Ada Apa dibalik Kesabaran dan Ilmu

17 Sep

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir jaman Muhammad  Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sabar merupakan suatu kata yang amat sering kita dengar dan merupakan suatu sikap dan ahlak yang mulia, baik itu secara adat kebiasaan manusia demikian juga jika ditinjau dari ajaran agama yang mulia ini yakni Islam. Namun apakah kita telah tahu apakah sabar itu? Bagaimana cara agar bisa mencapai sabar? Maka mudah-mudahan melalui tulisan singkat ini bisa menjadi pijakan kita untuk dapat mencapai kesabaran yang selanjutnya dapat meningkatkan kesabaran.

Sabar secara bahasa berarti menahan. Sedangkan pegertian sabar secara istilah dalam syar’iat adalah menahan jiwa dari tiga perkara yaitu,

Pertama, dalam keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena ta’at merupakan perkara yang berat bagi jiwa dan merupakan perkara yang sulit bagi manusia. Demikian juga ta’at merupakan suatu yang terasa berat bagi badan sehingga terkadang badan terasa lemah dan lemas untuk melaksanakan keta’atan kepada Allah. Demikian juga hati terkadang terasa berat untuk mengeluarkan harta dalam rangka keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semisal untuk zakat. Ringkasnya bahwa dalam keta’atan terdapat suatu yang terasa berat oleh jiwa dan badan.

Kedua, dari perkara yang Allah ‘Azza wa Jalla haramkan, karena jiwa manusia senantiasa mengajak kepada keburukan yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga, terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla yang terasa sakit di hati, karena takdir Allah ada yang terasa manis di jiwa manusia dan ada yang terasa pahit di hati. Maka kewajiban kita terhadap takdir Allah yang terasa manis di jiwa adalah mensyukurinya, dimana syukur merupakan bagian dari bentuk keta’atan kapada Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan kewajiban kita terhadap takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terasa terasa pahit di hati adalah bersabar[1]. Kemudian yang namanya sabar adalah sabar sejak pertama goncangan musibah dan godaan tersebut datang, tidaklah dikatakan seorang sabar ketika awal goncangan musibah atau godaan ia mengumpat, mencela takdir Allah ‘Azza wa Jalla atau menyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya. Karena sabar sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan melalui sahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu,

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“(Sesungguhnya yang dikatakan) Sabar adalah sabar pada awal sesuatu yang dibenci”[2].

Al Imam An Nawawi Rohimahullah mengatakan “maknanya adalah sabar yang sempurna yaitu sabar yang diganjar dengan pahala yang besar adalah sabar (yang seperti didefenisikan Nabi ini-pent). karena beratnya untuk bersabar dalam keadaan seperti ini”[3].

Jika pengertian di atas telah kita fahami maka marilah kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ

“Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan sholat”.

(QS : Al Baqoroh [2] :45).

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan dalam ayat ini terhadap perkara kita harus sabar maka sebagaimana dalam kaidah ilmu tafsir yang disampaikan oleh para ‘ulama “hadful ma’mul fih yufidul ‘umum” dihapusnya ma’mul fih/objek memberikan faidah keumuman[4], kaitannya dalam hal ini adalah semua perkara yang kita hadapi kita diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk bersabar. Akan tetapi sabar ini  memiliki washilah/perantara dan alat-alatnya yang tidaklah mungkin terwujud sabar kecuali dengannya yaitu pengetahuan terhadap suatu perkara yang ia akan bersabar terhadapnya, keutamaan- keutamaan perkara tersebut dan buah yang akan ia dapatkan dari kesabarannya terhadap perkara tersebut. Ketika seorang hamba telah mengetahui bahwa keta’atan merupakan sebuah tanda kebaikan hati, sebab bertambahnya iman dan buah dari keta’atan yang berupa kebaikan-kebaikan serta kemulian-kemuliannya maka akan terwujudlah rasa sabarnya dalam keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula ketika seorang hamba telah mengetahui bahwa apa yang ada dalam perkara yang diharamkan Allah adalah keburukan-keburukan, kehinaan-kehinaan dan akibatnya berupa hukuman-hukuman Allah kepada pelakunya maka akan terwujudlah rasa sabarnya dari perbuatan-perbuatan yang Allah haramkan. Serta demikian pula adanya ketika seorang hamba telah mengetahui bahwa seluruh yang Allah takdirkan ada berkahnya maka akan terwujudlah rasa sabarnya terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla[5]. Inilah keutaman ilmu, yang ia adalah asas/dasar dari segala kebaikan dan sebaliknya jahil dan tidak adanya pengetahuan yang mendalam merupakan sebab kebinasaan, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan”.

(QS : An Nisaa’ [3] :17).

Jahil yang Allah Subhanahu wa Ta’ala maksudkan di sini bukanlah ketidaktahuan mereka bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah perbuatan dosa dan keburukan melainkan cupetnya pengetahuan mereka terhadap hukuman, keburukan, dan hilangnya nikmat yang akan mereka dapatkan jika mereka melakukan perbuatan dosa dan keburukan tersebut[6]. Karena dalam islam kebodohan/kejahilan yang murni merupakan salah satu pengahalang ditegakkannya hukuman.

Maka marilah kita lihat firman Allah ‘Azza wa Jalla yang menjelaskan kepada kita bagaimana besarnya pengaruh ilmu terhadap kesabaran seseorang dalam surat Al Kahfi,

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا. وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dia (Nabi Khidhir mengatakan kepada Nabi Musa[7] ), “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku”. Dan bagaimana kamu (Nabi Musa) dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum diberikan keapdamu hakikat/ilmunya?[8]

(QS : Al Kahfi [17] :67-68).

Maka ketidakadaan pengetahuan tentang apa yang ia harus bersabar padanya adalah suatu faktor yang mengahalangi seseorang untuk dapat bersabar terhadap suatu perkara walaupun ia mati-matian untuk bisa bersabar terhadapnya maka ia tetap akan merasakan sabar adalah suatu yang memberatkan dimana keadaan ini tentu berbeda dengan orang yang berilmu[9].

Ringkasnya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hambanya agar meminta pertolongan untuk semua urusan mereka dengan senantiasa bersabar dan membimbing hambanya untuk mencapai kesabaran tersebut dengan mengingat perkara-perkara yang telah disebutkan, mengetahui hakikatnya dan fadhilah-fadhilahnya. Sebagai pentutup kami mengajak diri kami dan para pembaca sekalian untuk memperhatikan ayat Allah ‘Azza wa Jalla berikut agar  lebih memantapkan diri kita untuk dapat dan senantiasa bersabar,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”

(QS : Az Zumar [39] :10).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah mengatakan, “firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini mencakup dalam semua bentuk sabar, sabar terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla yang terasa pahit di hati maka hendaklah ia tidak mencela dan marah kepadanya. Demikian juga sabar dari perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka hendaklah ia tidak berbuat maksiat kepadaNya. Hal yang sama juga dalam sabar di atas keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga ia bisa menunaikan keta’atan kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjajikan kepadanya pahala yang tanpa batasan dan hal ini tidak lain karena keutamaan sabar dan kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sabar inilah penolong dalam semua perkara”[10]. Maka lihatlah saudaraku betapa balasan yang Allah ‘Azza wa Jalla janjikan kepada orang yang sabar adalah balasan yang luar biasa. Allahu a’lam.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi diri penulis pribadi dan kaum muslimin seluruhnya, Amin.

28 Romadhon 1430 H

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman


[1] Definisi sabar ini merupakan definisi yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah dalam Syarh Riyadhus Sholihin yang kami nukilkan secara ringkas. [lihat Syarh Riyadhus Sholihin hal. 79-80/I, cetakan Darul Aqidah Kairo, Mesir]

[2] HR. Bukhori no. 1252, Muslim no. 2136.

[3] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 466/V cetakan Darul Ma’rifah, Beirut, Lebanon dengan tahqiq dari Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa.

[4] Lihat Al Qowaidul Hissaan Al Muta’aliqotul bi Tasiril Qur’an oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah hal 43-45 cetakan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, KSA.

[5] Lihat Al Qowaidul Hissaan Al Muta’aliqotul bi Tasiril Qur’an oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah hal 126 cetakan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, KSA.

[6] Lihat Al Qowaidul Hissaan Al Muta’aliqotul bi Tasiril Qur’an oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah hal 126 cetakan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, KSA dan Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah hal. 153 cetakan Dar Ibnu Hazm, Beirut, Lebanon.

[7] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir Rohimahullah oleh Syaikh Musthofa Al Adawi hafidzahullah hal. 41/III Cetakan Dar Ibnu Rojab, Kairo, Mesir.

[8] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 312 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA.

[9] Yaitu berilmu tentang suatu perkara yang ia akan bersabar terhadapnya, keutamaan-keutamaan perkara tersebut dan buah yang akan ia dapatkan dari kesabarannya terhadap perkara tersebut.

[10] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah hal. 687 cetakan Dar Ibnu Hazm, Beirut, Lebanon.

Tulisan Terkait

4 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. akmal
    Sep 29, 2009 @ 04:50:28

    bagus artikelnya..

    Reply

  2. Abu Haidar at-Tasiky
    Sep 30, 2009 @ 00:26:23

    Syukron!

    Reply

  3. abumubarak
    Oct 01, 2009 @ 01:19:29

    Jazakumulloh …..

    Reply

Leave a Reply