Urgensi Mempelajari Aqidah Yang Benar

14 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Urgensi Mempelajari Aqidah Yang Benar

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak sekali tersaji berita bahwa banyak orang yang memutuskan untuk meninggalkan lumuran dosa kemaksiatan menuju keta’atan kepada Allah. Atau dengan istilah populer sekarang banyak orang yang dulu ahli maksiat hijrah menuju keta’atan kepada Allah. Namun demikian, tak sedikit pula mereka menganggap hijrah itu hanya sebatas penampilan yang lebih agamis, atau menunjukkan perhatian yang lebih kepada kepemimpinan dalam Islam, atau sibuk mencari-cari perselisihan dalam masalah fiqih di kalangan para ulama dalam rangka mencari-cari udzur, atau sebatas meninggalkan muamalah ribawi dan seterusnya. Sehingga mereka hijrah namun bukan menuju hijrah pertama yang harus dilakukan seorang yang hendak meniti jalan lurus menujuk Allah ‘Azza wa Jalla. Hijrah yang harus dia lalui pertama sekali adalah hijrah dari kekufuran, ketidakpedulian dengan tauhid dan aqidah menuju kemurnian dan penerapan tauhid dalam hidup dan kehidupannya.

Ringkasnya tauhid dan aqidah yang benar merupakan prioritas hijrah seorang yang hendak benar-benar ingin menjadi hamba Allah yang berkualitas. Namun sayang, orang-orang yang dianggap cendikiawan di negeri ini malah menganggap dan menyebarkan pandangannya (lebih tepatnya syubhat) di masyarakat tentang permasalahan aqidah ini. Mereka menyerukan bahwa aqidah bukan sebuah hal yang urgen untuk dibahas di zaman ini. Sebab masyarakat Indonesia mayoritas muslim yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Ilallah. Atau masalah aqidah itu tidak lebih penting di bandingkan masalah politik dan pucuk pimpinan di negeri ini. La hawla wa la quwwata illa billah.

 

Untuk itu besar harapan kami setelah menuliskan artikel yang serba kurang ini, penulis dan pembaca sekalian tergugah kembali untuk mendalami aqidah yang benar serta kembali menjadikannya sebagai prioritas dalam menuntut ilmu. Amin.

 

Mengapa harus aqidah ? Apa sih urgensinya ?

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

“Beriman[1] terhadap aqidah yang benar dan mendakwahkannya merupakan perkara terpenting dan kewajiban yang paling wajib sebab aqidah merupakan pondasi yang di atasnya aan dibangun keabsahan berbagai amal dan diterimanya atau tidaknya amal-amal tersebut. Demikian para rosul sholawatullah wa sallamu ”alaihim sangat memberikan porsi perhatian yang besar terhadap masalah aqidah. Ini pulalah perhatian terbesar pengikut dakwah para rosul yaitu memperbaiki aqidah terlebih dahulu, hal-hal yang dapat membatalkannya dan mengurangi kesempurnaannya”[2].

Intinya : aqidah yang benar merupakan penentu diterima atau tidaknya berbagai amal sholeh seseorang dan membenarkan aqidah adalah prioritas dakwah para Nabi ‘alaihimussalam dan para ulama yang mengikuti mereka dengan benar.

 

Apa ruginya jika aqidah tidak benar ?

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

“Penyimpangan dari aqidah yang benar merupakan sebuah kehancuran dan kehilangan besar. Sebab aqidah yang benar merupakan faktor pembangkit motifasi yang kuat untuk melakukan berbagai amal sholeh/yang bermanfaat. Seseorang tanpa aqidah yang benar dapat menjadi mangsa keraguan-raguan dan kebimbangan. Yang boleh jadi bila keraguan itu semakin menumpuk maka seseorang itu akan tertutup pandangannya dari kebenaran menuju gerbang kebahagiaan hidup. Hidupnya akan terasa sempit hingga ketika dia ingin terbebas dari kesempitan hidup maka dia pun ingin mengakhirinya walau dengan bunuh diri. Sebagaimana ini terjadi pada banyak orang yang kosong dari dirinya hidayah akan aqidah yang benar”[3].

 Intinya : aqidah yang benar merupakan motivasi yang mampu membangkitkan seseorang untuk beramal yang benar dan besar kemungkinan amalnya diterima Allah ‘Azza wa Jalla. Bila aqidahnya tidak benar cara pandang hidupnya pun akan sempit.

 

Apa rusaknya masyarakat yang tidak benar aqidahnya ?

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

“Masyarakat yang tidak tersentuh, terbimbing aqidah yang benar adalah masyarakat ‘hewani’ yang terluput darinya berbagai prinsip dasar kebahagiaan hidup. Meskipun mereka memiliki banyak perbendaharaan materi. Banyaknya materi bahkan terkadang menggiring mereka pada berbagai kehancuran sebagaimana anda bisa lihat sendiri di masyarakat negeri-negeri kafir. Sebab berbagai kekayaan yang bersifat material ini sangat membutuhkan petunjuk dan bimbingan agama dalam pemanfaatannya agar menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat (dunia dan akhirat). Tidak ada petunjuk terbaik untuk hal ini dibandingkan aqidah yang benar. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

 “Wahai sekalian para rosul, makanlah makanan yang baik-baik dan beramal sholehlah”. (QS. Al Mukminun [23] : 51)”[4].

Lihatlah !!! siapa yang dipanggil dalam ayat ini ? Para utusan Allah. Apa yang mereka diperintahkan ? Memakan makanan yang baik (tentu sudah pasti halal dzat dan cara mendapatkannya). Lalu mereka diperintahkan untuk beramal sholeh.

Lihat pulalah !!!  Para rosul tidak diragukan lagi kebaikan dan kelurusan aqidah mereka. Dengan lurus dan benarnya aqidah inilah mereka dapat terbimbing untuk mengkonsumsi yang halal dari yang haram. Selanjutnya dengan makanan yang halal inilah tumbuh jasad yang luar biasa keinginan dan pelaksanaannya dalam beramal sholeh.

Ringkasnya kekayaan anda membutuhkan manejemen yang benar dalam penggunaannya. Penggunaan yang benar dalam hal ini tidak mungkin baik, bernilai di sisi Allah kecuali dibarengi dan terbimbing aqidah yang benar tentang agama Allah.

Allahu a’lam.

 

Sigambal,

Selesai sholat Jum’at, 28 Rojab 1438 H, 13 April 2018 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Dalam salah satu cetakan iman disebutkan dengan redaksi menjelaskan.

[2] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod hal. 5 terbitan Darul Minhaj, KSA dan hal. 5 terbitan Ro’isah ‘Ammah lil Buhutsil ‘Imiyah wal Ifta’, KSA.

[3]  Lihat Aqidatu Tauhid hal. 13 terbitan Darul Minhaj, KSA.

[4] Idem.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply