Kalau Bisa Terus Menerus, Mengapa Harus Tergesa-gesa ???!!

28 Oct

Kalau Bisa Terus Menerus, Mengapa Harus Tergesa-gesa ???!!

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambaNya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosulul Islam, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat Beliau Rodhiyallahu ‘anhum.

Ada dua hal yang sering terlupakan oleh kaum muslimin pada umumnya dalam masalah berdo’a, yaitu tergesa-gesa dalam meminta pengabulan do’a dan tidak terus menerus dalam berdo’a. padahal hal ini merupakan dua hal dari sekian banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang abdullah (hamba Allah) ketika ia berdo’a. Untuk itulah kami sedikit kupas masalah ini sekadar kemampuan dan ilmu yang ada pada kami.

Pertama, tergesa-gesa dalam do’a, Imam Al Muhaqqiq Ibnu Qoyyim Al Jauziyahrohmatullah ‘alaihi rahmatan wasi’an- mengatakan dalam kitabnya Ad Daa’u wad Dawaa’u[1],

salah satu kesalahan yang menghalangi adanya atsar/bekas dari do’a adalah seorang hamba tergesa-gesa dalam berdo’a. Ia menganggap Allah lambat mengabulkan do’anya yang akhirnya ia meninggalkan berdo’a kepada Allah” –sekian perkatan Beliau-.

Share

Kesempurnaan Islam

27 Oct

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa Ta’ala. Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman Muhammad  Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan hal yang sudah terpatri dalam akal manusia bahwa sesuatu yang sempurna adalah suatu yang sangat layak untuk dijadikan pilihan. Maka, demikian jugalah dalam beragama. Sudah menjadi suatu pilihan yang tepat memilih Islam sebagai agama karena ia berasal dari  Dzat Yang Maha Mulia, Maha Mengetahui dan Maha Hikmah, yang Dia telah menyempurnakan Islam sebagai agama bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.”

(QS : Al Maidah [5] : 3).

Ayat di atas turun kepada Nabi  Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika hari Jumat sore bertepatan dengan hari Arofah, sebagaimana riwayat dari ‘Umar bin Khattab Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim melalui jalan Thoriq bin Syihaab dalam kitab Shahih keduanya:

جَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ مَعْشَرَ الْيَهُودِ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا قَالَ وَأَيُّ آيَةٍ قَالَ

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ

Seorang laki-laki dari kalangan yahudi datang kepada ‘Umar. Kemudian, dia berkaata, “Wahai Amirul Mu’minin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami orang-orang yahudi sungguh akan kami jadikan hari dimana ayat itu turun sebagai hari ‘ied”. Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Orang yahudi tersebut mengatakan,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.[1]

Maka, ‘Umar mengatakan, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari jumat bertepatan dengan hari Arofah”.[2]

Share

A Little Bit of Sabar

9 Oct

A Little Bit of Sabar[1]

Segala puji hanya milik Allah. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan-kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barang siapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam , keluarganya dan para sahabatnya Rodhiyallahu ‘anhum.

Sabar merupakan suatu kata yang sudah akrab dengan telinga kita, baik dari orang yang sholeh ataupun yang tidak. Telah kami sampaikan pengertiannya serta jenis-jenis sabar dalam tulisan kami yang sebelumnya dengan judul “Ada Apa dibalik Kesabaran dan ‘Ilmu[2]. Pada kesempatan kali ini kami hanya akan menambahkan sekelumit dari sekian banyak faidah dari kesabaran yang mana kesabaran di sini masih berhubungan erat dengan ilmu, yaitu sabar terhadap suatu musibah yang telah Allah tetapkan kepada seorang hamba misalnya sakit dan sabar terhadap perkara yang menjadi konsekwensi dari pilihan seorang hamba[3]. Kedua sabar ini memiliki perbedaan dalam hal pahala yang akan didapatkan oleh seorang hamba  dan beratnya jiwa dalam melaksanakannya.

Share

Allah Menciptakan Seluruh Mahluk agar Mereka Mentauhidkan-Nya Semata dalam Seluruh Ibadah

2 Oct

Al Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyahrohimahullah- mengatakan, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mengutus para rasulNya –‘alaihimush sholatu was salaam-, telah menurunkan kitab-kitabNya, telah menciptakan langit dan bumi agar (mahluknya) mengenal Allah, menyembahNya, mentauhidkanNya, menjadikan semua peribadatan mereka hanya kepada Allah, agar mereka hanya memberikan keta’atannya kepada Allah dan berdo’a hanya kepadaNya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh[1] manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu[2]“.

(QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Demikian pula firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya kecuali dengan Haq[3]

(QS : Al Hijr [39] :85).

Share

Penjelasan Singkat Tentang Hadits 99 Nama Allah Azza wa Jalla

15 Aug

Penjelasan Singkat Tentang 99 Nama Allah

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i rahimahullah mencantumkan dalam kitabnya yang mashur di kalangan masyarakat muslimin di Negara kita, Bulughul Marom sebuah hadits yang statusnya Muttafaqqun ‘Alaih yang sangat sarat makna dan Faidah di dalamnya. Hadits tersebut diriwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh radhiyallahu anhu, Beliau Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمَا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ »

Bahwasanya Rasulullah  ` berkata : “Sesungguhnya milik Allah 99 nama, barang siapa yang mengahsho[i] nya maka pasti masuk surga”.[ HR. Bukhory no. 2736, 7392, Muslim no. 6989.]

Share