Tercelanya Kesombongan

21 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tercelanya Kesombongan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ada sebuah dosa yang merupakan dosa pertama kepada Allah Ta’ala. Sebuah dosa yang dosa yang digariskan, dicontohkan Iblis kepada para pengikutnya. Dia pun meridhoi dosa tersebut untuk orang-orang yang mengikutinya. Dia akan menempatkan mereka pada posisi kehancuran yang luar biasa, kerusakan besar karena telah mewarisi dosa yang buruk akibatnya ini. Ketahuilah dosa tersebut adalah kesombongan. Inilah dosa dan kemaksiatan yang yang paling buruk. Wajib bagi seorang hamba Allah yang beriman untuk mewaspadainya. Sebab dosa ini akan menghasilkan dosa-dosa lainya dan menggiring pada berbagai keburukan. (لأنه ذنبٌ يوقِع في ذنوب وشرٌ يجر إلى شرور)

Inilah dosa yang sangat buruk dan sangat berbahaya. Dosa yang dicontohkan iblis. Dialah yang pertama melakukannya. Kemudian dia mewariskannya kepada para pengikutnya, dia mencurahkan kesungguhannya untuk menjatuhkan manusia pada jurang kesombongan ini. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam. Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (QS. Al Baqoroh [2] : 34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (11) قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12) قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13) قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15) قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17) قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ (18)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun sujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab iblis ‘Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman, ‘Turunlah/kelurlah kamu dari surga itu. karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan’. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguhan’. Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus’. Lemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.(QS. Al A’rof [7] : 11-18)

Ringkasnya ayat-ayat yang terdapat pada bagian awal surat Al A’rof ini menunjukkan bahwa kesombongan merupakan sunnahnya iblis. Setelah dia melakukannya sehingga dia menjadi orang yang terusir dari surga maka dia pun berusaha dengan sekuat kemampuannya untuk memperbanyak jumlah pengikutnya. Dia telah memasang jerat, tipu daya untuk merealisasikan hal ini kepada manusia agar mereka mengikuti sunnahnya ini berupa kesombongan. (ولهذا عباد الله من يتكبر من الناس فأستاذه الشيطان وقدوته إبليس) Oleh sebab wahai hamba Allah, siapa saja yang sombong maka ustadznya adalah syaithon dan panutannya adalah iblis. Kita berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang sombong. Kita juga memohon perlindungan agar tidak terjatuh pada jurang kesombongan walaupun hanya sedikit.

Wahai kaum mukminin sekalian, ketahuilah bahwasanya kesombongan ini tercakup dalam dua hal.

Pertama : penolakan dan tidak menerima kebenaran.

Kedua : merasa lebih tinggi dari orang lain, memandang hina orang lain, menilai orang lain itu kurang dari dirinya.

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

 لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang pada hatinya adalah kesombongan walaupun sebesar biji sawi”. Lalu ada seorang laki-laki yang bertanya, ‘Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang suka jika baju yang dia kenakan bagus, sendal yang dia pakai pun bagus’. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai hal-hal yang indah. Kesombongan itu adalah penolakan terhadap kebenaran dan menganggap orang lain rendah/hina”[1].

(وبطر الحق: ردُّه وعدم قبوله والتعالي عليه . وغمط الناس: ازدراؤهم واحتقارهم وانتقاصهم) Menolak kebenaran adalah menolak kebenaran, tidak menerimanya dan merasa dirinya lebih tinggi daripada kebenaran itu sendiri. Sedangkan merendahkan manusia adalah memandang hina mereka, merendahkan dan menganggap diri mereka kurang dari dirinya.

Penolakan seseorang terhadap kebenaran sekecil apapun merupakan bentuk kesombongan. Disebutkan pada shohih Muslim,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

Ada seorang laki-laki yang makan dengan tangan kanan di dekat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu beliau pun mengatakan, “Makanlah engkau dengan tangan kanan”. Dia menjawab, ‘Aku tidak mau’. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab, “Apa kamu tidak mampu ?”. Perowi hadits ini mengatakan, ‘Tidaklah ada hal yang mencegahnya dari melaksanakan perintah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melainkan kesombongan. Maka setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya’[2].

Lihatlah betapa buruknya kesombongan bagi pelakunya, bagaimana kesombongan mampu mencegah seseorang dari menerima kebenaran walaupun sebenarnya dia mampu melaksanakannya. Oleh sebab itu (فكم من أمورٍ وآثام وذنوب تولَّدت عن الكبر ونجمت عنه ، بل لم يقع فيها صاحبها إلا بسبب ما قام في قلبه من كبر) Betapa banyak dosa dan maksiat yang terlahir, muncul dari kesombongan. Bahkan tidaklah dosa-dosa tersebut muncul melainkan sebab kesombongan yang ada di hati seseorang.

Dari hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang telah lalu,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang pada hatinya adalah kesombongan walaupun sebesar biji sawi”.

Jelaslah bahwasanya kesombongan merupakan sebuah tabiat yang ada di hati seseorang kemudian bekas/tanda kesombongan ini akan terlihat di anggota badan berupa penolakan terhadap kebenaran dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya.

Selanjutnya, perkara yang dapat membantu seseorang terlepas dari kesombongan ada 2 :

Pertama, hendaklah dia mengetahui bahwasanya kesombongan merupakan shifat kesempurnaan yang hanya layak dimiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَدْخَلْتُهُ جَهَنَّمَ

“Kesombongan adalah rida’ (selendang, pakaian atasan) Ku, sedangkan keagungan merupakan izar (pakaian bawahan) Ku. Barangsiapa yang mengambil salah satunya dari Ku maka Aku akan masukkan dia ke jahannam”[3].

Kedua, hendaklah dia menyadari keadaan dirinya. Bagaimana dia ada, bagaimana kadar penciptaannya. Hendaklah dia mengingat bagaimana keadaan dirinya sebelum dia menjadi sesatu apapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (17) مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (20) ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (21)

“Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya ? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur”. (QS. ‘Abasa [80] : 17-21)

————————————

اللهم آتِ نفوسنا تقواها ، زكِّها أنت خير من زكاها ، أنت وليُّها ومولاها ، اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفة والغنى

Sigambal, 27 Syawwal 1438 H / 21 Juli 2017 M.

[Diringkas dari khutbah Jum’at Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah 13 Syawwal 1438 H]

Setelah subuh, Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Muslim no. 91.

[2] HR Muslim no. 2021.

[3] HR. Abu Dawud no. 4092, Ahmad no. 8881. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahumallah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply