibnul Qoyyim Rohimahullah dalam kitab Madarijus Salikin :

Khusyu’ adalah tegak/ lurusnya hati antara dirinya dan Robbnya dengan penuh ketundukan dan merendahkan diri.

Khusyuk adalah tunduk pada kebenaran. Diantara tandanya adalah jika dirinya diselisihi dan dibantah dengan kebenaran maka dia akan segera menerima kebenaran itu dengan penuh penerimaan dan ketundukan”.

“Al Junaid mengatakan bahwa khusyu’ adalah merendahkan/ menghinakan hati kepada Dzat Yang Maha Mengetahui Perkara Yang Ghaib. Namun tafsiran Ibnu Rojab Rohimahullah untuk makna khusyu’ ini lebih bagus. Ibnu Rojab mengatakan, “Pokok khusyu’ adalah lunaknya hati, hati yang mudah merasa, hati yang tenang, hati yang tunduk, patah hati (dari selain Nya -pen) dan luruhnya hati. Jika hati khusyu’ maka seluruh anggota tubuh pun akan mengikutinya karena anggota tubuh merupakan pengikut bagi hati”.

Banyak para ulama mengatakan bahwa salah satu cara agar seseorang mendapatkan sholat yang khusyu’ adalah dengan banyak mengingat kematian.

Syaikh Husain Al ‘Uwaisyah Hafizhahullah mencantumkan hadits dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu terkait hal ini.

اذْكُرِ المَوْتَ فِى صَلَاتِكَ فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ المَوْتَ فِىْ صَلَاتِهِ فَحَرِىٌّ أَنْ يَحْسُنَ صَلَاتَهُ وَصَلِّ صَلَاةَ رَجُلٍ لَا يَظُنُّ أَنَّهُ يُصَلِّى صَلَاةً غَيْرَهَا وَإِيَّاكَ وَكَلَّ أَمْرٍ يَعْتَذِرُ مِنْهُ

 “Ingatlah kematian dalam sholatmu. Karena sesungguhnya seorang laki-laki jika dia mengingat kematian pada sholatnya maka dia akan sangat layak baginya untuk memperbagus sholatnya. Dia akan sholat seperti sholatnya seorang laki-laki yang tidak akan dapat sholat selain sholat tersebut (di waktu yang akan datang –pen). Berhati-hatilah engkau dari menjadi wakil dari sebuah perkara yang kelak engkau akan dimintai pertanggung jawabanya darinya”[2].

Syaikh Husain Al ‘Uwaisyah Hafizhahullah mengatakan[3],

“Sungguh Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah memerintahkan seorang muslim untuk mengingat kematian dalam sholatnya. Hal tersebut merupakan sebab seorang muslim akan memperbagus sholatnya. Karena kematian merupakan sebuah hal yang ditakuti oleh jiwa, itulah penutup ama-amal seseorang. Adapun kehidupan setelah itu maka itu adalah hidup yang lebih menakutkan. Mau kemana seseorang lari dari ngerinya alam qubur/ barzakh ? Apa yang akan menjadi jawaban kita ketika ditanyai di alam qubur ? Kita pun tidak tahu dimana tempat kembali kita, apakah surga yang lebarnya selebar langit dan bumi ataukah neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan ? Gambaran-gambaran inilah yang terpikirkan seseorang memikirkan kematian dan kehidupan setelahnya. Sehingga dia akan sholat layaknya sholat seorang laki-laki yang sholat dengan sholat terakhirnya. Maka dia akan membagus sholatnya, jujur dalam taubatnya, mempersiapkan jiwanya untuk kematian, mempersiapkan kafannya, menulis wasiat, mengembalikan hak kepada pemiliknya, jika dia mendapati waktu subuh maka dia tidak menunggu hingga sore tiba dan jika dia pada waktu sore maka dia pun tidak akan menunggu hingga waktu subuh”.

“Demikianlah yang hendaknya dilaksanakan agar mendapatkan sholat yang khusyu’ dan penuh tangisan, hatinya diantara perasaan takut dan harap dalam menuju kehidupan akhirat dan akan berpisah dengan kehidupan dunia. Maka sholatnya layaknya sholat perpisahan dan perpisahannya (dengan dunia adalah -pen) dengan sholat. Dan dia dengan hal itu akan berpisah dengan istri dan anak-anaknya, kedua orang tuanya, saudara, orang-orang yang dicintainya, karib kerabatnya bahkan seluruh dunia”.

Lihatlah apa yang diceritakan oleh ‘Abdullah bin Asy Syikhir Rodhiyallahu ‘anhu tentang sholatnya Rosululllah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ صلى الله عليه وسلم

“Aku melihat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sedang sholat, pada dadanya terdengar suara air yang mendidih karena menangis”[4].

Lihat pula bagaimana sholatnya Abu Bakr Rodhiyallahu ‘anhu. ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha menceritakan ketika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sedang sakit menjelang wafatnya. Beliau menyuruh Abu Bakr agar menjadi imam sholat para shahabat.

‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha menceritakan ketika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sedang sakit (menjelang wafatnya) beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata,

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

“Perintahkan Abu Bakr untuk sholat mengimami manusia (para shahabat)”.

Lalu ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Abu Bakr, jika dia menggantikan dirimu mengimami orang sholat maka orang-orang tidak akan mendengar bacaannya kecuali dia menangis. Maka perintahkan sajalah ‘Umar untuk sholat bersama mereka. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kembali mengatakan,

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

“Perintahkan Abu Bakr untuk sholat mengimami manusia (para shahabat)”.

Lalu ‘Aisyah mengatakan kepada Hafshoh, “Katakanlah kepadanya, “Sesungguhnya Abu Bakr, jika dia menggantikan dirimu mengimami orang sholat maka orang-orang tidak akan mendengar bacaannya kecuali dia menangis maka perintahkan sajalah ‘Umar untuk sholat mengimami manusia”. Lalu Hafshoh pun melakukannya. Lalu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata,

مَهْ إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوْسُفَ مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ

 “Celakalah kalian, sesungguhnya kalian ini seperti wanitanya Yusuf… Perintahkan Abu Bakr untuk sholat mengimami manusia”[5].

 

 

Mari kita praktekkan.

 

 

Setelah ‘Isya 10 Robi’ul Awwal 1439 H |  28 Nopember 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Al Khusyu’ fi Ash Sholah hal. 15-16 terbitan Darus Salam, Riyadh, KSA.

[2] HR. Dailami dalam Musnad Al Firdaus. Al Albani Rohimahullah menghasankannya sebagaimana dalam Ash Shohihah no. 1321.

[3]  Lihat Ash Sholah wa Atsaruha fi Ziyadati Al Iman wa Tahdzibi An Nafsi hal. 11, terbitan Maktabah Islamiyah, Kairo.

[4] HR. Abu Dawud no. 904 dan Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyah no. 322. Syaikh Al Albani Rohimahullah menyakan hadits ini shohih.

[5] HR. Bukhori no. 716 dan Muslim no. 318.

Tulisan Terkait

Leave a Reply