Apa Kata Mereka Tentang Sholat Jama’ah?

7 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apa Kata Mereka Tentang Sholat Jama’ah ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sholat jama’ah merupakan salah satu syari’at yang amat agung. Al Imam Bukhori Rohimahullah telah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad emas yaitu, Al Imam Malik telah mengabarkan kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Sholat berjama’ah lebih utama daripada sholat sendirian 27 derajat”[1].

Demikian juga sholat berjama’ah tetap Allah Tabaroka wa Ta’ala ketika dalam keadaan takut dan perang,

فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ

“Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri mengerjakan sholat bersamamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang sholat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu roka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum sholat, lalu sholatlah mereka denganmu”. (QS. An Nisaa’ [4] : 102)

Dalam sebuah kitab fiqih Mazhab Syafi’i yang masyhur di negara kita disebutkan,

فَصْلٌ وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَعَلَى الْمَأْمُوْمِ أَنْ يَنْوِيَ الْجَمَاعَةَ دُوْنَ الْإِمَامِ

“Fashl, Sholat Berjama’ah (Hukumnya) Sunnah Mu’akkadah (Sangat Dianjurkan) dan Wajib Bagi Imam Berniat Untuk Berjama’ah Selain Imam”[2].

Kemudian di dalam kitab tersebut juga disebutkan diantara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah Subhana wa Ta’ala dalam surat An Nisaa’ di atas.

فَلْتَقُمْ

“Maka hendaklah…….”. (QS. An Nisaa’ [4] : 102)

Penulis Rohimahullah kemudian mengatakan,

أمر بالجماعة في قوله فلتقم فعند الأمن أولى وهي فرض عين في الجمعة وأما في غيرها ففيه خلاف الصحيح عند الرافعي أنها سنة وقيل فرض كفاية وصححه النووي وقيل فرض عين وصححه ابن المنذر وابن خزيمة

“Perintah untuk sholat berjam’ah dalam firman Allah (فَلْتَقُمْ) maka hendaklah…. ketika dalam keadaan aman (tidak perang dan takut) lebih utama (untuk dilaksanakan). Sholat Jama’ah hukumnya wajib personal (fardhu ‘ain) ketika hari Jum’at (sholat Jum’at). Adapun pada selainnya maka terdapat perselisihan diantara para ulama. Pendapat yang benar menurut Ar Rofi’i hukumnya Sunnah, pendapat lain mengatakan hukumnya fardhu kifayah, pendapat ini dibenarkan oleh An Nawawi. Pendapat lain mengatakan hukumnya fadhu ‘ain, pendapat ini dibenarkan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah Rohimahumullah[3].

Kemudian beliau membawakan masing-masing dalil para ulama di atas[4].

Berdasarkan keterangan di atas dapat kita ketahui bahwa para ulama mazhab Syafi’iyah pun berbeda pendapat dalam masalah ini. Bahkan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’iyah tentang hukum sholat berjama’ah adalah fardhu ‘ain. Namun yang populer di negara kita adalah pendapat yang mengatakan hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnah yang dikuatkan) sebagaimana yang dipilih oleh Imam Nawawi Rohimahullah. Sehingga sikap sebagian dari kita kurang proporsional ketika ada seseorang yang mengambil pendapat sholat jama’ah fardhu ‘ain lantas dicap bukan orang yang bermazhab syafi’iyah lalu seolah-olah ingin memecah belah jama’ah umat Islam.

Nah, jika demikian apakah kita boleh menyepelekan sholat berjama’ah dengan alasan hukumnya kan sunnah mu’akkadah tidak sampai wajib dengan mengutamakan hal-hal yang urgensinya jauh di bawah itu ??!!

Maka ada suatu pembahasan yang menarik disampaikan oleh Al Imam An Nawawi Rohimahullah ketika mengomentari hadits jika makanan telah siap santap namun iqomah telah dikumandangkan,

قوله صلى الله عليه و سلم ولا يعجلن حتى يفرغ منه دليل على أنه يأكل حاجته من الأكل بكماله وهذا هو الصواب وأما ما تأوله بعض أصحابنا على إنه يأكل لقما يكسر بها شدة الجوع فليس بصحيح

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, (ولا يعجلن حتى يفرغ منه) dan janganlah ia terburu-buru hingga dia menyelesaikan hajatnya untuk makan” menunjukkan sesungguhnya bahwasanya dia menyelesaikan hajatnya untuk makan secara sempurna, inilah pendapat yang benar. Adapun tafsir sebagian ulama mazhab kami bahwa hendaklah ia makan satu suap saja sekadar menghilangkan rasa laparnya yang sangat, bukanlah sebuah pendapat yang benar”[5].

Kutipan ini memberikan faidah kepada kita sesuai tema tulisan kita diantaranya adalah :

[1]. Para ulama Mazhab Syafi’iyah tidak menganjurkan kita untuk taqlid buta terhadap pendapat pendapat mazhab. Namun yang dijadikan pegangan oleh para ulama dalam mengambil sikap dan pendapat yang benar adalah dalil bukan semata-mata perkataan imam/ulama mazhab. Sehingga ada sebagaian orang yang bersikap kurang proporsional dengan mengatakan, ‘Kalau mau beragama harus memilih salah satu mazhab dan tidak boleh mencampur-campurkan pendapat mazhab lain’. Maka lihatlah apa yang dilakukan Imam Nawawi di sini.

[2]. Renungan bagi sebagian saudara kita yang cenderung enggan datang ke mesjid untuk sholat berjama’ah padahal tidak ada aktifitas lain yang urgen. Bahkan hanya sekedar duduk-duduk di rumah atau sekedar melihat berita di televisi namun enggan ke mesjid sholat berjama’ah. Maka lihatlah pendapat sebagian ulama bermazhab Syafi’iyah, ‘bolehnya mendahulukan makan ketika iqomah sudah dikumandangkan hanya untuk sekedar menghilangkan rasa lapar yang sangat yaitu dengan makan satu suap saja’.

 

Maka mari kita renungkan kembali sikap kita ketika mendengar seruan adzan dan iqomah untuk sholat berjama’ah di mesjid.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

Terinspirasi dari rekaman kajian Kitabul Adab Guru Kami Ustadz Aris Munandar hafidzahullah.

7 Jumaadil Akhiroh 1435 H/ 7 April 2014 M

Aditya Budiman bin Usman.



[1] HR. Bukhori no. 646.

[2] Kifayatul Ahyar oleh Al Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al Husaini Al Hishniy Asy Syafi’i Rohimahullah hal. 190 terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.

[3] Idem.

[4] Kita cukupkan kutipan dari beliau dan tidak membahas dalilnya satu per satu. Karena maksud tulisan ini bukanlah untuk menguatkan salah satu pendapat namun lebih kepada renungan untuk kita yang memilih hukumnya sunnah mu’akkadah.

[5] Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi hal. 48-49/III terbitan Darul Ma’rifah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply