4 Sifat Penghuni Surga

18 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4 Sifat Penghuni Surga

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Setiap muslim tentu menginginkan surga. Bahkan orang kafir pun sebagian mereka mungkin menginginkan surga di kehidupan setelah kematiannya. Namun sekedar keinginan tanpa disertai tindakan nyata tentu hanya angan belaka. Oleh sebab itu yang terpenting bagi kita adalah berusaha untuk memiliki sifat atau karakter serta amalan penghuni surga yang disebutkan Allah Subhana wa Ta’ala dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Salah satu kesempatan dimana Allah Tabaroka wa Ta’ala menyebutkan ciri, sifat atau karakter penghuni surga adalah pada Firman Nya,

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang awwab lagi hafiizh. (Yaitu) orang yang khosyah kepada Robb Yang Maha Pemurah padahal Dia tidak terlihat (olehnya) dan dia datang dengan hati yang muniib. Masuklah ke surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya”. (QS. Qof [50] : 31-35).

Ibnul Qoyyim Rohimahullah menuturkan[1],

“Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan tentang kedekatan surga dari orang-orang yang bertaqwa. Sesungguhnya penduduk surga adalah mereka yang menyifati dirinya dengan 4 sifat berikut.

Pertama, dia adalah orang yang awwab yaitu orang yang kembali/ruju’ kepada Allah dari maksiat yang dulu menuju keta’atan, dari kelalaian yang dulu menuju mengingat Nya.

‘Ubaid bin ‘Umair Rohimahullah mengatakan, “Al Awwab adalah orang yang ketika teringat dosa-dosanya lantas bertaubat/meminta ampunan dari dosa-dosa tersebut”.

Sa’id bin Al Musayyib Rohimahullah mengatakan, “(Al Awwab –pen) adalah orang yang terjatuh dalam perbuatan dosa lalu bertaubat kemudian ketika terjatuh lagi lantas bertaubat lagi”

Catatan : yang dimaksud oleh Sa’id bin Al Musayyib Rohimahullah bukanlah orang yang menunda taubatnya atau orang yang taubat namun dengan gampangnya bermaksiat kembali lantas taubat lagi. Lalu dengan gampangnya bermaksiat kembali lantas dengan gampangnya pula dia klaim dirinya bertaubat lagi. Namun yang dimaksud oleh beliau Rohimahullah –Allahu a’lam- adalah orang yang ketika dia sudah berusaha agar tidak berbuat maksiat namun masih terjatuh lagi kemudian dia berusaha bertaubat dengan taubat yang nasuha. Lantas di kemudian hari setelah berusaha dengan gigih untuk menjaga dirinya namun terkadang masih terjatuh dalam maksiat lalu dia pun terus berusaha bertaubat dengan taubat yang nasuha[2].

Kedua, dia adalah orang yang hafiizh.

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengaakan, “Dia adalah orang yang menjaga atas apa yang telah Allah amanahkan dan wajibkan kepadanya”.

Qotadah Rohimahullah mengatakan, “Dia adalah orang yang menjaga atas apa yang Allah titipkan kepadanya berupa hak dan nikmat Nya”.

Ketika jiwa memiliki 2 kekuatan ini yaitu kekuatan mencari dan kekuatan menahan diri, maka awwab digunakan untuk kekuatan mencari jalan kembali menuju kepada Allah, keridhoan Nya dan keta’atan kepada Nya. Sedangkan hafiizh digunakan pada kekuatan menjaga untuk menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah dan dari hal-hal yang dilarang Nya. Sehingga hafiizh adalah orang yang mampu menahan dirinya dari hal-hal yang diharamkan untuknya. Sedangkan awwab adalah orang yang kembali menuju Allah dengan melakukan berbagai keta’atan kepada Nya”.

Catatan : orang yang berkeinginan kembali kepada Allah Subhana wa Ta’ala dari dosa-dosa yang dia lakukan dahulu haruslah menghiasi dirinya dengan ilmu yang benar dan berbagai amal keta’atan. Tanpa itu keinginannya kembali kepada Allah hanya sebatas keinginan belaka yang tidak di dasari kesungguhan. Allahu a’lam.

Ketiga, Khosyah yaitu yang disebutkan dalam Firman Allah,

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ

“(Yaitu) orang yang khosyah kepada Robb Yang Maha Pemurah padahal Dia tidak terlihat (olehnya)”. (QS. Qof [50] : 33).

Khosyah ini terkandung di dalamnya pengakuan terhadap adanya Allah, Rububiyah Nya, Qudroh Nya, Ilmu Nya, Penglihatan Nya atas semua detail keadaan seorang hamba. Demikian pula khosyah ini terkandung di dalamnya pengakuan/iman terhadap kitab-kitab Nya, Rosul-rosul Nya, Perintah dan Larangan Nya. Khosyah ini juga terkandung di dalamnya pengakuan/iman atas Janji, Ancaman Nya dan Pertemuan dengan Nya. Sehingga tidaklah sah khosyahnya terhadap Allah Yang Maha Pemurah padahal Dia tidak terlihat (olehnya) kecuali setelah seluruh hal di atas.

Catatan : Makna dasar khosyah adalah rasa takut kepada Allah yang didasari ilmu yang benar. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya hanyalah yang khosyah/takut kepada Allah dari hamba-hamba Nya adalah orang-orang yang berilmu”. (QS. Fathir [35] : 28).

Keempat, Hati yang muniib. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

“Dan dia datang dengan hati yang muniib”. (QS. Qof [50] : 33).

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Yaitu orang yang kembali ta’at kepada Allah setelah sebelumnya berbuat maksiat kepada Nya. Hakikat inabah adalah tetapnya hati[3] di atas keta’atan dan kecintaan kepada Allah serta kembali menjalankan keta’atan kepada Nya”.

Kemudian Allah Subhana wa Ta’ala menyebutkan balasan bagi orang yang memiliki keempat sifat ini  pada Firman Nya,

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)

“Masuklah ke surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada sisi Kami ada tambahannya”. (QS. Qof [50] : 34-35).

 

Kesimpulannya :

Orang yang masuk surga adalah orang-orang yang bertaqwa yang memiliki 4 sifat :

  1. Awaab
  2. Hafiizh
  3. Khosyah kepada Allah
  4. Hati yang muniib

Mudah-mudahan kita diberikan keempat sifat tersebut. Amin

 

Setelah ‘Ashar, 15 Robi’ul Akhir 1438 H, 13 Januari 2017 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Dalam Fawaidul Fawaid hal. 121-122 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[2] Catatan ini dari kami sebagai pengingat.

[3] bagian ini merupakan koreksi di cetakan terbaru untuk Fawaidul Fawaid. Namun kami belum mendapatkan file pdfnya sehingga belum dapat mencantumkan teks aslinya. Namun kami terjemahkan sudah sesuai cetakan aslinya

 

 

 

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply