Kaidah Kedua

15 Oct

Kaidah Kedua

Kesimpulkan dari Ayat- Ayat Al Qur’an Adalah Lafadznya yang Bersifat Umum Bukan Sebab Turunnya yang Bersifat Khusus

Kaidah ini[1] merupakan kaidah yang sangat bermanfaat, dengan memperhatikannya maka akan mendatangkan kebaikan dan ilmu yang banyak kepada seorang hamba. Sebaliknya dengan melalaikannya dan tidak memperhatikannya maka akan hilang dari diri seorang hamba kabaikan yang banyak dan dia akan terjatuh dalam kekeliruan dan keruwetan. Dan kaidah ini merupakan dasar yang disepakati oeh ulama muhaqqiq/peneliti dari kalangan ahli prinsip dasar agama dan para ulama yang lain. Maka jika memperhatikan kaidah sebelumnya maka ketahuilah bahwasanya apa yang dikatakan oleh para ulama tafsir mengenai asababun nuzul “Sesunggunya asbanun nuzul itu hanyalah sebagai contoh yang memperjelas makna dari lafadz-lafadz dalam Al Qur’an dan bukanlah sebagai pembatasan terhadap makna lafadz-lafadz dalam Al Qur’an”. Maka perkataan mereka, “Ayat ini turun disebabkan hal ini dan itu”. Maka maknanya hal ini[2] termasuk makna ayat dan diantara yang makna yang dimaksudkan oleh ayat.[3] Maka sesungguhnya–sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya- bahwasanya Al Qur’an itu diturunkan untuk menjadi petunjuk untuk genarasi awal umat ini hingga generasi akhirnya dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk memikirkan/tafakkur kandungan ayat Al Qur’an dan mentadabburinya. Maka jika kita mentadabburi lafadz-lafadznya yang bersifat umum maka kita akan paham bahwasanya makna lafadz-lafadz tersebut mancakup makna yang luas maka mengapa kita harus mengeluarkan sebagian dari makna yang terkandung di dalamnya dan memasukkan sebagian (kecil) makna yang terkandung di dalamnya.

Berkaitan dengan hal ini Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jika engkau mendengar Allah Ta’ala berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا (wahai orang-orang yang beriman) maka pasanglah pendengaranmu, maka sesungguhnya ayat setelahnya akan menceritakan tentang sesuatu yang engkau diperintahkan untuk mengerjakannya ataupun larangan yang engkau diperintahkan untuk dilarang mengerjakannya.”[4]

Share

Kaidah Pertama

7 Oct

Kaidah Pertama

Metode Belajar Tafsir

Setiap orang yang menjalani suatu metode/thoriqoh, beramal dengan suatu amal dengannya dan mendatangi pintu-pintu dari metode yang dapat mengantarkannya kepada apa yang dijalaninya  maka sudah tentu akan mendapatkan keberhasilan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya”.

( Al Baqoroh : 189 ).[1]

Semakin agung sesuatu yang dicari maka perkara ini semakin ditekankan, dan wajiblah untuk mempelajarinya dengan sempurna dengan cara yang paling baik/ideal dan mudah yang dapat menyampaikan kita kepada yang dicari. Tidaklah diragukan bahwasanya apa yang kita bahas adalah perkara yang paling penting dan paling mendasar.

Share

Terjemah Al Qowa'idul Hissan Al Muta'aliqotul bi Tafsiril Qur'an

29 Sep

Terjemah Al Qowa’idul Hissan Al Muta’alliqotu bi Tafsiril Qur’an[1]

Muqodimah Penulis

Segala puji hanya milik Allah. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan – kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barang siapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam , keluarganya dan para sahabatnya Rodhiyallahu ‘anhum.

Amma Ba’du…

Share

Makna Dzikr

29 Aug

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku[i], maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS : Thaha [20] : 124)

Share

Makna Tilawah

29 Aug

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang-orang bertilawah terhadap Kitab Allah”. (QS : Faatir [35] : 29)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ

“Orang –orang yang Kami datangkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an), mereka bertilawah (membacanya) dengan benar”. (QS : Al Baqoroh [2] : 121)

Makna dari ayat ini mereka yang bertilawah Al Qur’an secara benar adalah dengan ittiba’/mengikutinya

Share