Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah

25 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Hal-hal yang memiliki keutamaan merupakan sebuha hal yang sangat menarik untuk kita ketahui. Sebab dengan mengetahuinya, memungkin bagi kita untuk menjadi orang yang lebih utama dibandingkan orang lain. Demikian pula dengan Nama dan shifat Allah ‘Azza wa Jalla.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ فِي سُوَرٍ ثَلَاثٍ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ وَطه

“Nama Allah yang paling agung, yang apabila berdo’a dengannya akan dikabulkan ada di 3 surat : Surat Al Baqoroh, Ali ‘Imron dan Thoha”[1].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 1

“Sebagaimana Nama-nama dan Shifat Nya beragam, demikian pula keutamaan Nama dan Shifat pun beragam. Sebagaimana ditunjukkan dalil dalam Al Qur’an, Sunnah, ijma’ dan akal sehat”[2].

Setelah membawakan banyak dalil yang menunjukkan keutamaan Nama Allah ‘Azza wa Jalla beragam, Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 2

“Inilah sebagian hadits yang valid dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang menyebutkan Nama Allah yang paling agung. Nama yang jika berdo’a dengannya maka akan dikabulkan. Jika meminta dengan Nya maka akan diberi. Karena keutamaan nama, pengetahuan dan pembahasan tentangnya memiliki kedudukan mulia di sisi para ulama. Para ulama memiliki pembahasan tersendiri tentang hal ini baik dalam bentuk karya ringkas maupun pembahasan panjang lebar”[3].

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 3

“Sesungguhnya pendapat yang paling terkenal, paling mendekati dalil-dalil tentang penentuan bahwa nama Allah yang paling agung adalah Allah. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama”[4].

Abu Abdillah yan dikenal dengan Ibnu Mandah Rohimahullah, mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 4

“Nama Allah, Allah merupakan sebuah nama yang ma’rifat secara dzatnya. Allah ‘Azza wa Jalla melarang makhluk Nya menggunakan nama tersebut untuk seluruh ciptaan Nya. Dia juga melarang memanggil selain Allah dengan nama tersebut. Dia menjadikan nama Nya tersebut sebagai awal iman, tiang Islam, kalimat yang haq dan ikhlas, tidak boleh berserikat dengannya, tercegahnya pembunuhan dengan menyebut nama tersebut, dengan nama tersebut dibuka sholat wajib, sahnya iman, memohon perlindungan dari syaithon dan dengan nama tersebut pula dibuka serta ditutup segala sesuatu. Maha Suci Nama Nya yang tidak ada sesembahan selain Dia”[5].

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 5

“Diantara kekhususan Nama Allah ini yaitu dengan lafazh Allah dinisbatkanlah nama-namanya yang lain. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

 “Hanya Milik Allah lah nama-nama yang baik”. (QS. Al A’rof [7] : 180).

Dikatakan bahwa Al ‘Aziz, Ar Rohman, Al Karim, Al Quddus merupakan bagian dari Nama-nama Allah. Namun tidak dikatakan bahwa Allah merupakan bagian dari Nama-nama Ar Rohman. Bahkan nama ini (yaitu Allah) terkandung padanya seluruh makna Asmaul Husna secara umun. Sedangkan Asma’ul Husna merupakan rincian dari shifat-shifat ketuhanan. Karena makna yang agung inilah serta lainnya yang merupakan kekhususan nama ini (yaitu Allah -pen) maka tidak sedikit ulama yang memilih bahwa Allah merupakan Nama Allah yang paling utama/agung. Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini bahwa nama ini (yaitu Allah) telah terdapat pada banyak hadits-hadits yang padanya terdapat isyarat nama Allah yang paling agung”[6].

Namun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa nama Allah yang paling agung adalah Al Hayyu Al Qoyyum. Diantara ulama yang memilih pendapat ini adalah Ibnul Qoyyim Rohimahullah dalam Zaadul Ma’ad[7]. Beliau Rohimahullah mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 6

“Sesungguhnya shifat Hayah (hidup) terkandung padanya shifat-shifat mulia lain yang merupakan konsekwensi dari shifat tersebut. Sedangkan shifat Qoyyum terkandung padanya seluruh shifat yang berupa perbuatan. Oleh sebab itulah nama Allah yang paling agung, yang jika berdo’a dengannya akan dikabulkan, jika meminta dengannya akan diberikan adalah nama Al Hayyu Al Qoyyum”.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 7

“Diantara para ulama ada yang berpendapat bahwa nama-nama (Allah) yang paling agung itu tidak dimaksudkan dengan 1 nama tertentu saja. Karena Nama-nama Allah itu ada 2 jenis. Pertama : Nama yang menunjukkan 1 atau 2 shifat, atau yang terkandung padanya shifat-shifat tertentu saja. Kedua : Nama Allah yang mengandung seluruh shifat-shifat mulia. Padanya terkandung seluruh shifat mulia dan indah. Jenis inilah nama yang paling mulia/utama. Karena padanya terdapat dalil yang menunjukkan makna yang lebih agung dan luas. Oleh sebab itu Allah merupakan nama Allah yang paling agung. Demikian pula dengan Ash Shomad, Al Hayyu Al Qoyyum, Al Hamid Al Majid, Al Kabir Al ‘Azhim serta Al Muhith[8].

Beliau menutup,

Tingkatan Keutamaan Diantara Nama-nama Allah 8

“Inilah 3 pendapat terkuat tentang nama Allah yang paling agung. Kesimpulannya masalah ini merupakan masalah ijtihadiyah karena tidak terdapat dalil tertentu dengan penunjukkan tegas yang mewajibkan kita untuk membatasinya”.

 

[Diringkas dari Kitab Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 86-90 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh]

19 Syawal 1437 H, 24 Juli 2016 M   |   Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] HR. Ibnu Majah no. 3856, hadits ini dihasankan syaikh Al Albani Rohimahullah.

[2] Lihat Jawabu Ahlul ‘Ilmi wal Iman hal. 197-200.

[3] Fiqh Al Asma’ wa Shifat hal. 88 terbitan Dar Ibnul Jauzi, Riyadh, KSA.

[4] idem hal. 89.

[5] At Tauhid hal. 21/II.

[6] Fiqh Al Asma’ wa Shifat hal. 89.

[7] Hal. 204/IV.

[8] Fathul Malikul ‘Alam oleh Syaikh Ibnu Sa’di hal 26-27.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply