Ada Apa dengan Bulan Ramadhan dan Do’a ??!!

28 Aug

Share

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala , Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir jaman Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Do’a merupakan suatu ibadah yang agung di sisi Allah ‘Azza wa Jalla , terkhusus lagi di Bulan Romadhon. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu berdo’a kapadaKu dengan keta’atan[i] dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka mendapatkan petunjuk”.

(QS : Al Baqoroh [2] : 186).

Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan ayat ini dalam surat Al Baqoroh setelah ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah kewajiban puasa dan ketentuan-ketentuan dalam puasa, maka hal ini menunjukkan doa adalah sebuah ibadah yang agung terutama dalam Bulan Romadhon. Maka sudah sepantasnyalah kita bergiat untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala terutama di Bulan yang penuh berkah ini. Karena jika seorang hamba sampai lalai dengan sebuah kebaikan yang agung dan berkah ini yaitu berdo’a dan beristighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada bulan ini maka hampir tidak ada lagi kebaikan dan keberkahan yang dia dapatkan pada bulan ini. Padahal Nabi yang mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

رَغِمَ أَنْفُ امْرِءٍ دَخَلَ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Amat merugi seseorang yang datang kapadanya Bulan Romadhon kemudian berlalu Romadhon sedang dia tidak diampuni”[ii].

Dan do’a sebagaimana yang tidak tersembunyi lagi bagi kaum muslimin adalah suatu ibadah yang ibadah yang paling agung, ia juga merupakan ibadah yang paling penting dan merupakan pintu dari segala kebaikan serta asas/dasar segala kebaikan dan keberkahan. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab Sunan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Nu’man bin Basyir Rodhiyallahu ‘anhu :

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah Ibadah”[iii].

Kemudian Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Robbmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari  berdo’a kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina”.

(QS : Al Mu’min [40] : 60).

Do’a merupakan ibadah, bahkan ia merupakan ibadah yang paling agung, ibadah yang kedudukannya tinggi di sisi Allah dan merupakan ibadah mendatangkan faidah bagi hamba baik itu dalam perkara dunianya dan akhiratnya. Kebutuhan seorang hamba terhadap do’a merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, sebagaimana telah shahih dikabarkan kepada kita bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ فِيْ الدُّعَاءِ ، وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

Orang yang paling lemah adalah orang yang paling lemah dalam berdo’a dan orang yang paling pelit adalah orang yang pelit terhadap ucapan salam[iv].

Suatu hal yang telah diketahui bersama bahwasanya ucapan salam adalah salah satu bentuk do’a[v] dan kebakhilan/pelit kepada sesama manusia adalah sesuatu yang bentuk ahlak yang tercela maka seburuk-buruk kebakhilan dan kebakhilan yang paling bakhil adalah seseorang yang bakhil terhadap dirinya sendiri dari do’a kepada Allah yang ia adalah Pemilik alam semesta.

Do’a merupakan suatu yang mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai dan Allah mencintai orang-orang yang berdo’a kepadaNya meskipun demikian Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah butuh sedikitpun terhadap do’a seorang hamba kepadaNya. Sebagaimana telah shahih dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ الدُّعَاءِ

Tidaklah ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada do’a”[vi].

Demikian juga sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam :

مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang tidak berdo’a kepada Allah maka Allah akan murka/marah kepadanya[vii].

Demikian juga dalam hadits qudsi :

لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Sekiranya semua kalian (wahai hamba-hambaku) mulai dari orang yang paling pertama diantara kalian hingga yang paling akhir , dari kalangan jin kalian berdiri di sebuah tanah lapang kemudian berdo’a kepaku kemudian Aku kabulkan do’a setiap yang berdo’a maka hal tersebut tidaklah mengurangi sedikitpun dari kekuasaanku kecuali sebagaimana berkurangnya air laut yang diambil dengan mencelupkan jarum[viii]”.[ix]

Jika demikian keadaannya maka hendaklah kita banyak banyak berdo’a terutama di waktu mustajabnya do’a yang salah satunya adalah pada bulan Romadhon. Sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam :

إِنَّ الله فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ, فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ, وَ إِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يدْعُوْ بِهَا, فَيُسْتَجَابُ لَهُ

“Sesungguhnya pembebasan dari neraka Allah berikan pada setiap hari dan malam di bulan Romadhon. Dan sesungguhnya setiap muslim yang berdo’a pada waktu tersebut maka pasti Allah ijabahkankan[x] baginya”[xi].

Sebagai penutup kami sampaikan salah seorang salaf yang perkataan ini sangat menakjubkan bagi kami, Beliau Rohimahullah berkata :

“Aku merenungkan kebaikan maka aku dapatkan bahwa pintu-pintu kebaikan jumlahnya sangat banyak, sholat adalah kebaikan, puasa adalah kebaikan, berbakti kepada orang tua adalah kebaikan dan aku dapatkan semua kebaikan tersebut ada ditangan Allah[xii]. Maka aku yakin bahwa do’a adalah kunci dari segala kebaikan. Maka pada perkataan Beliau ini terdapat faidah yang sangat bagus jika engkau ingin mendapatkan semua kebaikan maka mulailah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan berdo’a. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita do’a yang sangat menakjubkan dan sudah sepantasnya kita amalkan :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah bantulah aku agar (senantiasa) berdzikir kepadaMu, (senantiasa) bersyukur kepadamu, dan mempebagus ibadahku kepadaMu”.[xiii]

Lihatlah saudaraku betapa do’a adalah kunci dari ibadah seseorang hamba kepada Robbnya dan do’a itu sendiri adalah ibadah bahkan ia adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Allahu a’lam[xiv]

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman.


[i] [lihat Tafsir Jalalain hal 37, cetakan Darus Salaam, Riyadh, KSA.]

[ii] Hadist ini dibacakan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah dalam muhadhorohnya yang berjudul Fiqhud Du’a, dengan Beliau katakan,“Telah bersabda Nabi kita ` :

« رَغِمَ أَنْفُ امْرِءٍ دَخَلَ رَمَضَانُ ثُمَّ خَرَجَ وَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ »

Hadits ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 192/III, Ahmad 246,254/II, Al Baihaqi 204/IV, melalui jalan Abu Huroiroh t  dan hadits ini dinyatakan hadits yang shohih oleh penulis Shifat Shoumin Nabi ` [takhrij ini kami kutip dari Shifat Shoumin Nabi ` hal. 24] yang dalam lafadz Ibnu Khuzaimah [potongan hadits] melalui sahabat Abu Huroiroh t:

« أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ المِنْبَرَ فَقَالَ : « آمِيْن ، آمِيْن ، آمِيْن » ، فَقِيْلَ لَهُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا فَقَالَ : « قَالَ لِيْ جِبْرِيْلُ : أَرْغَمَ اللهُ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِيْن ، »

Sesungguhnya Rasulullah ` suatu ketika naik mimbar, kemudian mengatakan, “Amiin, Amiin, Amiin”. Kemudian ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah apa yang tadi engakau lakukan?” Kemudian Beliau mengatakan, “Jibril mengatakan kepadaku, Semoga Allah membinasakan orang yang bulan Romadhon datang kepadanya namun ia tidak diampuni, maka aku katakan Amiin”.

[iii] HR. Ahmad no. 17629, Abu Dawud no. 1624, At Tirmidzi no. 2895, Ibnu Majah no. 3818, hadits ini dinyatakan shahih oleh Al Albani.

[iv] HR. Thobroni dalam Mu’jamul Awshoth no. 5749, hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani dalam Shahih Targhiib wa Tarhiib.

[v] Salam pada hakikatnya adalah doa kepada seseorang agar Allah memberikan kepadanya keselamatan.

[vi] HR. At Tirmidzi no. 3370, hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam Takhrij Beliau untuk Sunan Tirmidzi.

[vii] HR. At Tirmidzi no. 3373, Ibnu Majah no. 3827, hadits ini dihasankan oleh Al Albani dalam Takhrij Beliau untuk Sunan Tirmidzi.

[viii] Hal ini merupakan mubalaghoh dalam peniadaan. [lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 256, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut].

[ix] HR. Muslim 2577.

[x] Ijabah Allah ‘Azza wa Jalla terhadap do’a seorang hamba dapat berupa :

  • Allah ‘Azza wa Jalla segerakan apa yang diminta hambanya.
  • Allah ‘Azza wa Jalla akhirkan balasannya di akhirat.[Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halaby hafidzahullah mengatakan dalam salah satu muhadhorohnya yang berjudul Ad Du’a wa Atsaruh mengatakan, “Hal ini adalah sebaik-baik ijabah yang kita harapkan”, atau sebagaimana yang Beliau katakan].
  • Allah Subhanahu wa Ta’ala hindarkan dirinya dari keburukan yang semisal dengan yang ia minta.

Sebagaimana dalam hadits Nabi ` yang diriwayatkan At Tirmidzi no. 3604-3, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani lihat takhrij Beliau untuk Sunan At Tirmidzi hal 819 cetakan Maktabah Ma’arif, Riyadh, KSA.

[xi] HR. Ahmad no. 254/II dari Al A’masy dari Abu Sholeh dari Jabir Rodhiyallahu ‘anhu, Ibnu Majah no. 1643 namun secara ringkas, Al Bazaar no. 3142, hadits ini dinilai shahih oleh penulis Shifat Shaum Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam fi Romadhon, hal 24, terbitan Dar Ibnu Hazm, Beirut.

[xii] Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah mengatakan maksudnya adalah “Bahwa seorang hamba tidak akan dapat melaksanakan semua kebaikan tersebut kecuali Allah I berikan dia hidayah dan mudahkan ia untuk melakukannya”.

[xiii] HR. Ahmad no. 21103, Abu Dawud no. 1522 dan lain-lain, dan dinyatakan shahih oleh Al Albani Rohimahullah.

[xiv] Penulis menulis tulisan ini banyak mengambil istifadah dari muhadhoroh Syaikh Prof. Dr. Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah dengan judul Fiqhud Du’a dan Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halaby hafidzahullah yang berjudul Ad Du’a wa Atsaruh.

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Abdillah
    Jul 01, 2014 @ 04:36:27

    Sangat bermanfaat. Afwan akhi, izin copas..syukron, jakallahu khairan.

    Reply

Leave a Reply