Tauhid Tujuan, Awal dan Akhir Kehidupan

20 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tauhid Tujuan, Awal dan Akhir Kehidupan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Point 1

Ketika sesuatu diciptakan oleh penciptanya tentulah memiliki tujuan penciptaan. Sebab bila tanpa tujuan maka ciptaan tersebut adalah sebuah kesia-siaan belaka. Sudah barang tentu bila sesuatu yang diciptakan itu sangat kompleks, rumit atau bahkan tidak ada seorang pun selain penciptanya yang mampu membuatnya, maka tujuan dari penciptaan itu semakin penting pula adanya. Lebih lagi tentunya bila ciptaan itu adalah manusia yang demikian sempurna dan kompleks. Tentulah ada tujuan penciptaannya dari Sang Penciptanya yaitu Al Kholiq Allah Subhana wa Ta’ala.

Tujuan penciptaan manusia termaktub di dalam Al Qur’an Al Karim,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan Manusia melaikan untuk beribadah kepadaku”.

(QS. Adz Dzariyat [51] : 56).

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

“Kemudian Allah berfirman (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) yaitu sesungguhnya Aku (Allah) hanya menciptakan mereka untuk memerintahkan mereka agar beribadah/ bertauhid kepada Ku, bukan karena Aku butuh kepada mereka.

Ali bin Abu Tholhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma (إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) “Yaitu untuk tetap beribadah kepada Ku baik dalam keadan suka maupun tidak suka”. Penafsiran inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir”[1].

Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah Alu Syaikh Rohimahullah mengatakan,

Makna ayat : sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada Nya. Inilah tujuan penciptaan mereka. Tidaklah yang diinginkan dari mereka sebagaimana keinginan seorang tuan dari para budaknya berupa pertolongan kepada mereka terkait rezeki, makanan bahkan Allah adalah Maha Pemberi Rezki, Yang Maha Kuat, Yang memberi makan bukan yang diberi makan”[2].

Ringkasnya : Ayat ini dengan jelas dan gamblang mengabarkan bahwasanya tujuan agung diciptakannya manusia dan jin adalah untuk beribadah hanya kepada Allah atau mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Point 2

Ketika seseorang anak dilahirkan rahim ibunya, siapa pun dia sesungguhnya dia berada di atas fithrohnya yaitu tauhid. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada seorang anak yang dilahirkan melainkan dilahirkan di atas fithroh. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi”[3].

 An Nawawi Rohimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan fithroh adalah Islam[4]. Sedangkan Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan yang dimaksud dengan fithroh adalah tauhid[5].

Artinya setiap manusia yang dilahirkan fithrohnya adalah Islam mentauhidkan Allah. Namun setelah lahir kedua orang tuanya lah yang menjadikannya tetap muslim, yahudi, nashrani, majusi atau musyrikin.

 

Point 3

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu tersebut para ulama mengatakan bahwa anak yang dilahirkan dari orang tua yang muslim otomatis menjadi muslim. Sedangkan anak yang lahir dari orang tua selain muslim maka mengikuti agama orang tuanya. Nah, ketika seseorang terlahir tidak dalam kondisi sebagai seorang muslim maka kehidupan sesungguhnya baru dia mulai ketika dia mengikrarkan 2 kalimat syahadat. Yang mana potongan pertama kalimat syahadat mengandung pentauhidan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan tauhid itulah bagian utama dari agama Islam. Inilah jawaban Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika ditanya Malaikat Jibril ‘alaihissalam,

يَا مُحَمَّدُ ، أخْبرني عَنِ الإسلامِ ، فَقَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم : الإسلامُ : أنْ تَشْهدَ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله وأنَّ مُحمَّداً رسولُ الله

“Wahai Muhammad, beritahukanlah aku tentang apa itu Islam ?” Maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab, “Engkau bersyahadat/ bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah rosul/ utusan Allah ……………”[6].

Point 4

Ketika seseorang hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir maka salah satu tuntunan bagi orang yang hadir ketika itu adalah mentalqinkan kalimat tauhid kepada orang yang sakaratul maut tersebut. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Talqinkanlah orang yang sakarat diantara kalian kalimat Laa Ilaaha Illallah[7].

Penulis Shohih Fiqh Sunnah mengatakan[8],

“Maksudnya ingatkanlah orang yang akan meninggal kalimat Laa Ilaaha Illallah sehingga akhir ucapannya adalah kalimat tersebut”.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda terkait salah satu tanda husnul khotimah,

مَنْ كَانَ آخِرَ كَلامِهِ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

 “Siapa saja yang akhir ucapannya kalimat Laa Ilaaha Illallah pasti masuk surga”[9].

 

Inilah fase-fase kehidupan yang hampir dilalui seluruhnya oleh kita semua. Allahu a’lam.

Berdasarkan point point yang disampaikan sebelumnya, hampir seluruh fase kehidupan manusia terutama seorang muslim berkaitan erat dengan tauhid Laa ilaaha Illallah. Mulai dari tujuan penciptaan, keadaan ketika dilahirkan, ketika diberikan hidayah untuk masuk Islam hingga ketika malaikat maut mencabut nyawanya pun seluruhnya terkait dengan tauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Artinya setiap manusia terutama seorang muslim harus berusaha terus menerus memperkuat ketauhidan dalam seluruh fase dan aspek kehidupannya. Sebab cita-cita seorang muslim sejati adalah dia tidak akan mati kecuali dalam keadaan Islam mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ternodai sedikit pun dengan noda kemusyrikan, khurofat dan bid’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah sekali kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali ‘Imron [3] : 102).

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

“Firman Allah Ta’ala (وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) yaitu jagalah diri kalian senantiasa berada di atas Islam baik ketika sehat, selamat/ damai agar kalian mati di atasnya. Karena sesungguhnya orang yang mulia adalah orang yang membiasakan dirinya dengan kemuliannya. Sesungguhnya barang siapa hidup di atas sesuatu maka dia akan diwafatkan di atasnya. Dan barangsiapa yang mati di atas sesuatu maka dia akan dibangkitkan atasnya. Kita berlindung kepada Allah dari kebalikan hal ini”[10].

Sudah barang tentu, wafat di atas kalimat Laa Ilaaha Illallah bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu jangan pernah bosan, malas, enggan mempelajari dan memperkuat tauhid kita. Jadikan semboyan hidup anda, tauhid dahulu, sekarang dan seterusnya. Mudah-mudahan kita diwafatkan Allah dalam keadaan bertauhid kepada Nya tanpa ternoda sedikitpun. Amin.

 

اللهم آتِ نفوسنا تقواها ، زكِّها أنت خير من زكاها ، أنت وليُّها ومولاها ، اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفة والغنى

Sigambal, 29 Muharrom 1439 H / 19 Oktober 2017 M.

Menjelang tidur,

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim hal. 425/VII terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA

[2] Lihat Taisri Azizil Hamid hal. 29 terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut, Lebanon.

[3] HR. Bukhori dan Muslim.

[4] Lihat Al Minhaj.

[5] Lihat Fathul Bari.

[6] HR. Muslim.

[7] HR. Muslim.

[8] Hal. 611/I terbitan Maktabah Tauqifiyah, Mesir.

[9] HR. Abu Dawud no. 3100. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani.

[10] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim hal. 87/II.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply