Kera Sekarang dan Manusia yang Dijadikan Kera

23 Aug

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kera Sekarang dan Manusia yang Dijadikan Kera

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Allah Subhana wa Ta’ala dengan shifat kemahatahuan dan kemahahikmahan Nya telah menetapkan bahwasanya ada sebagian orang yang diubah menjadi kera dan babi. Misalnya dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

 “Katakanlah, ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (Yahudi) dan (orang yang) menyembah thoghut ?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (QS. Al Maidah [5] : 60)

Yang jadi pertanyaan kita, apakah kera dan babi yang ada sekarang ini merupakan keturunan dari manusia yang Allah ubah menjadi kera ini atau bukan ?

Share

Sebelum Menyesal di Kemudian Hari

16 Jun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebelum Menyesal di Kemudian Hari

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Pertama

Setiap muslim dan muslimah pasti menyakini Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang tidak ada keraguan padanya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)

“Alif Laam Miim. Itulah Kitab (Al Qur’an) yang tiada keraguan sedikit pun padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS. Al Baqoroh [2] : 1-2)

Wajib bagi setiap muslim untuk meyakini semua yang ada di dalam Al Qur’an merupakan kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.

Share

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

12 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Telah disampaikan pada artikel sebelumnya (klik di sini) seputar keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit dan beristiwa’ di atas ‘Arsynya.

Lantas apa makna dari shifat istiwa’ tersebut ? Mari simak keterangan berikut.

Share

Tafsir Surat Al Kahfi (22)

20 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (22)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat. [Tafsir Surat Al Kahfi ayat 27] Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya”. (QS. Al Kahfi [18] : 27).

 

Share

Makna Asmaul Husna, Al Malik, Al Maalik dan Al Maliik

11 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Asmaul Husna, Al Malik, Al Maalik dan Al Maliik

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kembali kita melanjutkan artikel seputar penjelasan ringkas makna dari Asma’ul Husna Allah ‘Azza wa Jalla. Pada kesempatan kali ini kita telah sampai pada makna  Al Malik, Al Maalik dan Al Maliik.

Share

Makna Taqwa

6 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Taqwa

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Melanjutkan seri sebelumnya, pada kesempatan ini kita akan menghadirkan makna taqwa dan berbagai ungkapan para ulama seputar taqwa.

Share

Mensyukuri Yang Sedikit Dahulu

30 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mensyukuri Yang Sedikit Dahulu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Sering kita mengucapkan, ‘Ah, kalau saya punya mobil kan enak bisa berangkat kajian kalau hujan’. Terkadang juga kita mengatakan, ‘Ah, enaknya si Fulan. Banyak uang bisa infaq. Kalau saya punya duit segitu, saya akan infaq lebih banyak dari dia’. Masih banyak ucapan semisal yang mungkin sering terbetik di benak kita.

Kami katakan ucapan tersebut tidak salah sepenuhnya. Bahkan jauh lebih baik dari ucapan orang yang mengatakan, ‘Kalau saya punya banyak uang, maka saya akan main judi di Macau, atau saya akan dirikan tempat hiburan malam’.

Namun terkadang kita manusia biasa ini sering lupa membaca diri. Kita mengucapkan ucapan yang pada dasarnya tidak ada masalah namun niat di hati kita adalah kedengkian, hasad kepada orang yang diberi nikmat tersebut yang dapat berkonsekwensi pada buruk sangka terhadap pemberi nikmat yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Ucapan demikian meluncur dari lisan kita seolah-olah kita pasti lebih baik dari orang tersebut jika dapat nikmat seperti apa yang ada padanya. Atau menghakimi seseorang yang semestinya bisa berangkat kajian ketika hujan namun dia tidak berangkat padahal ada mobil. Demikian seterusnya.

Share