4 Jenis Orang Bersama Romadhon

11 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4 Jenis Orang Bersama Romadhon

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Bulan Sya’ban sudah dipenghujungnya, Romadhon pun segera tiba. Waktu persiapan semakin menipis. Sudahkah kita kenal siapa diri kita ketika akan didatangi tamu agung ??

Kaum muslimin secara umum sangat senang bila bulan Romadhon menghampirinya. Baik mereka yang tua maupun muda. Namun jika ditilik lebih dalam lagi maka secara umum ada 4 jenis orang terkait bersikap dengan bulan Romadhon.

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah mengatakan,

“Sudah sepantasnya atas setiap muslim untuk memperbagus penyambutannya terhadap bulan Romadhon. Manusia dalam hal ini memiliki beragam sikap tentang bagaimana cara mereka menyambut bulan Romadhon.

[Pertama], sekelompok orang yang mereka menyambut bulan ini dengan sibuk ke pasar untuk membeli beraneka macam ragam makanan yang terbaik. Mereka berlomba-lomba ke pusat perbelanjaan untuk membeli berbagai ragam makanan dengan harga yang mencengangkan (saking banyaknya –pen). Seolah-olah mereka akan bertemu, akan menyambut bulan makan-makan dan minum-minum. Sehingga mereka membeli makanan dalam porsi yang lebih dari biasanya. Sampai-sampai bolak baliknya mereka ke pasar untuk membeli bahan makanan lebih banyak di bulan Romadhon dibandingkan dengan kebutuhan sebenarnya keluarga mereka. Oleh sebab itulah anda akan dapati –terutama pada orang yang suka mubazir, mereka meletakkan berbagai ragam makanan di atas meja makannya namun tidaklah yang mereka mampu makan kecuali hanya sedikit saja. Inilah model pertama”[1].

Beliau kemudian menyebutkan[2],

[Kedua] kelompok orang lainnya mereka yang ketika menyambut bulan Romadhon dengan benar-benar mempersiapkan berbagai alat-alat permainan dan games untuk diri mereka dalam rangka menghabiskan waktu mereka (menunggu waktu berbuka –pen). Mereka benar-benar mempersiapkan berbagai hal untuk menghabiskan waktu yang sangat bernilai di bulan Romadhon dengan melakukan berbagai permainan yang tidak ada manfaatnya. Bahkan terkadang hal-hal tersebut malah sebenarnya membahayakan (puasa mereka –pen). Mereka dengan seriusnya mempersiapkan berbagai alat dan permainan ini sebelum datangnya bulan Romadhon”.

Beliau juga mengatakan,

[Ketiga] kelompok orang yang Allah anugrahi taufik, awasi dengan perlindungan Nya dan meliputinya dengan pertolongan Nya. Sehingga mereka mempersiapkan diri mereka untuk menyambut bulan Romadhon. Pada orang yang demikian anda akan dapati mereka meletakkan di hadapan mereka sesuatu yang kekal abadi (maksudnya orientasi mereka ketika menyambut Romadhon adalah untuk persiapan amal ibadah –pen). Anda akan dapati mereka berputar-putar pada berbagai keta’atan. Dia mulai mengatur waktu untuk membaca Al Qur’an, mengatur waktu tertentu untuk digunakan dzikir kepada Allah, mengatur waktu untuk melaksanakan ibadah di malam hari, mengatur waktu untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mengatur waktunya untuk melakukan berbagai kegiatan sosial (semisal memberi sedekah kepada fakir miskin –pen) serta mengatur waktunya untuk juga mengikuti berbagai majelis ilmu (pengajian) sehingga waktunya padat digunakan untuk melakukan berbagai keta’atan”.

“Sebagian orang menilai bahwa bulan Romadhon itu terlalu singkat dan terlalu cepat berlalu bagi mereka, padahal berbagai amal sholeh demikian banyak. Sebab pada bulan tersebut terbentang luas kesempatan untuk melakukan berbagai keta’atan kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala. Namun mereka merasa bahwa bulan Romadhon terlalu singkat sehingga tidak cukup untuk melakukan semua pintu-pintu kebaikan (keta’atan kepada Allah –pen)[3]”.

Beliau melanjutkan,

[Keempat] kelompok orang yang mana mereka menyikapi bulan Romadhon sebagaimana sikap mereka pada bulan-bulan selain Romadhon. Sehingga bulan Romadhon berlalu begitu saja bagi mereka sebagaimana bulan-bulan lainnya. Bahkan malam dimana diturunkan Al Qur’an yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan pun berlalu begitu saja bagi mereka sebagaimana malam malam lainnya ! Ini merupakan sebuah kerugian besar. Menyia-nyiakan waktu yang tidak selayaknya dilakukan seorang muslim.

Oleh sebab itu sudah seharusnya seorang muslim itu memperbaiki penyambutannya terhadap bulan yang mulia ini dengan penyambutan yang baik. Hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk benar-benar menyambut dan mengisi bulan ini dengan melakukan berbagai keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla[4].

 

Pertanyaannya :

Diri kita ini masuk ke yang mana ? Jika bukan kelompok ketiga maka mari mulai detik ini perbaiki persiapan kita untuk menyambut bulan yang penuh keberkahan ini dengan mempersiapkan jadwal, waktu khusus untuk melakukan berbagai keta’atan semisal membaca Al Qur’an, menambah sholat malam dan seterusnya. Serta mari kurangi sedikit intensitas kita terhadap hal-hal yang bersifat keduniawian pada bulan Romadhon ini, terutama di akhir-akhir Romadhon.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

 

Sigambal, 21 Sya’ban 1439 H / 07 Mei 2018 M.

Setelah subuh menjelang kerja,

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Wa Ja’a Syahru Romadhon hal. 8 terbitan Darul Fadhilah, KSA.

[2] Idem hal. 8-9.

[3] Idem hal. 9.

[4] Idem hal 9-10.

Tulisan Terkait

Leave a Reply